Loading...

BISKUIT SAPI SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN ALTERNATIF PADA SAPI POTONG

BISKUIT SAPI SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN ALTERNATIF PADA SAPI POTONG
Sapi potong merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat akan konsumsi daging. Secara genetik, kesesuaian dan kecukupan pakan yang disertai manajemen yang baik pada sapi potong akan dapat memberikan produksi yang tinggi. Oleh karena itu, perlu untuk memilih sumber pakan yang baik demi menjaga kestabilan fisiologis sapi agar dapat mencapai produktivitas semaksimal mungkin selama masa produksinya. Salah satu metodenya dapat dilakukan melalui manajemen pemeliharaan pada manajemen pakannya. Secara objektif, di desa Tanggumong Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang masih memiliki keterbatasan sumber pakan hijauan berupa rerumputan. Terbatasnya ketersediaan hijauan ini mememaksa terjadinya peralihan kepada pemanfaatan sumber bahan pakan dengan kadar serat kasar tinggi dari hasil sampingan tanaman pangan. Jika ditimbang dari kualitas dan ketersediaannya, salah satu hasil sampingan tanaman pangan yang cocok untuk kriteria tersebut adalah dedak jagung dan dedak padi, hal ini dikarenakan hasil sampingan berserat tersebut merupakan sumber bahan pakan yang memiliki palatabilitas yang baik dalam pemanfaatannya sebagai pakan sapi potong untuk menunjang produksi sapi. selain itu, di Desa Tanggumong, luas areal padi dan jagung cukup luas yaitu sawah tadah hujan seluas 153,54 ha dan tegal seluas 139,30 ha sehingga produksi dedak jagung dan dedak padi sangat tersedia. Pemanfaatan dedak jagung dan dedak padi yang banyak ditemukan dalam peternakan sapi pedaging adalah diberikan secara langsung pada ternak dalam keadaan utuh maupun melalui pencacahan sesuai ukuran kebutuhan. Dalam pemanfaatan dedak jagung dan dedak padi sebelum diberikan pada ternak juga dapat dilakukan pengolahan melalui proses fermentasi, serta pembuatan silase dedak jagung dan dedak padi. Pengolahan dalam pemanfaatan dedak jagung dan dedak padi secara khusus ditujukan untuk memberi nilai tambah baik dari segi kandungan nutrisinya, daya cerna, hingga daya tahan terhadap lingkungan dan waktu. Sehingga setelah diberikan pada ternak diharapkan mampu memberi pengaruh pada produksi dan produktivitas yang lebih baik. Limbah padi dan jagung berupa dedak jagung dan dedak padi yang melimpah namun pemanfaatannya dalam bentuk segar maupun olahan sebagai pakan sapi potong masih kurang. Salah satu solusi berkaitan hal tersebut adalah melalui pengetahuan akan potensi dari limbah dedak jagung dan dedak padi dalam pemanfaatannya sebagai pakan sapi potong dan pengaruhnya terhadap produksi sapi. Dedak padi merupakan bagian kulit ari beras pada waktu dilakukan proses pemutihan beras. Dedak padi digunakan sebagai pakan ternak, karena mempunyai kandungan gizi yang tinggi, harganya relatif murah, mudah diperoleh, dan penggunaannya tidak bersaing dengan manusia. Dedak padi mempunyai beberapa karakter yaitu mempunyai struktur yang cukup kasar, Mempunyai bau khas wangi dedak, Berwarna coklat dan tidak menggumpal, Dedak padi umumnya tidak tahan disimpan dan cepat menjadi tengik. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak. Dedak padi ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh waktu atau musim. Pakan ini merupakan bahan yang bersifat mudah rusak selama penyimpanan jika disimpan melebihi waktu tertentu. Dedak jagung merupakan hasil sisa ikutan dari penggilingan jagung yang banyak terdapat di daerah daerah yang makanan pokok dari penduduknya adalah jagung seperti Madura dan daerah industri dan pertanian jagung lainnya. Tetes tebu merupakan sumber energi yang bagus di dalamnya terdapat kandungan nutrisi dan zat-zat gizi yang cukup baik bagi hewan ternak. Hijauan pakan umumnya berupa rumput dan semak. Pada musim hujan, ketersediaan hijauan tersebut berlimpah, namun pada musim kemarau jumlahnya terbatas. Dengan menyimpannya dalam bentuk kering, hijauan tersebut dapat dimanfaatkan pada musim kemarau. Pelaksanaan pembuatan biskuit sapi dilaksanakan di kelompok wanita tani Sumber Makmur Desa Tanggumong Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang dengan bahan-bahan 2 kg dedak sapi, 2 kg dedak jagung, 1 kg lengkuas, 1 kg temu lawak, 1 kg temu ireng, 1 liter tetes, 200 gr urea, 1 liter air. Cara pembuatannya yaitu, haluskan empon empon, aduk dan panaskan sampai mengental, campur dengan dedak dan tetes, cetak, kemudian jemur sampai kering (kurang lebih 3 hari dan sesekali dibolak balik agar keringnya merata). Diharapkan dengan adanya penyuluhan tentang pembuatan biskuit sapi para wanita tani dapat memanfaatkan waktu luang dan limbah pertanian (dedak padi dan dedak jagung) yang melimpah yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pakan tambahan alternatif pada sapi potongnya diwaktu musim kemarau dengan ketersedian pakan hijauan yang terbatas. Selain itu, diharapkan dapat menambah penghasilan keluarga bila diproduksi dalam jumlah banyak. Penulis : Alif Rizki Nursianki, S.TP Admin BPP Sampang : Moh. Salim, SP