Loading...

Belajar Mengolah Hasil Pekarangan dalam Pertemuan Dharma Wanita BKP3

Belajar Mengolah Hasil Pekarangan dalam Pertemuan Dharma Wanita BKP3
Pada Jumat (14/08) lalu, bertempat di ruang rapat BKP3 Kab. Bantul, Dharma Wanita BKP3 Kab. Bantul telah menyelenggarakan pertemuan rutin yang dihadiri pengurus dan anggota. Setelah dibuka oleh pembawa acara Ibu Tri Mulyani dari BPP Piyungan kemudian hadirin bersama-sama menyanyikan Mars Dharma Wanita. Selanjutnya disambung pembacaan notulen hasil pertemuan sebelumnya dan sambutan dari Ketua Dharma Wanita BKP3, Ibu Wardiani Pulung Haryadi. Kepala BKP3 Ir. Pulung Haryadi, MSc., yang berkesempatan hadir dalam acara tersebut, menyampaikan harapannya agar dengan adanya pertemuan maka dapat terjalin kebersamaan dan kerjasama antar sesama anggota Dharma Wanita, mempererat hubungan kekeluargaan serta menambah wawasan dan keilmuan. Dalam pertemuan kali ini dibahas rencana pengukuhan Pengurus Dharma Wanita BKP3 Kab. Bantul untuk masa bakti 2014-2015 pada September mendatang. Sebagaimana misi organisasi Dharma Wanita yaitu untuk terwujudnya kesejahteraan anggota dan keluarganya melalui peningkatan kualitas sumber daya anggota, maka dalam setiap pertemuan diisi hal bermanfaat yang dapat menambah pengetahuan anggota. Kali ini Ibu Warjiyati dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Hasil, Karangasem, Desa Sitimulyo, Kec. Piyungan memaparkan tentang cara pengolahan salah satu tanaman yang biasa tumbuh di pekarangan, yaitu lidah buaya. Tanaman ini selain sangat mudah ditanam dan dikembagbiakkan, juga memiliki beragam kegunaan khususnya bagi kesehatan. Lendirnya dapat dipakai sebagai masker alami untuk kulit wajah, perawatan rambut bahkan mengobati luka. Dengan mengkonsumsi olahan lidah buaya ada beberapa khasiat yang diperoleh antara lain dapat mengenyangkan sehingga baik untuk menjaga berat badan karena kandungan serat alaminya, membantu melancarkan pencernaan dan menjaganya supaya tetap sehat, serta mengurangi kadar gula darah. Oleh ibu Warjiyati diperagakan cara membuat manisan lidah buaya dimulai dengan memilih pelepah daun lidah buaya yang sudah besar dan baik, kemudian dikupas kulit luarnya sehingga menyisakan daging yang serupa jel lalu dicuci dengan air mengalir hingga hilang lendirnya. Kemudian direndam dalam air kapur atau air garam sekitar 30 menit. Setelahnya dicuci kembali di air mengalir lalu dipotong-potong sesuai selera. Air direbus hingga mendidih kemudian disiramkan pada potongan lidah buaya, setelah dingin potongan diremas-remas lalu ditiriskan. Untuk larutan manisannya gula dilarutkan dalam air matang sesuai selera dan ke dalamnya dapat ditambahkan pewarna makanan buatan yang aman ataupun daun suji. Sebagai aroma dan sekaligus pengawet alami bisa pula diberi air jeruk nipis. Jika tidak dikonsumsi saat itu maka agar awet lebih lama manisan ini disimpan dalam freezer. Dijelaskan oleh ibu Warjiyati bahwa kelompoknya selain mendapat pembinaan dari para penyuluh BPP Piyungan, juga pernah memperoleh bimbingan dari UGM dan STPP Yogyakarta sehingga mampu memanfaatkan dan mengolah tanaman dan buah-buahan lainnya yang sering dijumpai di pekarangan seperti pepaya dan labu. Mereka juga telah mampu mengolah bahan-bahan organik menjadi pupuk. Setelah praktek pemuatan manisan, turut dipasarkan pula produk lain yang diproduksi KWT Ngudi Hasil seperti kerupuk lidah buaya dan rengginan, yang cukup menarik minat para ibu-ibu anggota Dharma Wanita. (Primasari M., SP -admin BKP3 Kab. Bantul)