Loading...

Buah Jeruk Berkualitas Dihasilkan Dengan Cara Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS)

Buah Jeruk Berkualitas  Dihasilkan Dengan Cara Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS)
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jeruk di Indonesia adalah belum terbebasnya daerah sentra produksi dari serangan penyakit CVPD. Penyakit ini disebabkan oleh Liberobacter asiaticum dapat di tularkan oleh bibit yang telah terinfeksi CPVD atau melalui serangga penularnya, yaitu kutu loncat Diaphorina citri. Tanaman jeruk yang terserang oleh CPVD dapat menurunkan produktivitas sampai 50 % dari potensi 30 – 40 ton per hektar dapat menurun menjadi 15 – 17 ton per hektar. Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat atau yang disingkat dengan PTKJS merupakan paket teknologi untuk budidaya tanaman jeruk sehat, sekaligus mengendalikan penyakit CVPD sebagai penyakit utama tanaman jeruk di Indonesia. PTKJS terdiri atas lima komponen teknologi yang harus diterapkan secara utuh dan konsisten, yaitu : (1) Menggunakan bibit jeruk berlabel bebas penyakit Bibit jeruk bermutu adalah bibit jeruk yang bebas dari patogen sistemik (CPVD, CTV, Vein enation, Exocortis, Psorosis, Xyloporosis dan Tatter leaf), sesuai induknya, yaitu varietas batang bawah dan batang atasnya dijamin kemurniannya serta proses produksinya berdasarkan program sertifikasi jeruk yang berlaku (2) Mengendalikan serangga penular CPVD secara cermat Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan cara penyaputan batang dengan menggunakan insektisida sistemik murni berbahan aktif imidakloprid atau lainnya. Penyaputan batang dilakukan pada saat pohon berpupus dan dapat diulang setiap 2-4 minggu. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan denga insektisida berbahan aktif dimethoate 2cc/l atau lainnya. Insektisida berbahan aktif endosulfan 0.05% atau lainnya ampuh untuk mengendalikan telur D.citri sehingga efektif diterapkan pada awal pertunasan. Dengan cara penyaputan batang, musuh alami D.citri diharapkan tidak mati. Pengendalian serangga penular CPVD dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasit, predator dan entomopatogennya mempunyai prospek untuk dikembangkan di masa mendatang. (3) Melakukan sanitasi kebun secara cermat Sanitasi kebun adalah adalah upaya membuang bagian tanaman atau membongkar pohon yang terserang CPVD. Gejala awal dapat dikenali dengan adanya ‘blotching/motling’, yaitu warna kuning pada daun yang tidak dibatasi oleh tulang daun dan tidak simetris, pertumbuhan daun terhambat, daun mengecil, relatif kaku, runcing dan menghadap ke atas. Pemangkasan ranting terinfeksi CPVD (sektoral) dapat dilakukan dengan memotong ranting dua periode tunas sebelumnya. Pohon jeruk yang telah terinfeksi CPVD secara menyeluruh harus di bongkar sampai ke seluruh abagian akar tanaman. (4) Memelihara tanaman secara optimal Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan bentuk, penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Pemeliharaan kebun yang optimal dapat mempermudah pelaksanaan sanitasi kebun karena jika ada pohon jeruk yang terinfeksi CPVD gelajanya akan lebih mudah dideteksi. (5) Konsolidasi pengelolaan kebun di suatu wilayah untuk target pengembangan. PTKJS akan efektif diterapkan pada daerah pengembangan baru atau daerah yang akan direhabilitasi yang telah bebas dari pohon jeruk yang terinfeksi CPVD pada radius minimal 5 km. Pengendalian penyakit CPVD dengan PTKJS akan berhasil jika diterapkan secara utuh dan benar serta terkoordinasi baik antar petani, antar gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang membentuk kawasan sentra produksi. Konsolidasi pengelolaan kebun melalui koordinasi penerapan teknologi PTKJS dapat dilaksanakan secara optimal dengan menjadi Kelompok Tani Jeruk (KTJ) sebagai unit terkecil pembinaan. Disusun Oleh : Edwin Herdiansyah, SP Sumber : Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Balitbangtan