BUDIDAYA JAGUNG RAMAH LINGKUNGANOleh: Tiopani Yosefin Hutagalung Kecamatan Pahae Jae memiliki sebagian besar lahan yang berpotensi untuk pertanaman jagung karena berada pada kawasan agroekosistem berpotensi tinggi. Namun eksploitasi sumberdaya lahan yang sangat intensif untuk budidaya jagung yang dilakukan petani mulai tanam sampai panen kurang mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan. Jagung mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif dibandingkan kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan kedelai. Beberapa keunggulan dalam usaha tani jagung adalah:1. Teknologi budidaya lebih sederhana dengan resiko kegagalan usahatani yang lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya2. Ketersedian lahan yang cukup luas dengan agroekosistem berpotensi sedang sampai tinggi3. Biaya produksi per satuan unit lebih rendah,4. Adanya dukungan penyedian sarana produksi5. Rantai sistem pemasaran hasil lebih pendek dan menguntungkan petani. Selanjutnya, pengembangan usahatani jagung ini saling terkait dengan pesatnya pengembangan usaha peternakan, khususnya unggas sebagai subsistem hilir dari rangkaian agribisnis.Selama ini, budidaya jagung secara intensif yang dilakukan petani lebih mengarah pada upaya peningkatan produksi semata tanpa memperhitungkan dampak lingkungannya. Paket teknologi budidaya jagung yang dilakukan oleh petani pada umumnya yaitu:1. Persiapan lahanPersiapan areal pertanaman dilakukan tanpa olah tanah (TOT). Semua gulma dan bekas pertanaman sebelumnya disemprot dengan herbisida. Pembakaran gulma dan bekas tanaman dilakukan setelah semuanya kering.2. PenanamanPopulasi tanaman bervariasi antara 66.000 - 75.000 tanaman per hektar. Jarak tanam umumnya 80 cm x 15 cm (1 biji per lobang tanam).3. PemupukanPaket pemupukan per hektar adalah urea: 250-300 kg,TSP/SP-36 100 kg, KCl 0-50 kg atau Urea 300 kg + Ponska 200 kg per hektar. Cara pemberian pupuk dilakukan 2 tahap, yaitu pemberian pupuk pada umur 15 hari dilakukan petani untuk takaran pupuk 50% Urea, 100% TSP/SP - 36, dan KCL atau 100% Ponska. Pupuk urea tersisa (50%) diberikan saat tanaman berumur 30 - 35 hari. 4. Pemeliharaan tanamanPembumbunan umumnya tidak dilakukan petani namun dengan cara penyiangan gulma dengan menggunakan herbisida.5. Panen dan pasca panenPanen jagung dilakukan petani bila kelobot tongkol telah mengering sempurna. Tanaman jagung ditebang, dijajarkan, dibakar, dan buahnya dipetik. Pengeringkan biji dilakukan petani umumnya menggunakan sinar matahari.Dengan menggunakan paket teknologi budidaya jagung seperti di atas maka umumnya akan berpengaruh kepada lingkungan. Penggunaan herbisida dalam penyiapan tanpa olah tanah, pemupukan yang kurang memperhitungkan hasil analisis tanah dan tanaman, dan pembakaran dalam melakukan pemanenan. Penerapan sistem tanpa olah tanah menggunakan herbisida round up dan gramaxone dengan takaran masing-masing 3 dan 2 liter per hektar dianggap petani lebih menguntungkan secara ekonomi dan efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Penggunaan herbisida secara intensif dilakukan petani untuk persiapan areal pertanaman dan mengendalikan gulma dalam jangka waktu yang cukup lama menyebabkan pencemaran lingkungan yang cukup mengkhawatirkan berbagai pihak. Jenis dan takaran pupuk yang digunakan petani umumnya 250 - 300 kg urea, 100 kg TSP/SP-36, 0-50 kg KCl perhektar atau 300 kg urea dan 200 kg Ponska per hektar. Namun, penggunaan pupuk akan semakin besar jumlahnya bila tercukupi ketersediannya pada pedagang kios yang menyediakan sarana produksi bagi petani. Penggunaan pupuk anorganik dalam jumah yang besar oleh petani dan berlangsung cukup lama tentunya akan mengganggu keseimbangan unsur hara di lahan pertanian.Oleh karena itu sambil menerapkan teknologi budidaya yang selama ini sudah digunakan, bisa digunakan ataupun dikombinasikan paket teknologi budidaya jagung berwawasan lingkungan yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu sebagai berikut :1. Pengembangan varietas unggul jagung hibrida yang adaptif2. Pemanfaatan berangkasan jagung untuk pakan sapi3. Pemanfaatan limbah usaha peternakan sapi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.Kombinasi ataupun budidaya jagung bersama dengan usaha peternakan tentunya akan lebih menguntungkan sebab limbah dari jagung bisa digunakan sebagai pakan ternak, dan sebaliknya limbah hasil ternak digunakan sebagai pupuk organik bagi pertanaman jagung. Sehingga ke depannya budidaya jagung bisa menjadi budidaya tanaman yang menguntungkan sekaligus tetap mempertahankan kelestarian lingkungan.