Loading...

BIO URINE EFEKTIF USIR HAMA TIKUS

BIO URINE EFEKTIF USIR HAMA TIKUS
Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama utama yang menyerang tanaman padi dan biasanya sangat sulit untuk dikendalikan. Hama tikus ini memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya. Kerusakan tanaman padi oleh serangan tikus selalu menjadi masalah bagi petani dan menjadi momok yang menakutkan. Kehilangan hasil gabah akibat serangan hama tikus hampir terjadi setiap musim tanam dengan kerusakan bisa mencapai 15-20%, bahkan bisa menggagalkan panen. Biasanya tikus menyerang tanaman padi pada malam hari, sedangkan pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dll. Hama ini juga mempunyai kemampuan bermigrasi kedaerah lain, bila pada tempat tinggalnya tidak ada makanan, atau pada saat areal sawah lagi bero, dan bisa pindah kembali ke sawah setelah ada penanaman padi kembali, baik pada fase vegetative maupun menjelang fase generative. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangannya. Biasanya hama tikus ini akan menyerang bagian akar dan batang tanaman padi dengan cara menggerogoti bagian tersebut hingga habis dan lama-kelaman akan mengakibatkan tanaman mati. Sebagai binatang pengerat, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tikus akan mengerat batang padi dengan perbandingan 5 : 1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambah panjang dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya. Parahnya serangan tikus ini disebabkan karena hama ini mempunyai kemampuan berkembang biak yang sangat tinggi. Secara teoritis, tikus bisa berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus. Hal ini menggambarkan betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun. Bermacam-macam cara dilakukan petani untuk mengendalikan serangan hama ini seperti penanaman dilakukan secara serempak, melakukan sanitasi pada tempat persembunyain tikus, melakukan gropyokan, fumigasi dengan melakukan pengemposan, Trap Barrier System (TBS), serta berbagai metode lainnya, namun serangan hama ini masih tetap terjadi. Oleh karena itu masih perlu dicarikan alternative lain dalam pengendalian hama ini. Bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani “Subak Danu”, Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, mempunyai suatu teknik untuk mengendalikan serangan hama tikus yaitu dengan menggunakan “bio Urine”. Bio Urine ini mempunyai bau yang sangat menyengat, sehingga tikus tidak menyukai areal tersebut sehingga tikus menjauhi areal tersebut.. Adapun teknik penggunnan Bio Urine yang dilakukan oleh petani pada wilayah tersebut adalah sebagai berikut :1 Bio Urine diperoleh dari ternak sapi, dengan menampung dikandang ternak sapi, lalu masukkan kedalam gentong. Usahakan tempat penyimpanan terhindar dari hujan maupun triknya matahari, dan biarkan urine tersebut dalam gentong dalam beberapa hari.2. Campurkan urine tersebut dengan air, dengan perbandingan urine dan air 1 : 10, lalu masukkan ke dalam sprayer.3. Semprotkan secara merata pada seluruh tanaman padi;4. Lakukan penyemprotan kembali dengan interval 1 minggu sekaliDengan melakukan penyemprotan bio urine ini tentu bukan membunuh hama tikus, tapi sifatnya hanya mengusir tikus, sehingga suatu saat nanti kemungkinan tikus akan bisa muncul kembali. Oleh karena itu maka frekuensi penyemprotan dengan interval 1 minggu sekali cukup efektif untuk mengusir hama tikus ini. Namun yang perlu menjadi perhatian disini adalah pengendalian hendaknya dilakukan secara bersamaan dalam semua areal tanaman dalam satu hamparan. Bila dilakukan secara perorangan maka kemungkinan sawah yang tidak melakukan penyemprotan akan menjadi sasaran bagi hama ini ( I Made Widiada, Distan Kabupaten Tabanan, Bali).