Wereng Batang Coklat (Nilaparvata Lugens Stal) yang disingkat WBC sampai saat ini merupakan hama utama pada pertanaman padi, karena kerusakan yang diakibatkan cukup luasdan hampir terjadi pada setiap musim tanam,bahkan sering mengakibatkan gagal panen. Gejala Serangan Hama ini menyerang pada semua tahap pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian sampai waktu panen. Nimfa dan WBC dewasa menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman pada bagian pangkal padi. Tanaman yang terserang menjadi layu, daun menguning dimulai dari daun tua kemudian meluas dengan cepat ke seluruh bagian tanaman dan akhirnya tanaman mati. Dalam keadaan populasi tinggi dapat mengakibatkan matinya tanaman dalam satu hamparan atau dapat menyebabkan terjadinya puso. Dalam keadaan populasi wereng tinggi dan varietas yang ditanam rentan WBC dapat mengakibatkan tanaman seperti terbakar. WBC juga dapat menularkan penyakit virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput. Ledakan WBC biasanya terjadi akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat, penanaman varietas rentan, pemupukan yang kurang tepat, dan kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangan WBC, yaitu lembab dan panas. Gejala yang ditunjukkan yaitu tanaman padi menjadi kuning dan kering dengan cepat (berwarna kecoklatan seperti terbakar). Kondisi tersebut dikenal dengan istilah "hopperburn". WBC dapat merusak tanaman padi secara langsung yaitu dengan cara menghisap cairan sel tanaman, dan juga dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit kerdil rumput (grassy stunt) tipe 1 dan 2 serta kerdil hampa (ragged stunt). Penjelasan mengenai penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa akan disampaikan pada bahasan yang berbeda. Teknik Mengendalikan · Penanaman Varietas Tahan Penanaman varietas padi yang tahan terhadap WBC adalah penting untuk mencegah terjadinya ledakan hama. Salah satu contohnya adalah varietas Inpari13, Inpari 31, Inparin 33. · Penanaman Serempak Tanam serempak dilakukan untuk daerah/areal sekurang-kurangnya satu petak tersier atau satu wilayah kelompok tani dengan selisih waktu tanam 2 minggu atau selisih waktu panen empat minggu paling lama. Atau dengan kata lain varietas yang digunakan harus berumur seragam. Dengan cara ini dapat dicegah terjadinya tumpang tindih populasi antar generasi karena siklus hidup WBC dapat terputus pada saat pengolahan di antara dua periode tanam. · Pergiliran Tanaman WBC hanya dapat hidup dengan baik pada tanaman padi. Jadi untuk memutuskan siklus hidupnya dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, minimal menanam satu kali tanaman non-padi, atau dibiarkan bera sampai dua bulan setiap tahun. · Pengendalian Hayati Sesungguhnya di lapangan terjadi pengendalian secara hayati yang dilakukan oleh musuh-musuh alami WBC. Diantara musuh alami tersebut yang paling efektif mengendalikan populasi WBC adalah laba-laba predator Lycosa pseudoannulata. Laba-laba ini dapat memangsa 10-12 ekor imago atau 15-20 ekor nimfa setiap hari. Predator lain yang tercatat sebagai musuh alami WBC adalah kepik Micrivelia douglasi dan Cyrtorhinus lividipennis, kumbang Paederus fuscipes, Ophionea nigrofasciata dan Micraspis. Selain pengendalian WBC dengan musuh alami diatas, saat ini sudah dikembangkan pula agensia hayati lain yang berasal dari kelompok jamur, diantaranya adalah Beauveria bassiana, Metharizium, dan Hirsutella citriformis. Jamur Beauveria bassianatelah tersedia di pasaran/kios pertanian dengan merk dagang "Bive-TM". Jamur Beauveria bassianatersebut selain dapat mengendalikan hama WBC, juga dapat mengendalikan hama Wereng Hijau, Walang Sangit, Kepinding Tanah. Aplikasi jamur Beauveria bassianaini setiap 100 gram dilarutkan dalam 14 liter air, kemudian disemprotkan pada pertanaman padi secara merata. Setelah 4“5 hari penyemprotan serangga hama tersebut akan terinfeksi dengan membentuk lapisan putih, sehingga mengakibatkan kematian pada serangga. · Pengendalian Kimia Pengendalian kimia dilakukan apabila cara-cara lain tidak mungkin lagi dan populasi WBC sudah berada diatas ambang ekonomi. Ambang ekonomi yang telah ditetapkan adalah rata-rata 10 ekor per rumpun untuk umur tanaman padi kurang dari 40 hst, atau rata-rata 20 ekor per rumpun untuk tanaman padi lebih dari 40 hst. Penggunaan pestisida diusahakan sedemikian rupa sehingga efektif, efesien dan aman bagi lingkungan. Pada varietas tahan tidak perlu digunakan insektisida kecuali kalau ketahanannya patah, sedangkan aplikasi insektisida pada varietas rentan harus didasarkan pada hasil pengamatan. Pengendalian WBC dengan menggunakan insektisida sintetik hasilnya efektif dan efisien, namun dalam prakteknya harus berpedoman pada prinsip 6 (enam) Tepat, yaitu : tepat jenis, tepat sasaran, tepat cara, tepat waktu, tepat konsentrasi/dosis dan tepat lokasi. · Keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang disemprot atau butiran · Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Penyemprotan insektisida harus sampai pada batang padi. · Tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid. · Tepat air pelarut 400-500 liter air per hektar. Penulis: Kiswanto dan Tri Kusnanto