Wijen berbatang tegak, berkayu bertekuk empat, kebanyakan bercabang, susunan daun bawah, tengan dan atas antara spesies yang satu dan lainnya berbeda. Tinggi tanaman 0,5 hingga 25 meter, umur tanaman 2,5 sampai 5 bulan tergantung varietas dan kondisi tempat. Bunga muncul dari ketiak daun 1 sampai 3 kuntum per ketiak, warna putih dan ungu dan berbentuk seperti terompet. Penyerbukan biasanya terjadi dibantu oleh serangga dan kadang-kadang dibantu oleh angin. Buah memiliki panjang 2 sampai 3 cm dengan diameter 0,5 sampai 1 cm terdiri dari 4,6 dan 8 lokus(kotak) memanjang. Tiap lokus mengandung 50 hingga 125 biji per polong. SYARAT TUMBUH Iklim Tanaman wijen dapat tumbuh pada 1-1.200 meter dpl. Sensitif terhadap suhu rendah, curah hujan yang tinggi, dan cuaca mendung terutama saat pembungaan. Suhu optimal 25 derajat-30 derajat C dengan cahaya penuh. Curah hujan 300-1000 mm, toleran terhadap kekeringan, tetapi tidak tahan tergenang wijen dapat tumbuh optimal dengan pada wilayah kering dengan 3 bulan basa, kurang tahan ternaung, Tanah Tumbuh baik semua jenis tanah, tetapi yang terbaik pada tanah lempung berpasir yang subur dengan pH 5,5-8,0, drainase baik, karena wijen tidak tahan tergenag. TEKNIK BUDIDAYA Pembenihan Tanaman wijen berkembang biak secara generatif, yaitu dengan biji. persyaratan benih: . berasal dari tanaman yang baik pertumbuhannya, berasal dari buah yang sehat , tidak terserang hama atau penyakit, bebas dari segala kotoran,. utuh, tidak cacat atau luka. tidak keriput. tidak tercampur dengan varietas yang lain, Benih dari pertanaman yang seragam, sehat dengan daya kecambah lebih dari 80%.. Kebutuhan benih sekitar 3-8 kg/ha. Umur tanaman berkisar antara 75-150 hari. Penanaman Wijen di Lahan Kering/Tegalan Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya wijen secara intensif di lahan kering/ tegalan adalah pengolahan tanah, penentuan saat tanam, dan penanaman. I. Pengolahan Tanah Sebelum diolah, diberokan selama 30 hari. Tanah dibajak sedalam 40-60 cm, selanjtnya bongkahan-bongkahan tanah dicangkul tipis-tipis hingga tanah hancur dan menjadi remah(gembur), kemudian diratakan, juga dilakukan pemupukan dasar (pupuk kandang) dan pengapuran (bila perlu). Setelah 7 hari tanah dicangkul lagi secara ringan, sekaligus dilakukan pembentukan bedengan-bedengan dan parit-parit. parit dibuat dengan lebar 40 cm dan kedalaman 40 cm-50 cm. Di sekililing bedengan dibuat saluran pembuangan air, berukuran lebar 60 cm dan kedalaman 60 cm. Karena di lahan kering/tegalan pada umunya tidak memiliki irigasi teknis maka pembuatan parit lebih ditujukan untuk menanggulangi banjir atau genangan air pada saat hujan. II. Pengapuran Tanah Pengapuran tanah dilakukan jika nilai keasaman (pH) tanah kurang dari 5,5. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sebelum tanam. Penanaman Jarak tanam bervariasi (10-25) cm x (30-75) cm, tergantung dari varietas tanaman. Varietas genjah lebih rapat dibanding varietas dalam, begitu pula semakin sedikit percabangannya ditanam semakin rapat. Penanaman dengan tugal sedalam 2-4 cm, tiap lubang tanam diisi 5 biji ditutup dg abu. Pemupukan Dosis pupuk 100 kg Urea per hektar. Sepertiga dosis diberikan bersamaan dengan tanam, sisanya diberikan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Pemberian dapat dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5-7,5 cm dengan jarak 5 cm dari lubang tanam. Pemeliharan Penyulaman dilaksanakan 15-20 HST. Penjarangan dilakukan 15-20 HST, sehingga tinggal 2 tanaman per lubang tanam. Sambil menyiang tanaman dibumbun. Diupayakan agar pertananam tidak tergenang. Pengendalian Hama dan Penyakit Kerugian-kerugian akibat serangan yang ditimbulkan antara lain adalah sebagai berikut: Tanaman mengalami gangguan fisiologis, menurunkan hasil (biji wijen), baik kuantitas maupun kualitas, biaya produksi menjadi lebih besar. hama dan penyakit wijen serta gejala-gejalanya harus dipketahui, dan penggunaan pestisida secara efektif. Pengendalian secara preventif dilakukan dengan menanam jenis atau varietas tanaman yang tahan atau resisten terhadap serangan beberapa hama atau penyakit, pergiliran tanaman, penanaman menurut musim, pengolahan tanah, secara baik, sistem tumpang sari, dan penyemprotan pestisida secara berkala dan teratur. Panen dan pasca panen Panen yang tepat dilakukan bila 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan. Penguningan dimulai dari polong-polong yang berkedudukan di bawah. Bila terlambat polong akan pecah, bila jatuh dan tidak lagi dapat diambil. Pemanenan yang dilakukan saat polng mulai pecah, sebaiknya menggunakan sabit bergerigi, pelan-pelan batang dipegang dan dipotong 10-15 cm di bawah kedudukan buah. Posisi batang masih tetap tegak, kemudian dibalik agar biji dalam polong yang sudah pecah jatuh ke tempat yang sudah dipersiapkan. Batang wijen hasil panen diikat, ikatan sebesar sekitar 10-15 cm, kemudian dijemur dalam kedudukan berdiri. Dibawah tempat penjemuran diletakan layar untuk menampung biji wijen. jika Nampak polong-polong sudah pecah, ikatan batang wijen dibalik yaitu ujungnya terletak dibawah sehingga biji keluar. Biji yang sudah keluar dari polong umumnya dijemur selama 1 hari penuh agar kandungan kadar air kurang dari 7 % .(sumber : Mardjono, R. dan Suprijono, 2005) Penulis : BAMBANG TIONO, SP dan MARSUDIYANTO, SP Penyuluh BPP Widodaren