BUDI DAYA PISANG ABACA Pendahuluan Pisang Abaca merupakan tanaman penghasil serat dari kelopak daun, termasuk famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan. Tumbuh liar di pulau Mindanao (Filipina) dan Kabupaten Talaud (Indonesia). Penduduk pulau tersebut sebelum Perang Dunia II memperoleh benang-benang halus dari pelepah daun untuk dijadikan kain yang sejuk. Tanaman Abaca berasal dari Filipina, dengan pangsa arealnya mencapai lebih dari 95%. Karenanya Abaca disebut sebagai Manila Henep. Karena kuat dan tahan air garam, maka serat Abaca baik untuk industri talitemali kapal laut dan tali-temali lainnya. Selain itu serat Abaca juga merupakan bahan baku pulp kertas berkualitas tinggi seperti kertas uang, kertas dokumen, kertas cheque, kertas plaster, kantong teh, kertas mimeograph, serta untuk tekstil. Sebelum Perang Dunia II Abaca memiliki arti ekonomis penting. Indonesia saat itu mampu memproduksi serat Abaca 30.000 ton/tahun, dengan sentra produksi di Sumatera Selatan, Jawa, Kepulauan Taaud dan Kalimantan. mendorong banyak pengusaha swasta ingin mengembangkan Abaca di Indonesia. Keadaan tersebut perlu didukung oleh semua pihak, agar pengembangan Abaca di Indonesia berhasil. Peluang pasar Abaca sebetulnya masih terbuka,. Permintaan dari negara maju seperti Jerman, Belanda, Perancis, Jepang, Spanyol, Denmark, Amerika, Inggris, dan Kanada terus meningkat. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan areal dan produksi Abaca sebagai komoditas ekspor non-migas. Selain meningkatkan ekspor non-migas, Abaca juga berperan menciptakan lapangan kerja. Balittas belum melakukan pengkajian lebih jauh untuk komoditas Abaca, tetapi baru pada tingkat pelestarian dan karakterisasi. Brosur ini dibuat untuk mengenalkan kembali Abaca pada semua lapisan masyarakat khususnya petani dan pengusaha yang berminat mengembangkan Abaca menjadi salah satu andalan ekspor non-migas Indonesia. Teknologi ini dihimpun dari berbagai sumber. BUDIDAYA 1. Persyaratan Tumbuh Iklim yang sesuai untuk tanaman Abaca yaitu tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun, dan jumlah hari hujan antara 150-200 hari serta temperatur udara 20oC-31oC. Abaca dapat tumbuh baik pada dataran rendah sampai dataran tinggi sampai ketinggian 1000 m dpl. Tanah yang baik yaitu tanah yang gembur, tekstur lempung berliat atau lempung berpasir dan jangan sampai ada lapisan yang padat (harpan layer). 2. Penanaman • Pergunakan bibit unggul dari varietas unggul yang sehat dan murni. • Jarak tanam 5 m x 3 m, sehingga populasi per hektar 660 tanaman. • Lubang tanam dibuat dengan ukuran panjang x lebar x dalam adalah (25-30 cm) x (25-30 cm) x (25-30 cm). • Bibit berupa anakan dari tanaman yang telah berumur 2-2,5 tahun, dari hasil dederan tunas atau kultur jaringan. 3. Pemeliharaan a) Penggemburan tanah atau penyiangan. Pada waktu tanaman masih muda perlu dilakukan penggemburan tanah dan penyiangan gulma. b) Secara periodik dilakukan pembuangan daun-daun yang telah mengering. c) Pemupukan dilakukan satu kali setiap tahun pada awal musim hujan. Di perkebunan Abaca Bayulor, Banyuwangi, Dosis pupuk yang diberikan yaitu: 1 kg ZA + 1 kg Dolomit per rumpun, diberikan dalam alur di antara barisan tanaman. 4. Peremajaan Peremajaan dilakukan pada tanaman yang berumur antara 15-20 tahun tergantung dari kondisi tanamannya. Tanaman dibongkar seluruhnya jangan sampai ada sisa-sisa bonggol ataupun anakan yang tertinggal. Kemudian dilaksanakan penanaman kembali. 3 5. Panen dan Penyeratan ? Tanaman mulai dipanen setelah berumur 2-3 tahun. Tanda-tanda bahwa pohon sudah dapat ditebang yaitu bila sudah keluar jantung di ujung batang, jantung dan daun bendera mulai kelihatan di ujung batang. Umur panen di dataran rendah lebih cepat dibandingkan dengan di dataran tinggi. ? Cara panen dengan memotong ujung pangkal batang di atas bonggol. Pemotongan jangan mendatar, agar tidak menjadi akumulasi air hujan yang menyebabkan busuk. ? Pemanenan ada dua cara, yaitu tebang pilih dan tebang habis. ? Tebang pilih, hanya dilakukan terhadap pohon yang sudah umur panen, dan dapat diulang dengan selang waktu 1-1,5 bulan. Kelemahan cara ini adalah kemungkinan terjadi kerusakan pada tanaman lain saat penebangan berlangsung, sehingga harus hati-hati. ? Tebang habis biasanya membatasi tanaman sekitar 8-12 tanaman per rumpun agar tumbuh dengan subur dan sisanya dibuang. Setelah dewasa harus ditebang seluruhnya. ? Batang kemudian dipotong-potong sepanjang 110 cm disesuaikan dengan ukuran mesin penyerat (dikortikator). ? Potongan batang kemudian dikelupaskan menjadi lembaran-lembaran pelepah. Di beberapa negara pelepah Abaca dikelompokkan menjadi 3 yaitu pelepah bagian luar, tengah dan dalam. ? Pelepah-pelepah daun kemudian diangkut ke mesin dekortikator, dan setelah keluar dari mesin sudah berupa serat basah. Serat ini diperas sampai keluar airnya dan siap untuk dijemur. Kapasitas mesin dekortikator (PT Bayulor) bervariasi dari 40-100 ton pelepah basah per hari. Rendemen serat berkisar antara 1,75%-2,5% dari batang basah. 6. Hama dan penyakit Serangan hama dan penyakit di pertanaman Abaca biasanya tidak sampai ke tingkat yang membahayakan. Namun demikian ada beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang Abaca, yaitu: A. Hama 1. Thosea sinensis Walker ( Ulat siput) Hama utama di Davao, Filipina. Larvanya memakan daun Abaca dengan rakus, menyebabkan kerusakan berat pada daun. Pengendalian dilakukan dengan mengumpulkan ulat, dengan insektisida atau dengan melepaskan parasit ke lapangan. 2. Penggerek pisang Cosmopolites sordidus Ger. Serangga ini dijumpai di Filipina dan amerika Tengah. Kumbang ini meletakkan telurnya pada helaian daun atau pada daun-daun tua yang tertinggal di lapang. Telur menetas setelah 5-7 hari dan periode larva 15-21 hari. Penggerek ini bertubuh keras dan hidup lama, tetapi bergerak lamban dan tidak khusus prolific. Tindakan pengendalian terutama dengan sanitasi lapangan dari sisa-sisa tanaman yang berfunggsi sebagai tempat berbiak bagi penggerek tersebut. 3. Kumbang batang, Odoiporus longicollis Juga hama serius di dataran tinggi Davao. Cara hidupnya sama dengan penggerek pisang. 4. Kutu daun (Aphids) Beberapa spesies kutu ditemukan menyerang daun Abaca. Kehadiran kutu daun sangat tidak diingini karena dibeberapa diantaranya berfungsi juga sebagai penular penyakit. Kutu pisang cokelat Pentalonia nigronevosa Coq. Merupakan vektor virus penyakit “bunchy-top”. Kutu-kutu lain bertindak sebagai vektor penyakit mosaik yaitu kutu kapas, Aphis gossypii Glov; kutu jagung H. maidis Fiych; kutu rumput Rhopalosiphum nymphaeae (Liun.) dan R. prunifoliae Fitch. B. Penyakit 1. Mosaicabaca, disebabkan oleh virus Cucumis Virus I, atau Mamor cucumeris Holmes. 2. Bunchy Top, penyebab penyakit ini adalah virus yang ditularkan oleh aphid Pentalonia nigronervosa Coq. Selain Filipina, penyakit ini juga menyerang pertanaman Abaca di Kalimantan Utara dan New Britania. 3. Penyakit layu vaskuler (Vascular wilt), penyebabnya jamur Fusarim cubense (F.oxysporum f. cubense). 4. Penyakit busuk batang, penyebabnya jamur Helminthosporium tolulosum (Syd) Ashby. 5. Penyakit kering pangkal akar, penyebabnya adalah jamur Marasmius seminet Berk. Dengan sekali tanam, umur produktif tanaman Abaca dapat dipertahankan antara 15-20 tahun. Oleh karena itu pengelolaannya sangat efisien dalam penggunaan tenaga kerja pada kegiatan persiapan tanam (pembuatan lubang tanam) dan penanaman. Alokasi tenaga kerja dalam proses produksi lebih banyak ditekankan pada kegiatan pemeliharaan, panen, dan prosesing hasil. Tanaman Abaca dipanen dua kali setahun dapat menghasilkan serat 2-3 ton/ha/panen atau 4- 6 ton/ha/tahun. Apabila Abaca dikembangkan ditingkat petani dengan produktivitas serat 1,5 ton/ha/panen atau 3 ton/ha/tahun - Populasi tanaman 660 rumpun/ha sistem panen tebang habis 2 kali panen/ tahun. - Penggunaan pupk sekali setahun pada setiap rumpun