Loading...

ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
Oleh : Sri Warono Perubahan iklim global akan mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian, yaitu: (a) naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembaban dan dinamika atmosfer, (b) berubahnya pola curah hujan dan makin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti EI-Nino dan La-Nina, dan (c) naiknya permukaan air laut akibat pencairan gunung es di kutub utara. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Strategi Adaptasi dalam Menghadapi Perubahan Iklim 1. Panen Hujan Teknologi Panen Hujan didasarkan atas prinsip penampungan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau untuk pengairan tanaman. Teknologi panen hujan yang sudah berkembang penerapannya embung dan dam parit. 2. Istana Cacing Istana Cacing/Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 - 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. KEUNGGULAN DAN MANFAAT Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara (1) meningkatkan daya resapan air, (2) mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan (3) memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria. Kesiapan Varietas Unggul Tanaman Pangan Menghadapi Dampak Perubahan Iklim Padi Toleran Kekeringan Silugonggo, potensi hasil 5,5 t/ha, umur 85-90 hari, tekstur nasi agak pulen, tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, dapat ditanam di lahan sawah dan lahan kering. Padi Toleran Genangan GH TR 1, IR 69502-SRN-3-UBN-1-8-3, IR 70181-5 PMI-1-2-B-1, IR 70213-9-CPA-12-UBN-2-1-3-1, dan IR 70512-2-CPA -2-1-8-1-2. Padi Rendah Emisi Gas Metan Ciherang, potensi hasil 8,5 t/ha, umur 116-125 hari, tekstur nasi pulen, tahan wereng coklat biotipe 2, agak tahan biotipe 3, tahan hawar daun bakteri strain III dan IV, cocok untuk lahan irigasi dataran rendah. Cisantana, potensi hasil 7,0 t/ha, umur 118 hari, tekstur nasi pulen,agak tahan wereng coklat biotipe 2 dan 3, cukup tahan hawar daun bakteri strain III dan IV, dapat dikembangkan pada lahan irigasi kurang subur. Tukad Balian, potensi hasil 7,0 t/ha, umur 105-115 hari, teksturnasi pulen, agak tahan wereng coklat biotipe 3, tahan penyakit tungro, agak tahan hawar daun bakteri strain III dan IV.