PENDAHULUANBrucellosis disebabkan oleh bakteri Brucella yang secara primer menyerang sapi, kambing, domba, babi dan secara sekunder bisa menyerang hewan lainnya termasuk manusia. Hal ini menyebabkan penyakit ini bersifat zoonosis yaitu bisa menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Brucellosis merupakan salah satu penyakit reproduksi pada ternak sapi. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh brucellosis sangat besar, walaupun mortalitasnya kecil. Kerugian dari akibat penyakit ini dapat berupa keluron, anak hewan yang dilahirkan lemah kemudian mati, terjadinya gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran (mandul) temporer atau permanen.Pada sapi dikenal sebagai penyakit Keluron menular atau penyakit Bang. Walaupun penyakit Brucellosis memiliki mortalitas (kematian) yang rendah, namun dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar. Kerugian ekonomi dapat berupa keguguran, anak yang dilahirkan lemah dan kemudian mati, gangguan alat reproduksi yang menyebabkan kematian temporer atau permanen. Kerugian karena penyakit ini pada sapi perah berupa turunnya produksi air susu. Kerugian fatal penyakit ini yaitu adanya sumber penularan sumber penyakit kepada ternak lainnya secara permanen dari ternak yang sudah terinfeksi bakteri ini.Gejala KlinisKeluron menular pada kebuntingan 5 s.d 8 bulan yang diikuti kemajiran (infertile) temporerSapi dapat mengalami keluron satu, dua atau tiga kali, kemudian memberikan kelahiran normal, sapi terlihat sehat walaupun mengeluarkan cairan vaginal yang bersifat infeksius. Bahkan ada beberapa ternak sepanjang hidupnya tidak mengalami keluron tapi menularkan penyakit keluron pada ternak lain.Cairan janin yang keluar saat terserang keluron terlihat keruh dan dapat merupakan sumber penularan penyakit. Cairan janin terlihat keruh berwarna kuning kecoklatan dan kadang-kadang bercampur nanah.Pada kelenjar susu tidak menunjukkan gejala klinis (normal) meskipun di dalam susunya didapatkan bakteri brucellaPada hewan jantan menunjukkan gejala epididimitis dan orchitis :Pada babi jantan bisa menyebabkan kemajiran (mandul)Pembengkakan persendian lutut (karsal dan tarpal)Masa inkubasi penyakit ini belum diketahui dengan pasti. Pada sapi berkisar antara 2 minggu – 8 bulan atau lebih lamaPerubahan pada sapi yang terlihat adalah penebalan pada plasenta dengan bercak-bercak merah pada permukaan lapisan chorion.Ada kalanya pedet mati dengan perkembangan yang tidak normalDiagnosa PenyakitDiagnosa penyakit sangat diperlukan untuk dapat segera melakukan tindakan penanggulangan dan pengendalian penyakit. Peneguhan diagnosa dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan :Screening test dengan uji MRT (Milk Ring Test)Antigen MRT mengandung Brucella abortus strain 99 (Weybridge) yang diwarnai dengan pewarna haematoxilin dalam penyangga asam pH 3,3 – 3,7 dan dengan packed cell volume 4%.Tabung yang digunakan berdiameter 8 mm, dengan ketinggian cairan susu dalam tabung minimal 15 mm. Air susu hasil koleksi sebaiknya tidak beku, penyimpanan cukup di refrigerator (4?c) . Volume air susu sapi asal individu adalah 1 ml dan air susu asal bulk tank adalah 3 ml.Cara analisa MRT :Sesuaikan antigen dengan suhu kamar dan kocok dengan baik.Tambahkan 1 tetes (30 µl) antigen ke dalam 1 ml susu yang sudah disimpan selama 24 jam atau lebih pada suhu 4ºC.Inkubasikan pada suhu 37ºC selama 1 jam.Pembacaan Hasil MRTReaksi positif ditandai dengan terbentuknya gelang biru tua pada susu di permukaan tabung.Reaksi dinyatakan negatif bila lapisan krim dibagian atas berwarna putih dan bagian susu di bawahnya berwarna biruSampel dari sapi yang baru divaksinasi atau sampel dari susu abnormal (colostrum, mastitis) akan memberikan hasil false-positive.Uji lanjutan pertama; RBT (Rose Bengal test)Dilakukan dengan cara mengambil beberapa sampel darah sapi. Prosedur penelitian dilakukan dengan cara mereaksikan antara serum darah sapi dan antigen RBT yang kemudian dilakukan homogenisasi dengan cara menggoyangkan serum dan antigen selama 4 menit hingga terjadi proses aglutinasi. Sapi dinilai positif Brucella jika terjadi penggumpalan yang jelasUji lanjutan kedua dengan CFT (Complement Fixation Test)CFT adalah tes medis imunologi yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik atau antigen spesifik dalam serum. Sistem CFT adalah sistem protein serum yang bereaksi dengan antigen-antibodi kompleksPencegahan penyakitSisa-sisa abortusan berupa cairan ketuban harus dibersihkan dan dibuang ke dalam lubang limbah, lalu kandang disuci hamakan.Foetus dan plasenta dibakar lalu dipendam.Sapi yang positif tertular harus segera dipisahkan dengan ternak lainnya.Hindari perkawinan antara pejantan dan betina yang terserang keluron.Anak – anak yang lahir dari induk yang terserang keluron sebaiknya diberi susu dari induk yang bebas brucellosisKandang – kandang ternak penderita harus disuci hamakan dengan desinfektan 2x sehari selama 1 minggu. Kandang harus dikosongkan dan dikeringkan selama 1 bulan.Ternak pengganti yang tidak mempunyai sertifikat “Bebas Brucellosis” dapat dilanjutkan dipelihara apabila setelah dilakukan uji serologis dalam waktu 30 hari menunjukkan hasil negatifPengendalian dan pemberantasan penyakitAda dua strategi pemberantasan berdasarkan tingkat kejadiannya yaitu apabila prevalensi reaktor ≥ 2% dengan kategori tertular berat, maka metode pemberantasannya dengan cara vaksinasi. Sedangkan pada daerah kategori tertular rendah (prevalensi < 2%), ditetapkan dengan teknik uji dan potong bersyarat (test and slaughter).Usaha pencegahan dan pengendalian brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada pemberantasan penyakit dengan pengendalian populasi sapi bebas dari agen penyakit. Oleh karena itu semua usaha Dinas Peternakan diarahkan pada pencegahan berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi brucellosis tinggi. Tujuan sementara vaksin untuk menurunkan jumlah keguguran (Siregar,2000)Vaksin yang digunakan dalam program pengendalian brucellosis pada sapi adalah vaksin B. abortus strain 19 (S19) dan vaksin RB 51. Vaksin B. abortus S19 merupakan strain (galur) hidup yang sudah dilemahkan dan memiliki sifat stabil, dan memberikan proteksi terhadap infeksi 70-80%. Namun vaksin ini menyebabkan permanen antibodi sehingga menyebabkan reaksi positif palsu pada uji serologis terhadap infeksi Brucella. Oleh karena itu digunakan vaksin RB 51 yang merupakan mutan kasar dari B. abortus virulen starin 2308 (S2308). Ternak yang divaksin dengan RB 51 tidak terdeteksi dengan uji serologi standar untuk diagnose brucellosis dan aman apabila diberikan pada sapi betina bunting. Hanya saja vaksin RB 51 masih harus impor dan harganya relatif mahal daripada vaksin S 19 yang sudah dapat diproduksi oleh Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA).