Dalam rangka menuju kemandirian pangan dan kuat, Kementerian Pertanian telah menetapkan Sebelas Arah Kebijakan Pembangunan Pertanian tahun 2015-2019, salah satunya adalah peningkatan ketahanan pangan melalui pengembangan tujuh komoditas salah satunya komoditas jagung. Berikut salah satu tehnik / sara yang perlu disiapkan dalam budidaya tanaman jagung. Varietas UnggulPenggunaan varietas unggul (baik hibrida maupun komposit) mempunyai peranan dalam upaya peningkatan produktivitas jagung. Memilih Varietas hendaknya melihat deskripsi varietas, terutama potensi hasilnya, ketahanannya terhadap hama atau penyakit, ketahanan terhadap kekeringan, tanah masam, umur tanaman, warna biji, dan disenangi baik petani maupun pedagang. Benih BermutuPenggunaan benih bermutu merupakan langkah awal menuju keberhasilan dalam usaha tani jagung. Gunakan benih bersertifikasi dengan Vigor tinggi Sebelum ditanam hendaknya dilakukan pengujian daya tumbuh benih. Benih yang baik adalah yang mempunyai daya tumbuh lebih dari 95 % karena tanaman jagung hendaknya tidak disulam. Benih yang bermutu jika ditanam akan tumuh serempak, pada saat 4 HST dalam kondisi normal. Penggunaan benih bermutu akan menghemat penggunaan benih yang ditanam. Populasi tanaman yang dianjurkan dapat terpenuhi ( 66.600 tanaman/Ha ). Penyiapan LahanPengolahan lahan untuk jagung dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu olah tanah sempurna ( OTS ) dan tanpa olah tanah (TOT), bila lahan gembur. Namun bila tanah berkadar liat tinggi sebaiknya dilakukan pengolahan tanah sempurna. Pada lahan yang ditanami jagung 2x setahun penanaman pada musim penghujan tanah diolah sempurna dan pada musim tanam berikutnya penanaman dapat dilakukan dengan tanpa olah tanah untuk mempercepat waktu tanam. PenanamanJarak tanam yang dianjurkan adalah 70 cm X 20 cm dengan satu benih perlubang tanam dan jarak tanam 75 cm x 40 cm dengan 2 benih perlubang tanam. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal. PemupukanPemupukan yang pertama diberikan pada saat umur 7 – 15 HST . pupuk yang diberikan adalah 100 kg Urea, 150 kg SP36, 100 kg KCl. Pemupukan kedua diberikan pada saat umur 28 – 30 HST dengan dosis 150 kg urea/hektar.Pemupukan ketiga diberikan pada saat tanaman berumur 45-50 HST dengan dosis 100-150 kg urea atau dipergunakan BWD untuk mengukur keperluan pupuknya. PenyianganPenyiangan dilakukan 2x selama pertumbuhan tanaman jagung. Penyiangan pertama pada saat tanaman berumur 14-20 HST. Penyiangan kedua dilakukan secara manual seperti penyiangan pertama atau menggunakan herbisida. Pengendalian OPTPengendalian organisme pengganggu tanaman (hama dan Penyakit) sebaiknya dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), dimana apabila terserang hama tertentu melampaui batas ambang ekonomi baru dikendalikan dengan pestisida yang ramah lingkungan. PengairanPengairan dilakukan pada saat musim kemarau pada fase-fase umur pertumbuhan 15 HST 30 HST, 45 HST, 60 HST, dan 75 HST, pada fase tersebut tanaman jagung sangat riskan dengan kekurangan air. Pada musim penghujan pengairan mengandalkan curah hujan dan pada kondisi lahan yang datar diperlukan drainase yang cukup baik. Panen dan Pasca PanenPemanenan jagung dilakukan pada saat jagung telah berumur 100-110 HST (tergantung varietas). Jagung yang telah siap dipanen ditandai dengan daun jagung atau klobot telah kering, berwarna kekuning-kuningan dan ada tanda hitam di bagian pangkal tempat melekatnya biji pada tongkol. Setelah panen dilakukan sortasi. Pengeringan selain dengan penjemuran diladang, juga dapat dilakukan dalam bentuk tongkol terkupas yang dikeringkan dilantai jemur dengan pemanasan matahari langsung, dan bila turun hujan ditutupi dengan terpal plastik. Setelah tongkol jagung kering baru dilakukan pemipilan dengan cara dirontokan dengan menggunakan mesin kemudian jagung dijemur sampai batas kadar air mencapai 12%. ( Krisantus Purwadi – Penyuluh Desa Bumirestu ).