Loading...

Mempertahankan Mutu Buah Apel Setelah Panen

Mempertahankan Mutu Buah Apel Setelah Panen
Buah apel segar setelah dipanen tidak langsung diterima pembeli, melainkan masih memerlukan beberapa perlakuan/penanganan untuk mempertahankan mutu buah apel setelah dipanen/dipetik dari pohonnya. Penanganan buah apel segar setelah panen melalui beberapa tahapan, yaitu: pengumpulan buah di tempat penampungan, sortasi dan grading, penyimpanan, pengemasan serta pengirimanan. 1. Pengumpulan buah di tempat penampungan Buah apel segar yang baru dipetik ditempatkan dalam wadah keranjang yang terbuat dari bambu, lalu diangkut ke tempat atau gudang untuk penampungan sementara. Dalam pengangkutan harus hati-hati jangan sampai buah apel ada yang jatuh atau tertekan, karena dapat rusak memar atau luka dan akan menurunkan mutu buah. Setelah sampai di tempat penampungan, buah apel segar disortir dan digrading. 2. Sortasi dan grading Sebelum disortir dan digrading, buah apel dibersihkan dari kotoran yang melekat pada kulit buah. Pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati dijaga agar buah apel tidak rusak. Selanjutnya dilakukan sortasi dengan tujuan untuk memisahkan buah apel berdasarkan mutu dan ukuran. Sortasi berdasarkan mutu adalah memilih dan memisahkan buah apel yang baik dan memastikan tidak ada yang rusak karena luka, memar, dan lainnya. Perlakuan ini dilakukan secara manual dengan pengamatan mata dan menggunakan tangan. Dari hasil pilihan buah apel yang bermutu baik, lalu dilakukan sortasi berdasarkan ukuran dengan memilih dan memisahkan buah apel ke dalam 4 (empat) kelas ukuran atau grade, yaitu kelas A (per kg berjumlah 3-4 buah), kelas B (per kg berjumlah 5-7 buah), kelas C (per kg berjumlah 8-10 buah), dan kelas D (per kg berjumlah 11-15 buah). Perlakuan ini dapat dilakukan secara manual/dengan tangan maupun menggunakan mesin grading. Buah apel yang berukuran sangat kecil (krill) dan broken/cacat/rusak tidak dimasukkan dalam kelas A sampai D. Sampai saai ini Standar Nasional Indonesia (SNI) buah apel belum tersedia, oleh karena itu standar mutu apel masih bersifat lokal. Kelas ukuran (grade) A sampai D tersebut biasa dilakukan petani atau pedagang apel di Jawa Timur untuk varietas apel Manalagi dan Rome Beauty. 3. Penyimpanan Proses penyimpanan buah apel harus memperhatikan beberapa hal, antara lain: umur panen, ukuran buah, kesehatan buah, suhu kamar penyimpanan, dan pengaruh aroma/bau dari sumber lain. Umur panen: Panen/pemetikan yang telalu tua tidak bisa disimpan lebih lama, contoh: varietas apel Manalagi yang dipetik pada umur 113-120 hari dari bunga mekar mempunyai waktu penyimpanan/pemasaran optimal/paling baik antara 21-28 hari. Sedangkan yang dipetik pada umur 127-141 hari dari bunga mekar hanya mempunyai waktu penyimpanan/pemasaran optimal/paling baik antara 7 - 14 hari. Ukuran buah: Mesipun belum ada penelitian yang pasti, bahwa buah apel berukuran lebih kecil memiliki lama penyimpanan/pemasaran lebih panjang dibanding dengan buah apel yang berukuran besar pada perlakuan yang sama. Kesehatan buah: Buah apel yang telah rusak/cacat akan lebih cepat busuk disbanding dengan buah apel yang sehat. Oleh karena itu dalam proses penyimpanan harus diperlakukan hati-hati jangan sampai terjadi kerusakan. Suhu kamar penyimpanan: Buah apel yang disimpan pada suhu dingin dapat bertahan antar 4-7 bulan. Suhu dalam ruang pendingin harus dapat dipertahankan dan diusahakan tidak terjadi selisih suhu hingga 1oF dari suhu yang telah ditetapkan. Selisih suhu hingga 1oF dari 30oF ke 32oF (-11oC hingga 0oC) meningkatkan pernafasan buah hingga 25%. Varietas apel Rome Beauty yang disimpan pada suhu 32oF - 33oF (-6oC hingga 0oC) dapat menahan kesegaran buah hingga 5 - 6 bulan. Pengaruh aroma/bau dari sumber lain: Selana proses penyimpanan, buah apel segar tidak boleh disimpan bersama-sama buah, sayur, atau bahan lain yang mempunyai aroma kuat seperti durian, nangka, bawang, minyak wangi, dan lainnya. Perlu diketahui bahwa buah apel termasuk buah yang mudah menyerap bau. 4. Pengemasan Untuk menghindari kerusakan buah apel yang telah digrading segera dikemas sesuai varietas dan kelas ukuran/grade. Maksudnya setiap kardus berisi buah apel yang sama varietas dan sama ukurannya. Saat ini umumnya kemasan buah apel digunakan kotak kardus dengan ukuran panjang 48 cm, lebar 33 cm, dan tinggi 37 cm. Setiap kotak menampung buah apel seberat 35 kg. Cara mengemas: dasar kardus diberi potongan kertas, lalu diatasnya disusun buah apel dengan posisi miring dari paling kiri sesuai lebar kardus. Kemudian setiap dua buah sebelah kanannya satu buah, dan seterusnya setiap dua buah kanannya satu buah, seterusnya berselang-seling sampai memenuhi panjang kardus. Kemudian lapisan kedua dengan mengisi ruang-ruang diantara buah dari lapisan pertama. Bila tiap-tiap buah diberi sela (ruangan) disebut susunan terbuka, dan bila agak rapat disebut susunan tertutup. Susunan terbuka lebih baik untuk sirkulasi udara diantara tiap-tiap buah. Terakhir, lapisan buah paling atas dilapisi potongan kertas lagi, lalu kardus ditutup. Kemasan dalam kardus ini untuk pemasaran buah apel antar kota atau provinsi. Sedangkan untuk diimpor, sebelum dimasukkan ke dalam kardus setiap satu buah dibungkus dengan bahan stereofoam yang menyerupai bentuk jala. Apabila pemasaran hanya lokal tidak perlu dikemas, melainkan ditempatkan dalam keranjang-keranjang. 5. Pengiriman Buah apel setelah disortasi dan digrading dapat dikirim ke lokasi-lokasi pemasaran maupun disimpan terlebih dahulu di gudang penyimpanan. Jarak pengiriman buah apel ke lokasi pemasaran akan mempengaruhi perlakuan di kendaraan. Untuk pemasaran lokal dengan menggunakan kendaraan langsung ke toko atau pasar pinggir jalan maupun pasar tradisional. Pemasaran antar kota, provinsi dan luar pulau menggunakan kendaraan yang bermuatan besar. Penulis: SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian Pusbangluhtan) Sumber Informasi: 1. Anonim. 2003. Budidaya Apel. Jakarta: Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian. 2. Anonim. 2004. Buku Apel (Malus sylvestrys Mill). Jakarta: Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian. 3. Anonim. 2008. Budidaya Apel. http://infopekalongan.com. Diakses tanggal 30 April 2010.