Loading...

Beberapa Kendala Rendahnya Produksi Kedelai

Beberapa Kendala Rendahnya Produksi Kedelai
Kedelai merupakan tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya. Pasokan kedelai di Indonesia cenderung semakin tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri karena permintaan yang semakin meningkat. Sekalipun kedelai dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana. Saat ini produksi kedelai di Indonesia hanya mencukupi sekitar 45 persen kebutuhan, selebihnya dipenuhi melalui impor. Sekitar 20 tahun terakhir di Indonesia masih terus melakukan impor kedelai, terutama dari Amerika Serikat, sehingga tidak heran apabila kedelai impor telah mendominasi sebagai bahan baku olahan pangan. Ini merupakan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan, dimana persentase jumlah impor terhadap konsumsi, menunjukkan persentase yang semakin meningkat. Besarnya angka impor tersebut merupakan salah satu indikator betapa besar kebutuhan kedelai untuk memenuhi kebutuhan penduduk melalui berbagai jenis produk olahan. Saluran pemasaran kedelai yang terlalu panjang dan kebijakan harga yang tidak mendukung petani, mengakibatkan keuntungan yang diperoleh petani sangat sedikit. Ini mengakibatkan kebanyakan petani memilih untuk mengalih-fungsikan lahan kedelai mereka ke komoditi tanaman lainnya. Masih lemahnya nilai tawar petani dan sistem informasi serta lemahnya kelembagaan kelompok tani menyebabkan daya saing petani kedelai lokal sangat lemah. Ada berbagai kendala yang perlu diperhatikan antara lain:1. Kendala internal dan eksternal berdasarkan aspek pemasaran. Kendala internal adalah: a. daya tawar petani lemah, b. sistem informasi pasar lemah, dan c. belum adanya tarif impor. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah a. tingginya impor kedelai dengan harga murah, b. rantai pemasaran yang panjang sehingga tidak efisien, dan c. biaya transportasi yang mahal. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen perlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menurun. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar, yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan.2. Belum digunakannya jenis benih unggul oleh semua petani, juga menyebabkan rendahnya produktivitas kedelai. Hingga kini penggunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. Penyebab belum banyak menggunakan benih unggul juga banyak penyebabnya, seperti tidak tersedianya benih unggul baru di lapangan, tidak adanya modal, mengikuti seleranya petani dan sebagainya.3. Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: a. kehilangan hasil tinggi, b. penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai, dan c. modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. Teknologi pascapanen yang belum memadai menambah alasan rendahnya produksi kedelai lokal. Adanya produksi kedelai lokal tidak memenuhi permintaan industri pengolahan kedelai, menyebabkan semakin tergantungnya industri-industri pengolahan kedelai pada kedelai impor. Selain itu rendahnya kualitas kedelai lokal dari segi kebersihan dan kadar air menyebabkan industri-industri pengolahan kedelai cenderung memilih kedelai impor yang tingkat kebersihannya lebih tinggi dan kadar air yang lebih rendah. Selain itu, ancaman eksternalnya adalah: a. belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu, b. makin meningkatnya biaya operasional alsintan, dan c. tenaga kerja pengolah relatif terbatas. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. Belum berlakunya tarif impor menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak, sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai, umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih dengan cara tradisional. Panen dengan menggunakan sabit dan proses pengeringan sebagian besar masih di lapang. Sedangkan pemakaian alat mesin untuk panen dan pengeringan, sebagian besar petani belum menggunakan. Keterbatasan modal, menyebabkan petani kedelai tidak mampu untuk membeli alat mesin. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Selain itu terkait dengan panen dan pasca panen, petani ada yang memanen lebih awal atau terlambat. Karena ingin segera menanam tanaman berikutnya dalam urutan pola tanam, petani mempercepat panen kedelainya, atau sebaliknya karena belum tersedia tenaga panen atau cuaca belum memungkinkan untuk menjemur, petani terpaksa menunda panen. Terkait dengan masalah tersebut, untuk mengurangi kerusakan atau kehilangan biji di lapangan, petani menyukai varietas yang polongnya tidak mudah pecah. 4. Persaingan penggunaan lahan dengan komoditi lainnya, seperti jagung yang merupakan komoditi alternative unggulan setelah beras, diduga juga menjadi penyebab turunnya areal panen kedelai. Dalam hal ini kenaikan harga jagung akan mendorong petani untuk menanam komoditas tersebut, yang konsekuensinya akan mengurangi areal tanam.Demikian banyaknya kendala yang mempengaruhi rendahnya produksi kedelai di Indonesia, semoga bisa dijadikan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.Penyunting : Yulia Tri SEmail:yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber: 1. http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/789-teknik-prosesing-penyimpanan-dan-teknologi-pasca-panen-benih-kedelai2. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jejak dengan judul Strategi Pengembangan Usahatani Kedelai Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Indonesia, ditulis oleh Bayu Rizky Pratama?, Hardiansyah Nur Sahaya dariFakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia 3. http://sigmaompex.blogspot.co.id/2015/07/produksi-padi-jagung-dan-kedelai.html