Mengingat Karet merupakan salah satu komoditas unggulan yaitu selain sebagai komoditi ekspor juga sekaligus sebagai sumber penghasil devisa negara, maka harus terus dikembangkan dan dipelihara dengan baik secara intensif. Pemeliharaan tanaman karet harus menjadi perhatian bersama untuk mencegah terjadinya penurunan produksi yang berarti akan menurunnya sumber devisa negara. Agar berproduksi dengan baik, tanaman karet harus dipelihara secara intensif. Adapun kegiatan pemeliharaan tanaman karet meliputi aspek-aspek sebagai berikut:1. PenyulamanKegiatan penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1-2 tahun dimana saat tersebut sudah terlihat tanaman yang masih hidup atau sudah mati. Mengingat tanaman yang disulam sudah berumur 1-2 tahun, maka bibit yang digunakan untuk menyulam berupa bibit stum berumur 1-2 tahun agar pertumbuhan tanaman seragam. Yang perlu diperhatikan adalah jika penyebab kematian tanaman adalah serangan bakteri atau jamur, maka tanah bekas tanaman harus diberi fungsida. Penyulaman dilakukan pada pagi hari (pukul 06.00-09.00) atau sore hari pukul 15.00 -17.00, saat cuaca tidak terlalu panas untuk mengurangi resiko kematian bibit. 2. PenyianganAda dua cara penyiangan yaitu secara manual dan secara kimiawi. Secara manual dilakukan dengan menggunakan peralatan penyiangan seperti cangkul atau parang. Sementara dengan cara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan herbisida ataubahan kimia pembrantas gulma. Dosis dan frekuensi penyemprotan disesuaikan dengan jenis herbisida/obat gulma yang dipergunakan supaya tidak terjadi pemborosan.3. PemupukanPemupukan tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu manual circel dan chemical strip weeding. Dengan cara manual circle, yaitu dibuat lubang melingkari tanaman dengan jarak sesuai dengan umur tanaman. Untuk tanaman berumur 3-5 bulan, melingkari tanaman berjarak 20-30cm, umur 6-10 bulan berjarak 20-45 cm, umur 11-20 bulan dengan jarak 40-60 dan umur lebih 48 bulandibuat jarak 50-120 cm. Lubang dibuat dengan kedalaman 5-10 cm kemudianpupuk ditaburkan kedalam lubang kemudian ditutup dengan tanah.Pemupukan dengan cara chemical strip weeding yaitu pupuk diletakkan pada jarak 1-1,5 cm dari tanaman, kemudian tanah digali sedalam 5-10 cm, kemudian pupuk dimasukkan kedalam kemudian ditutup dengan tanah.Waktu pemupukan sebaiknya tidak dilakukan pada musim hujan, karena pupuk akan tercuci. Sebaiknya pemupukan dilakukanpada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Adapun jenis pupuk yang digunakan adalah Urea, DS dan KCl dengan dosis disesuaikan dengan jenis tanah dan fase pertumbuhan tanaman. 4. Seleksi Seleksi tanaman dilakukan bila ada tanaman yang sakit. Jika ada tanaman yang sakit, maka harus ditebang dan dibongkar sampai ke akar-akarnya agar penyakit tidak menular ke tanaman lainnya5. Pemeliharaan tanamanpenutupTanaman penutup sebagai pencegah erosi dan mempercepat matang sadap, perlu dilakukan pemeliharaan dengan cara pemupukan dan pemangkasan. Pupuk yang digunakan sebaiknya adalah pupuk kompoos yang telah matang dengan dosis 4-5 ton/ha, dengan cara ditaburkan disela-sela tanaman. Jika pertumbuhan tanaman penutup terlalu pesat, maka perlu dikendalikan dengan cara pemangkasan dengan menggunakan parang atau sabit. 6. Pengendalian Hama dan Penyakita. Hama1) Hama pada fase pembibitan antara lain: a) Tikus, cara pengendaliannya dengan pemberian racun tikus atau dilakukan pencegahan dengan memasang perangkap. b) Belalang, pengendaliannya dengan cara menyemprotkan insektisida Thiodan dengan dosis 1,5 ml/liter air yang dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dengan intesitas serangan hama. c) SiputPengendalian hama siput dilakukan secara mekanis dengan cara dikumpulkan dan dibakar. Atau dengan cara kimiawi dengan membuat umpan dari campuran dedak, kapur, semen dan merdex dengan perbandingan 16:5:3:2. Campuran ini dilembabkan dengan air kemudian diletakkan di areal pertanaman, dan bila siput makan umpan tersebut akan mati. d) Uret tanah.Hamauret tanah dibasmi dengan menaburkan Furadan 3G, Diazinon 10G atau Basudin 10G disekitar tanaman dengan dosis sekitar 10gr/pohon atau sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Selain dengan cara kimiawi, uret dapat dikendalikan dengan cara mekanis yaitu dengan cara dikumpulkan kemudian dibakar.2) Hama pada fase penanaman dan sampai produksia) RayapPengendalian rayap dapat dilakukan dengan cara mekanis dan kimiawi. Cara mekanis dilakukan dengan membungkus ujung stum dengan plastik agar rayap tidak memakan tanaman, atau dengan menancapkan umpan berupa 2-3 batang ubi kayu dengan jarak 20-30 cm dari biibit, sehingga rayap lebih suka makan dari pada bibit karet.b) Kutu Pengendalian hama kutu dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida Thiodan dengan dosis 1,5 ml/liter air yang dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dengan intesitas serangan hama. b. Penyakit1) Penyakit akar putihPengendalian penyakit akar putih yang menyerang tanaman karet dilakukan dengan cara pencegahan dengan menanam bibit yang sehat dan dari klon yang resisten terhadap penyakit akar ini. Pada tanaman yang telah diserang dilakukan dengan membuka dan membersihkan leher akar sampai kedalaman 30 cm dari benang-benang jamur yang menempel, Atau dengan memotong akar yang terserang kemudian dibakar. Secara kimiawi dilakukan dengan menaburi dengan T. Harzianum dan pupuk ZA. Untuk tanaman yang terserang berat tanaman harus dibongkar dan dibakar.2) Penyakit pada batanga) Jamur upasPenyakit dikendalikan dengan mengoleskan fungsida pada bagian batang yang terserang. Kulit yang busuk harus dikupas dulu kemudian dioles dengan fungisida sampai 30 cm keatas dan kebawah dari bagian yang sakit. Pengendalian dapat dilakukan pula dengan perbaikan drainase, pemotongan cabang yang telah mati dan memusnahkan potongan batang yang terserang dengan cara dibakar.b) Kanker garis pad bidang sadapPencegahan dilakukan dengan melakukan penyadapan jangan terlalu dalam dan tidak terlalu dekat dengan tanah. Sebelum melakukan penyadapan,pisau sadap agar diolesi dengan fungisida Difolatan 4F1% atau Difolatan 80WP 2%. Atau dapat dilakukan denganmengoleskan fungisida Difolatan 4F1% atau Difolatan 80WP 2%, Demosan 0,5% atau Actidione 0,5% di jalurselebar 5-10 cm diatas atau dibawah alur sadap dengan menggunakan kuas segera setelah dilakukan penyadapan atau paling baik setelah pemungutan lateks yang belum membeku. 3) Penyakit pada dauna) Penyakit collectrichum pada daun karet disebabkan oleh cendawan collectrichum gloesporoides ini dapat dicegah dengan cara:a) mempercepat pembentukan daun-daun muda dengan memberikan pupuk secara intensif; b) dilakukaan pengamatan pada tanaman sedini mungkin agar jika terjadi serangan segera bisa dikendalikan dengan cepat. Pengendalian dilakukan dengan melakukan penyemprotan fungisida Dithane M 45 0,25%,Manzate M 200 0,2%, Cobox 0,5% dan Capravit 0,5% seminggu sekali selama lima kali. Khususnya penggunaan Cobox dan Capravit tidak dilakukan pada saat penyadapan karena bisa menurunkan mutu lateks.b) Penyakit phytoptora disebabkan oleh cendawan phytoptora botriosa ini dapat dilakukan pencegahannya dengan tidak menanam klon-klon yang peka terhadap penyakit ini seperti PB 86, PRIM 600, tjir 1, atau PR 107. Sedang pengendaliannya dilakukan dengan menyemprotkan fungisida Cobox atau Cupravit dengan dosis dan frkuensi yang bisa dibaca di kemasannya. Penyemprotan disarankan dengan menggunakan mist blower. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) S. Damanik, M. Syakir dan Siswanto, 2012. Budidaya dan Pascapanen Karet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, kementeriaPertanian; 2) Ir. Nurhawaty Siagian, MS, 2006. Pembibitan dan Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Medan; 3) Dari berbagai sumber