Budidaya Tembakau Lokal Dengan Sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) di Desa Ganggeng Purworejo
Komoditas tembakau merupakan komoditas yang rutin dibudidayakan petani desa Ganggeng dan sekitarnya, sebagai salah satu mata pencaharian utama petani pada musim tanam ke dua atau musim kemarau. Kondisi alam yang cederung mengalami kekeringan saat musim tanam ke dua atau setelah panen padi merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan tembakau menjadi komoditas primadona petani. Selain kondisi keterbatasan sumber air pengairan, produk tembakau merupakan produk pertanian yang harga jualnya tinggi, mempunyai daya simpan yang cukup panjang serta memiliki pasar jual dalam daerah. Biasanya tembakau akan ditanam secara tumpang sari dengan cabai rawit, dengan harapan ketika tembakau selesai di panen akan dilanjutkan dengan panen cabai rawit. Pada umumnya salah satu tahapan persiapan tanam yang dilakukan petani untuk tanam tembakau adalah dengan melakukan olah tanah terlebih dahulu. Yang dilakukan petani adalah membalik tanah bekas padi dengan kedalaman kurang lebih 25-30 cm menggunakan alat garu atau cangkul. Untuk selanjutnya lahan yang sudah dibalik akan diberi pupuk organik dan dialiri air, agar bisa di ratakan dan disiapkan untuk tanam bibit tembakau yang berumur sekitar 30-45 hari atau sudah berdaun 4-7 lembar. Untuk selanjutnya dilakukan pemupukan, pembumbunan maupun pengairan lahan pada tahap berikutnya. Metode TOT atau tanpa olah tanah tembakau dicirikan dengan menghilangkan tahapan pertama olah tanah yang bertujuan untuk membalik tanah dengan kedalaman diatas 20 cm. Alih-alih dibalik, tanah hanya dibuat lubang tanam dengan kedalaman kurang lebih 5 cm untuk menanam bibit tembakau, setelah sebelumnya lahan dibasahi dengan air. Selanjutnya bibit tembakau ditanam dan dibiarkan tumbuh kurang lebih 10-15 hari dan kemudian dialiri kembali agar tanah bisa dibumbun menggunakan kultivator. Hal dilakukan dengan tujuan untuk pembalikan tanah sekaligus membumbunan akar, pemupukan serta menghilangkan gulma di sekitar tanaman tembakau. Tahapan pemeliharaan selanjutnya sesuai dengan tehnik budidaya tembakau pada umumnya, antara lain pemupukan, pengairan, pembumbunan, punggel dan wiwil suli. Upaya mengurangi tahapan olah tanah atau sistem TOT pada budidaya tembakau mempunyai beberapa keuntungan antara lain menghemat tenaga kerja, menghemat biaya yang dibutuhkan serta dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan saat persiapan tanam. Hal ini sangat membantu petani karena keterbatasan waktu mengingat sumber air pengairan akan semakin menyusut saat kemarau mulai memasuki pertengahan musim. Sistem TOT pada budidaya tembakau tidak mempengaruhi output hasil panen tembakau secara signifikan, sehingga metode ini mulai banyak ditiru petani yang sebelumnya masih membudidayakan tembakau dengan olah tanah. Teknologi terapan yang dilaksanakan di desa Ganggeng ini diharapkan dapat memberi contoh kreatif bagi petani tembakau di daerah lain untuk terus berupaya belajar beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam dan demografi untuk menemukan inovasi baru agar petani tetap bisa berbudidaya dan meningkatkan kesejahteraan anggota keluarganya. Oleh : Dwiati Ratnasari, S.TP PP Pertama DINPPKP Kab.Purworejo