BUDIDAYA PADI SISTEM SINGGANG DI POKTAN CANDI AGUNG DESA CANDIREJO KEC. MAGETAN KAB. MAGETAN
Singgang tanaman padi menjadi salah satu metode tradisional alternatif untuk pembudidayaan tanaman pangan. Singgang merupakan tunas atau anakan yang tumbuh dari tunggul padi sehabis panen. Di Poktan Candi Agung Kec. Magetan Kab. Magetan , Metode ini telah digunakan petani padi di lahan sawah. Sisa batang padi yang telah dipanen dibiarkan tumbuh lagi setelah sebelumnya dipotong rumpunya dengan ketinggian 5 cm dari permukaan tanah, sehingga tunas baru yang keluar akarnya akan langsung menghujam ke tanah dan mencari makan sendiri dan menjadi tanaman baru. Dari padi sisa panen ini akan tumbuh tunas-tunas baru yang kemudian dipelihara agar dapat berproduksi lagi. Dibandingkan dengan tanaman padi dengan metode penanaman dari awal benih seperti pada umumnya, cara pemeliharaan dengan singgang ini akan menghasilkan produksi padi yang lebih sedikit. Rumpun padi dari singgang tidak akan sebanyak rumpun padi dari benih dengan pengolahan lahan sebelumnya. Juga pertumbuhan tidak maksimal karena tidak ada pengolahan lahan sebelum tanam. Namun begitu dari segi waktu panen, sistem singgang lebih cepat dibandingkan padi pada umumnya. Dalam waktu sekitar 40-45 hari sudah bisa dilakukan pemanenan padi. Dengan metode tanam singgang petani dapat panen padi minimal tiga kali dan berhemat 30% dibandingkan tanam ulang, sebab petani tidak perlu mengeluarkan biaya olah lahan, biaya pembelian benih dan biaya penanaman. Adapun yang melatarbelakangi anggota poktan candi agung kec, Magetan kab. Magetan menerapkan sistem singgang, diantaranya sebagai berikut : Keterbatasan tenaga kerja. Terkadang sulit untuk mendapatkan tenaga untuk mengolah lahan pasca panen. Dengan model singgang tanaman padi, proses awal yang diperlukan hanyalah pemotongan rumpun padi bekas tanaman saja dengan rapi tanpa pengolahan lahan. Mahalnya ongkos tenaga kerja, tingginya ongkos tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan harga jual gabah pada saat panen raya menyebabkan petani berusaha memangkas biaya pemeliharaan dengan efisien tenaga kerja. Keterbatasan modal. Dengan singgang padi kebutuhan tenaga kerja dan biaya pengeluaran pengolahan lahan dapat ditekan lebih hemat dari segi biaya awal. Hama tanaman. Sebagian petani lebih memilih melakukan metode ini saat hama sedang melanda lahan persawahan dalam jangka waktu panjang. Masa seperti ini ditandai dengan gagalnya produksi tanaman padi pada beberapa periode tanam. Dengan metode singgang resiko kerugian akibat gagal panen pada periode berikutnya dapat ditekan karena biayanya yang lebih murah. Mengejar waktu. Sambil menunggu datangnya waktu yang ideal bagi suatu musim tanaman jenis lain berikutnya dalam jangka dekat, singgang padi dapat menjadi alternatif karena waktu panen yang lebih singkat daripada tanam padi dari awal. Teknologi singgang yang mudah ini, bisa dijadikan medium petani dalam rangka meningkatkan hasil produksinya. Kendala di lapangan, seperti pengendalian hama atau penyakit tanaman, pengairan, penyiangan maupun pemupukan,perlu adanya pendampingan dari penyuluh pertanian setempat dan pelatihan dari dinas terkait. Program ke depan dalam rangka semakin memasyarakatkan budidaya padi sistem singgang kepada petani adalah membentuk kelompok kerja pengembangan teknologi sistem tanam padi dengan singgang, memberikan pemahaman kepada seluruh elemen yang terlibat tentang keuntungan teknologi ini. Sumber : https://rembangdaily.com/2015/04/metode-tanam-singgang-panen-padi-minimal-tiga-kali-dan-berhemat-30-persenPenulis :Trisni Setiyaningrum,S.PtPenyuluh Pertanian di BPP Kec. Magetan Kab. Magetan