Oleh : Dwi Rahmawati, SP Kedelai merupakan salah satu produk pangan yang mengandung protein nabati dan rendah lemak serta banyak digunakan sebagai bahan baku makanan masyarakat Indonesia seperti tempe, tahu, dan susu kedelai. Meskipun kedelai bukan merupakan komoditas utama yang diusahakan petani di kecamatan pungging tetapi sebagian petani diwilayah kecamatan pungging seperti Desa Tunggalpager, Desa Watukenongo dan Desa Ngrame masih ada yang membudidayakannya karena dari segi pemeliharaan yang cukup mudah dan murah serta tidak banyak memerlukan pupuk. Tahapan budidaya kedelai dimulai dengan menyiapkan benih kedelai unggul dan di kecamatan pungging benih kedelai yang di paling banyak ditanam adalah benih kedelai varietas Wilis. Benih direndam selama 2 jam jika tanah yang ditanami cederung kering sedangkan untuk tanah yang cenderung basah benih kedelai tidak direndam. Tanah sawah yang sebelumnya ditanami padi biasanya tidak diolah lagi. Penanaman dengan cara ditugal jarak 40 cm x 25 cm dan jika ada sisa jerami biasanya digunakan untuk menutup hasil tugal. Benih yang dibutuhkan sebanyak 5 – 6 kg diperlukan untuk sawah seluas 0.1 Ha.Pengairan tanaman kedelai dilakukan sebanyak tiga kali dimulai dari umur 0 hst, umur 40 hst dan umur 60 hst. Sedangkan pemupukan dilakukan pada 10 hst dengan menggunakan pupuk daun yang dicairkan dan diaplikasikan dengan hands sprayer. Untuk pengendalian hama penyakit dilakukan mulai dari 10 hst dan dilakukan kurang lebih 3 – 4 kali sampai umur 60 hst. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah hama ulat daun.Tanaman kedelai biasanya dipanen pada umur 80 – 90 hst dan ditandai dengan polong sudah berwarna kuning atau coklat mengering dan semua daun yang ada rontok,. Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang kedelai. Hasil panen yang diperoleh untuk sawah dengan luas 0,1 Ha sebanyak 250 kg. Sumber: Petani Kedelai Kecamatan Pungging