Loading...

Penggunaan Zat Tumbuh Rootone-F Pada Stek Panili (Meity Ngangi Penyuluh Pertanian Kota Manado)

Penggunaan Zat Tumbuh Rootone-F Pada Stek Panili (Meity Ngangi Penyuluh Pertanian Kota Manado)
Tanaman Panili adalah suatu jenis tanaman anggrek yang mempunyai arti ekonomi penting (Correl, 1956 dalam Agus,1981). Hasil dari tanaman panili umumnya digunakan sebagai bahan rempah-rempah untuk memberi aroma pada minuman, kue-kue, es krim, gula-gula dan manisan.Dewasa ini hasil panili di Indonesia 100% untuk eksport. Tanaman panili dikembangkan secara vegetatif yaitu dengan cara stek, meskipun tanaman ini dapat dikembangbiakan secara geneatif (Kartono dan Isdijono, 1977).Di Indonesia biasanya digunakan benih yang berasal dari stek dengan panjang 1 – 1,5 m. Setelah 2 – 3 minggu akarnya mulai keluar.Untuk tumbuhnya suatu tanaman, akar mempunyai peranan penting, karena selalu berfungsi sebagai penyerapan air dan mineral dari dalam tanah juga sebagai alat bernapas (Audus, 1963). Oleh karena itu untuk merangsang atau mempercepat proses pembentukan akar pada stek panili antara lain dengan menggunakan zat tumbuh Rootone-F.Zat tumbuh adalah senyawa-senyawa yang berpengaru terhadap pertumbuhan baik yang terdapat di alam maupun ditiru secara sintesis, dan dapat berarti sebagai pengahambat atau perangsang tumbuh.Zat tumbuh Rootone-F adalah zat tumbuh secara sintesis untuk perakaran yang diperdagangkan dengan mengandung beberapa bahan aktif dan diikutsertakan dengan fungisida yang berbentuk tepung , berwarna putih dan tidak larut dalam air.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berhasilnya Stek TanamanMasalah penting dalam hal ini adalah pembentukan akar. Timbulnya akar merupakan indikasi berhasil tidaknya stek itu. (Koesriningrum dan Setyati Harjadi, 1973). Pengaruh Faktor Tanaman Kemampuan membentuk akar dari stek dipengaruhi oleh umur bahan stek, hal ini tergantung dari pohon induknya. Stek dari tanaman yang berumur lebih muda akan lebih muda berakar dibandingkan dengan tanaman yang lebih tua (Koesriningrum dan Setyati Harjadi, 1973). Tetapi bila stek tanaman tersebut sangat muda dan lunak, maka proses transpirasi akan berlangsung cepat, sehingga stek akan menjadi lemah dan akhirnya mati. Jika stek diambil dari pohon yang terlalu tua maka akan diperlukan waktu yang lama untuk keluar akar (Mahlstede dan Haber, 1976). Adanya tunas dan daun pada stek berpengaruh pada pembentukan akar. Pembentukan akar tidak akan terjadi bila seluruh tunas dihilangkan. Sebab tunas berperan sebagai sumber auxin yang menstimulir pembentukan akar (Koesriningrum dan Setyati Harjadi, 1973). Adanya daun berpengaruh baik terhadap pembentukan akar. Karbohidrat yang dihasilkan oleh proses fotosintesa dapat menstimulir pembentukan akar stek. Disamping karbohidrat daun dapat pula menghasilkan auxin. Baik auxin yang dihasilkan oleh tunas maupun daun akan bergerak kebawah dan menumpuk dibagian dasar stek, yang selanjutnya menstimulir pembentukan akar stek. Disamping daun berperan dalam pembentukan akar, juga dapat mengakibatakan kehilangan air yang banyak karena proses transparansi, sehingga stek akan layu dan kering sebelum membentuk akar, hal ini biasanya diatasi dengan pemotongan sebagian dari daun-daun tersebut.Pengaruh Faktor Lingkungan Pemakaian zat tumbuh tidak dapat menggantikan keadaan lingkungan yang baik untuk perakaran. Jika keadaan lingkungan diabaikan maka pemakaian zat tumbuh tidak akan membantu pembentukan akar (Koesriningrum dan Setyati Harjadi, 1973). Kelembaban udara yang tinggi sangat berguna untuk mencegah kekeringan sebelum stek berakar, terutama untuk stek herbaceous, stek berbatang lunak dan ste batag berdaun (Poernomo, 1981). Kelembaban udara optimum untuk stek menurut Mahlstede dan Haber (1976) adalah sekitar 90% pada waktu belum terbentuk perakaran dan minimum 75% ketika mulai terbentuk akar-akar yang masih lemah. Temperatur optimum dalam media perakaran adalah sekitar 24ºC (Janick et al, 1981). Temperatur yang rendah membantu terbentuknya jaringan kallus, sedangkan jaringan yang tinggi cenderung merangsang pembentukan akar dan tunas, dan meningkatkan kehilangan air pada daun. Hal ini harus diperhatikan dalam stek tanaman, dimana terbentuknya akar mendahului pembentukan tunas (Hartmann dan Kester, 1968). Stek memerlukan perlindungan terhadap cahaya matahari secara langsung untuk mempertahankan suhu dan kelembaban udara yang optimum (Poernomo, 1981). Cahaya terutama diperlukan dalam pembentukan auxin dan karbohirat. Bila auxin dan karbohidrat telah tercukupi maka cahaya akan merintangi pembentukan akar. Maka stek yang diberi naungan akan berakar lebih banyak daripada stek yang tidak diberi naungan (Koesriningrum dan Setyati Harjadi, 1973).Penggunaan Zat Tumbuh Rootone-F Pada Stek PaniliZat tumbuh sering digunakan dalam perbanyakan tanaman dengan stek antara lain : NAA (Naphthalene Acetic Acid), IBA (Indolebutyric Acid), dan NAD (Naphthalene Acetamide).Senyawa-senyawa tersebut khasiatnya sangat baik untuk memacu pertumbuhan akar. Diantara formulasi campuran zat pendorong pertumbuhan adalah Rootone-F yang kini beredar dipasaran. Formulasi ini telah dicoba pada stump karet dengan dosis 125 mg tiap stek, telah memberikan pertambahan rata-rata akar adalah 93,5% serta menunjukkan pertambahan tinggi tanaman yang lebih besar.Zat tumbuh Rootone-F adalah zat tumbuh untuk perakaran yang mengandung beberapa bahan aktif dan diikutsertakan dengan fungisida, yang berbentuk tepung, berwarna putih, dan tidak larut dalam air. Bahan aktif yang terdapat dalam Rootone-F adalah sebagai berikut : 1-Naphthalene acetamide 0,067% 2-Methyl-1-Naphthalene acetamide 0,013% 2-Methyl-1-Naphthalene acetic acid 0,033% Indole-3-butyric acid 0,057% Thiram (Tetra methyl thiram disulfide) 4,000% Talc 95,830%Metode penggunaan zat tumbuh yang secara luas dilakukan dan praktis adalah sebagai berikut : cara pasta lanolin, cara injeksi, cara larutan encer, cara tepung, cara pencelupan cepat, cara penyemprotan tanaman induk.Cara pasta lanolin yaitu dengan memulaskan zat tumbuh dalam bentuk pasta lanolin pada permukaan potongan dasar stek.Cara injeksi adalah dengan mencelupkan stek kedalam larutan zat tumbuh yang diletakkan dalam suatu ruangan, kemudian udara ruangan tersebut diisap keluar.Dengan demikian udara dalam stek terisap keluar dan zat tumbuh masuk kedalam stek.Cara larutan encer yaitu dengan mencelupkan pangkal stek kedalam larutan zat tumbuh selama 24 jam.Cara tepung yaitu dengan menempelkan pangkal stek pada tepung zat tumbuh, setelah dicelupkan kedalam air terlebih dahulu.Cara pencelupan yaitu dengan mencelupkan pangkal stek ke dalam larutan zat tumbuh dengan konsentrasi tinggi (250 sampai 10.000 ppm) selama 5 detik.Cara penyemprotan tanaman induk yaitu dengan menyemprotkan tanaman induk dengan zat tumbuh kemudian bahan stek diambil.Pemberian zat tumbuh Rootone-F dilakukan secara “Powder Method” (cara tepung) yaitu dengan menempelkan pangkal stek pada tepung zat tumbuh setelah dicelupkan kedalam air terlebih dahulu.Menurut hasil penelitian dari Warouw (1986), mengatakan bahwa pemberian zat tumbuh Rootone-F 60 mg/stek panili memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan panjang akar, jumlah akar, panjang tunas serta meningkatkan persentase stek berakar rata-rata sebesar 87,56% dan pada hari ketujuh stek telah membentuk akar sedangkan tanpa perlakuan stek keluar akar pada hari kesepuluh.