Pertanian merupakan kebudayaan yang pertama kali dilakukan oleh manusia. Sejak kelangsungan hidupnya mulai mengalami kesulitan, karena semakin menurunnya sumber pangan di alam bebas yang terus menerus dimanfaatkan oleh manusia tanpa adanya budidaya. Dengan adanya perubahan peradaban kehidupan manusia dari pola kehidupan yang bersifat nomaden menjadi pola kehidupan yang menetap, maka manusia mulai melakukan penanaman tanaman yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya, yang dianggap sebagai awal dari kegiatan pertanian. Dengan pertambahan penduduk yang semakin berkembang seiring dengan perkembangan waktu, maka sistem pertanian ini terus mengalami perubahan yang semula hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri berkembang menjadi sumber mata pencaharian untuk menopang kehidupan keluarganya. Sehingga saat ini sistem pertanian sudah berorientasi bisnis yang sering kita sebut sebagai usaha agribisnis. Di Bali umumnya dan di Kabupaten Tabanan khususnya, budaya dalam bidang pertanian ini telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Bali berupa adanya organisasi yang disebut "Subak"yang sampai saat ini masih tetap terpelihara dengan baik sebagai warisan budaya masyarakat Bali dalam bidang pertanain. Dalam Peraturan Daerah, Pemerintah Daerah Provinsi Bali No. 02/PD/DPRD/1972 dinyatakan bahwa subak adalah suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosio–agraris–religius, yang merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Suatu keistimewaan dari sistem subak adalah bahwa pengelolaan subak berazaskan pada konsep Tri Hita Karana . Dengan memakai azas Tri Hita Karana maka subak dapat mengelola irigasi dan juga lahan pertanian secara harmonis sehingga sistem subak dapat bertahan selama berabad-abad, sampai saat ini. Subak tidak hanya sekedar sebuah lembaga dibidang pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Bali mengenai manusia dan hubungannya dengan lingkunganmnya, serta hubungan dengan Maha Pencipta. Organisasi subak inilah yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan pertanian di Bali, serta merupakan mitra kerja pemerintah dalam pengembangan program pembangunan pertanian, serta upaya pemecahan masalah- masalah yang dihadapi dalam bidang pertanian yang begitu komplek. Seiring dengan perkembangan jaman yang lebih modern, dikhawatirkan sektor pertanian ini akan semakin dilupakan, serta budaya- budaya seperti subak yang merupakan warisan nenek moyang orang Bali akan semakin dilupakan dan hilang begitu saja. Masalah dalam bidang pertanian merupakan suatu permasalahan yang tidak bisa dianggap enteng, karena pertanian menyangkut hajat hidup seluruh masyarakat. Bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah, maupun para petani yang merupakan pelaku dalam sektor pertanian, melainkan merupakan tanggungjawab semua lapisan masyarakat. Sampai saat ini pelaku sektor pertanian, khususnya pada lahan sawah masih didominasi oleh kalangan orang-orang tua serta institusi tertentu yang konsen dalam bidang pertanian. Oleh karena itu pemahaman tentang pertanian harus dimulai sejak dini, yaitu mulai mengenalkan sektor pertanian ini kepada anak-anak sekolah mulai dari TK dan Sekolah Dasar, agar ada generasi penerus yang bisa melanjutkan orang tua mereka yang selama ini menjadi petani, sehingga pertanian dan budaya dalam bidang pertanian tidak dilupakan. Berkaitan dengan hal tersebut maka Badan Pelaksana Penyuluhan (BP4K) Kabupaten Tabanan dalam tahun anggaran 2015 telah melakukan kegiatan " Gerakan cinta pertanian lebih dini kepada siswa Sekolah Dasar", yang dilaksanakan di 10 kecamatan yang ada di Kabupaten Tabanan. Metode kegiatan ini berupa pengenalan pertanian dengan konsep belajar dan bermain, serta penerapan langsung dilapangan, sesuai usia anak-anak yang masih dini, yang bertujuan untuk membangun karakter siswa agar nantinya dapat menjadi generasi penerus yang peduli dengan pertanian serta mencintai bidang tersebut. Pelaksanaan kegiatan ini sangat menarik bagi para siswa Sekolah Dasar, karena selama ini kegiatan –kegiatan tersebut belum pernah dilakukan, sehingga melalui kegiatan ini anak sekolah telah mengenal bagaimana cara melakukan pembajakan sawah, penananam padi, mengenal alat-alat pertanian yang selama ini sangat jarang dilihatnya, serta teknik pengolahan padi dari gabah sampai menjadi beras. Bahkan dari kalangan Sekolah Dasar dan Subak yang diajak bekerjasama dalam kegiatan ini sangat mendukung dan berharap kedepannya kegiatan ini perlu dilakukan kembali pada anak-anak sekolah lainnya secara berlanjut dan berkesinambungan ( I Made Widiada, BP4K Kabupaten Tabanan, Bali)