Loading...

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT JENGKOL DAN CABAI MENJADI INSEKTISIDA

  PEMANFAATAN LIMBAH KULIT JENGKOL DAN CABAI MENJADI INSEKTISIDA
PENDAHULUAN Tanaman Jengkol merupakan termasuk suku polong-polongan. Buahnya berupa polong dan bentuknya gepeng berbelit membentuk spiral, berwarna lembayung tua. Biji buahnya berkulit ari tipis dengan warna cokelat mengkilap. Jengkol juga dapat menimbulkan bau tidak sedap pada urin setelah diolah dan diproses oleh pencernaan, terutama bila dimakan segar sebagai lalap. Jengkol diketahui dapat mencegah diabetes dan bersifat diuretik dan baik untuk kesehatan jantung. Bahkan dapat dijadikan sebagai kompos maupun pestisida nabati. Di Provinsi Lampung tanaman jengkol biasa ditanam secara polikultur di kebun atau di pekarangan yang limbahnya belum dimanfaatkan secara optimal. Sementara diketahui bahwa dalam budidaya tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan tidak lepas dari serangan hama dan penyakit yang berdampak pada peningkatan produksi, selama ini petani mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan insektisida kimia disamping harga yang tinggi juga berdampak pada lingkungan. Selain limbah kulit jengkol, di pasar tradisional juga banyak menghasilkan limbah cabai (cabai busuk) yang sudah tidak layak konsumsi. Oleh karena itu, penggunaan insektisida organik yang ramah lingkungan merupakan salah satu program yang perlu dikembangkan, salah satu bahan yang dapat digunakan untuk pembuatan insektisida organik adalah limbah jengkol, yang di dalam kulitnya mengandung (terpenoid, saponin, asam fenolat serta alkaloid) ampuh untuk melindungi tanaman dari serangan hama terutama untuk mengusir semut, ulat, serangga kecil serta belalang. Keuntungan pestisida nabati Mudah terurai di alam,sehingga tidak mencemarkan lingkungan( ramah lingkungan) Relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang Tidak meracuni dan merusak tanaman Dosis yang di gunakan tidak terlalu mengikat dan berisiko Tidak menimbulkan kekebalan pada serangga Kekurangan Pestisida Nabati : Cepat terurai, daya kerja lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering Tidak bisa di simpan dalam waktu yang lama Kurang praktis karena harus membuatnya terlebih dahulu,dan waktu yang dibutuhkan pun agak lama. Bahan –bahan yang dipergunakan dalam pembuatan pupuk cair organik adalah : Limbah Jengkol Limbah Cabai Limbah Urin ternak Air Cara Pembuatannya: Langkah-langkah pambuatan insektisida organik antara lain: Penghalusan limbah kulit jenkol dan limbah cabai. Pembuatan Insektisida organik dimulai dengan persiapan bahan awal yaitu 30 kg limbah jengkol dan 30 kg limbah cabai Bahan tersebut kemudian dicacah-cacah (diblender) hingga berukuran cukup halus. Proses perendaman. Limbah jengkol dan limbah cabai merah yang telah halus, kemudian dimasukkan dalam drum yang berisi 300 liter air. Tutup rapat selama 35 hari. Urine hewan ternak masukkan dalam drum yang lain sebanyak 150 liter dan diendapkan selama 5 minggu. Urine tersebut dipisah dari larutan jengkol dan limbah cabai. Penyaringan , setelah 35 hari kedua larutan tersebut disaring menggunakan kawat kasa 80 mesh. Penyaringan ini dimaksudkan agar tidak ada kotoran yang terbawa serta agar . Tampilan insektisida lebih bersih dan menarik. Setelah itu dicampur menjadi satu dengan larutan urine (endapan urine). Setelah mengalami proses penyaringan insektisida organik dapat disimpan di jerigen di ruang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung Telah siap untuk digunakan Penyusun : Nasriati Sumber : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 21 Nomor 79 Tahun XXI Maret 2015