Loading...

BP3K Bontomanai Mengembang Singkong Gajah Melalui Kegiatan Demplot

BP3K Bontomanai  Mengembang Singkong Gajah Melalui Kegiatan Demplot
Singkong adalah salah satu komoditi tanaman pangan yang sudah dikenal di Kabupaten Kepulauan Selayar sejak dahulu termasuk di wilayah BP3K Bontomanai, tetapi sistem budidaya yang digunakan masih secara tradisional dengan produksi yang sangat rendah sehingga umumnya hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu, BP3K Bontomanai sebagai sumber informasi teknologi pertanian melaksanakan Demplot Tanaman singkong Gajah dengan harapan :1. Menjadi sarana pembelajaran dan pelatihan bagi Penyuluh, Petani, Kelompok Tani dan Gapoktan se-Kecamatan Bontomanai.2. Tanaman Singkong dapat menjadi sumber penghasilan bagi petani dan keluarganya.3. Mendukung Upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dalam bidang Pertanian, yang telah merintis kerjasama dengan Masyarakat Singkong Indonesia Wilayah Kalimantan Timur dalam pengembangan Singkong Gajah di Kabupaten Kepulauan Selayar.Singkong Gajah, memiliki keunggulan varietas yang terletak pada: (1) berat umbi, (2) kemudahan penanaman, (3) bisa langsung dikonsumsi sebagai bahan makanan pengganti beras dengan rasa ketan, dan (4) umur panen 6 – 10 bulan. Dengan berbagai media Tanam, Input Teknologi, dan Jenis Tanah yang berbeda, mampu menghasilkan variasi umbi basah cabutan per stek pada umur 9 bulan dengan berat 7 kg – 42 kg. Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.Potensi kandungan Tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut (Najamuddin Arif, S.ST/Admin Kec. Bontomanai)