Loading...

Analisis Penyakit Timpani

Analisis Penyakit Timpani
Penyakit kembung (Timpani) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang ternak ruminansia terutama sapi dan domba. Pada kasus yang berat dapat berakibat fatal dan kematian pada ternak. Timpani pada ternak dapat diakibatkan oleh banyak faktor. Namun secara garis besar, timbulnya kembung disebabkan oleh akumulasi gas yang berlebihan di dalam rumen hewan ruminansia. Pencernaan bahan makanan di dalam perut hewan ruminansia dilakukan oleh mikroorganisme di dalam perut ternak. Mikroorganisme yang secara alamiah ada di dalam perut yang bertugas melakukan pencernaan awal terhadap bahan makanan dan terutama protein. Proses pencernaan protein oleh mikroorganisme ini akan menghasilkan berbagai enzim dan asam amino yang dapat diserap oleh dinding usus ternak. Tanpa adanya mikroorganisme ini dapat dipastikan proses pencernaan makanan di dalam perut ternak tidak akan dapat terjadi. Namun di sisi lain, proses pencernaan bahan makanan oleh mikroba juga mengeluarkan eksreksi lain berupa gas yang sebagian besar adalah karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas inilah yang apabila tidak sempat dikeluarkan melalui anus dengan cara berkentut atau dengan bersendawa akan terakumulasi didalam rumen. Seringkali kembung ringan seperti ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila kejadian berlanjut dan tidak ditangani maka akumulasi gas terjebak ini akan membentuk buih/busa (froathy bloat) yang akan semakin sulit bagi ternak untuk mengeluarkannya (Blowey RW. 2004) Penyebab perut kembung antara lain: Pemberian leguminosa (kacang-kacangan) secara berlebihan. Daun legum yang mengandung kadar air dan protein yang tinggi menghasilkan asam-asam yang tidak mudah menguap seperti sitrat, malat dan suksinat. Asam-asam ini akan segera menurunkan pH rumen dalam waktu 30-60 menit pasca pemberian daun legum. Pemberian rumput terlalu muda secara berlebihan atau karena tidak dilayukan. Adanya sumbatan pada kerongkongan, selain itu bloat dapat juga terjadi pada ternak yang pergerakannya terbatas. Merumput pada lahan yang baru dipupuk, makan buah terlalu banyak, memakan racun dan ubi atau tanaman sejenis yang dapat menahan keluarnya gas dari perut. Gejala Klinis timpani: Ternak nampak resah Ada rasa sakit Sisi perut sebelah kiri nampak menonjol (membesar) disbanding normalnya. Bila perut ditepuk-tepuk mirip suara drum Berbaring pada posisi bagian kanan bawah. Ternak cenderung menendang dengan kaki belakang. Pengobatan terhadap penyakit Timpani: 1.Anti Bloat (bahan aktif: Dimethicone). Dosis sapi/ kerbau: 100 ml obat diencerkan dengan 500 ml air, Kambing/ domba: 25 ml obat diencerkan dengan 250 ml air, kemudian diminumkan. Pencegahan terhadap penyakit Timpani: Pemberian pakan sesuai aturan, misalnya komposisi rumput danleguminosa yang benar Hijauan yang akan diberikan hendaknya dilayukan terlebih dahulu Jika ada ternak yang kembung, upayakan untuk tetap berdiri atau bergerak Jika mungkin mulut tetap terbuka atau tetap usahakan Mengunyah supaya air liur keluar, misalnya dengan ikatkan tali atau kayu dalam mulut supaya ternak mengunyahnyadan air liur keluar Selama musim hujan sebaiknya ternak diberi pakan kasar sebelum dilepas di padang penggembalaan yang basah Ternak jangan digembalakan terlalu pagi ketika rumput masih basah dan hindari memberi ternak dengan rumput atau daun-daun muda dan tanaman leguminosa (kacang-kacangan) Jangan membiarkan ternak terlalu lapar Jangan memberikan makanan yang sudah rusak/busuk/berjamur Hindari pemberian rumput/ hijauan yang terlalu banyak, lebih baik memberikan sedikit demi sedikit tetapi sering kali. Ditulis oleh; Firmadona Oktavia