Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia selain bawang merah. Saat ini kawasan pengembangan bawang putih terdapat do Kecamatan X Koto salah satunya di Keltan Gantiang Saiyo, Teknologi budidaya budidaya nya sangat sederhana dengan varietas lembu kuning Di Indonesia yang paling cocok untuk menanam bawang putih adalah di daerah dataran tinggi yaitu sekitar 700-1.200 mdpl. Suhu malam yang agak dingin diperlukan untuk pembentukan umbi. Persyaratan Benih Mutu bibit/benih bawang putih yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Bebas hama dan penyakit. Pangkal batang berisi penuh dan keras. Siung bernas (licin, tegar dan tidak keriput). Besar siung untuk bibit 1,5 sampai 3 gram. Pengolahan lahan Sebelum penanaman, lahan diolah terlebih dahulu. Tanah yang asam dinetralkan sebulan sebelum tanam. Bila pH kurang dari 6, dosis kapurnya sekitar 1-2 ton/ha. Tanah tersebut dicangkul sedalam 30-40 cm, kemudian diberi pupuk kandang dan pupuk kompos sebanyak 10-15 ton/ha. Setelah pupuk kandang diratakan, dibuat bedengan yang lebarnya 60 cm. Penanaman Untuk bibit, umbi tersebut disimpan dahulu selama 3 bulan, setelah itu, kulit pembalut umbi bawang putih dikupas, lalu siungnya dipotong, jika nampak titik berwarna hijau maka bibit siap tanam. Siung besar membutuhkan jarak tanam renggang sekitar 15 x 10 cm. Setiap lubang ditanam dua atau tiga bibit dan diusahakan agak terbenam ke dalam tanah dengan posisi tegak lurus, karena tanah di keltan gantiang saiyo sangat gembur Posisi siung jangan sampai terbalik, sebab walau masih dapat rumbuh, tetapi pertumbuhannya tidak sempurna. Pemupukan Pemupukan dengan dosis 200 kg N, 60 kg K20, 180 kg P2O5 dan 50 kg S untuk luasan per hektar. Pemberian dilakukan secara bertahap, yakni pada saat tanam, pembentukan tunas dan pembentukan umbi yaitu saat tanaman berumur 15, 30, dan 40 hari. Penyiangan Pada penanaman bawang putih yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam. Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat umbi mulai terbentuk, penyiangan dan penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan umbi baru. Pemeliharaan OPT OPT yang menyerang tanaman bawang putih sangatlah bervariatif, di antaranya adalah Fusarium sp, Alternaria porii, Thrips tabaci, Spodoptera exigua (ulat bawang), Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV) dsb. Untuk mengendalikan OPT tersebut bisa dilakukan dengan penggunaan benih yang sehat, musuh alami, sanitasi yang baik dan penggunaan pestisida sesuai ambang pengendalian. Panen Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur. Tergantung pada varietas dan daerah, umur panen yang biasa dijadikan pedoman adalah antara 90-120 hari. Ciri bawang putih yang siap panen adalah sekitar 50 persen daun telah menguning/kering dan tangkai batang keras. Cara panen dapat dilakukan dengan pencabutan langsung terutama pada tanah yang ringan dan pencukilan dilakukan pada tanah-tanah bertekstur agak berat. Hasil tanaman diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan dijemur selama 1-2 minggu. Setelah pemanenan, lahan dapat ditanami kembali setelah dibiarkan selama beberapa minggu dan diolah terlebih dahulu atau dapat pula ditanami tanaman lainnya untuk melakukan rotasi tanaman. Pasca Panen Setelah dipanen dilakukan pengumpulan dengan cara mengikat batang semu bawang putih menjadi ikatan-ikatan kecil dan dikeringkan untuk menjaga dari kerusakan dan mutunya tetap baik. Dalam jumlah kecil, bawang putih biasanya disimpan dengan cara digantung ikatan-ikatannyadi atas para-para. Dalam jumlah besar, caranya adalah disimpan di dalam gudang. Gudang yang akan digunakan harus mempunyai ventilasi agar bisa terjadi peredaran udara yang baik. Penulis, Agus Riyanda Erman, SP