Loading...

Bukit Batabuah : Perkambungan Markisa Penuh Harapan

Bukit Batabuah : Perkambungan Markisa Penuh Harapan
Buah, merupakan salah satu sumber gizi, karena itu buah sangat penting dikonsusi oleh setiap orang. Di dalam daging mengandung berbagai vitamin, baik vitamin A, B, C, dan sebagainya. Berbagai jenis tanaman buah tumbuh dan berkembang di berbagai negeri kita ini. Ada papaya, pisang, mangga, nangka, durian, manggis, dan ratusan jenis tanaman buah lainnya yang sudah dibudidayakan oleh petani.Meski sudah banyak dibudidayakan, namun ada juga tanaman buah yang belum dibudidayakan, diantaranya adalah Markisa yang tumbuh liar di hutan finus Lereng Gunung Merapi, Nagari (Desa) Bukik Batabuah, Kecamatan Candung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Bentuk buahnya berbeda dengan buah markisa yang sudah dibudidayakan di Alahan Panjang, Kabupaten Solok (Sumbar). Bila markisa yang dihasilkan di Alahan Panjang berbentuk bujur telur, namun markisa rimba yang dipungut dihutan finus Nagari Bukik Batabuah, Candung itu berbentuk bulat.Bila markisa dari Kabupaten Agam tersebut dicicipi, akan dapat dinikmati rasa daging buah yang begitu manis, berbeda dengan rasa manis markisa Alahan Panjang, Kabupaten Solok Tersebut. Beberapa pejabat yang dinas luar dari Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Barat ke Nagari Bukik Batabuah itu, Kamis belum lama ini, menuturkan manisnya buah markisa dari Nagari Bukik Batabuah ini, sebutnya, jauh lebih manis dibandingkan dengan markisa Alahan Panjang, Solok.Hampir setiap hari warga yang menekuni usaha pemungutan markisa rimba ini naik gunung melakukan pemanenan buah markisa rimba ini di hutan finus Lereng Gunung Merapi tersebut. Hasilnya di Jual ke Pasar Padang Luar, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam juga, sekitar 15 km dari Nagari Bukik Batabuah. Harga jual lebih mahal dari markisa Alahan Panjang. Bila markisa Alahan Panjang laku dijual Rp4 ribu/kg, markisa asal Bukik Batabuah dibeli pedagang pengumpul Rp6-7 ribu.Markisa Bukik Batabuah tersebut tidak hanya dipasrkan di Pasar Padang Luar, tetapi juga dijual ke Pasar Koto Baru, Kabupaten Tanah Datar. Di Pasar Koto Baru, orang sering bertanya, "Markisa Candung masih ada?". Ketika pembeli yang dating dari jauh tidak menemui lagi markisa dari Bukik Batabua, Candung ini, mereka kecewa. "Ooooooo, awak ala jauah-jauah datang kamari, indak lo ado lai", gerutunya dalam bahasa Minang. Dalam bahasa Indonesianya, saya dating dari jauh, tetapi tidak ada lagi markisa yang akan dibeli.Markisa yang tumbuh dihutan finus pinggang Gunung Marapi di Nagari Bukik Batabuah tersebut merupakan salah satu sumber ekonomi masyarakat disana yang menekuni pemungutan hasil hutan daerah itu. Sejauh ini diterima informasi, bahwa sudah adanya penelitian terhadap tanaman markisa yang tumbuh liar di lereng Gunung Merapi Nagari Bukik Batabuah tersebut. Tapi disisi lain, beberapa penduduk sudah memulai berusaha membudidayakan markisa tersebut semenjak beberapa bulan lalu, hingga saat ini belum menghasilkan. Pertumbuhannya tanaman terlihat terlalu subur, daun rimbun, menghijau dan lebat. Menurut pembudidayanya, Anizar (48), markisa yang ia tanam sekitar 5 bulan lalu itu, hingga saat ini masih belum menghasilkan, namun ia ingin coba sampai umur berapa bulan semenjak ditanam makanya markisa ini berbuah. Yang jelas, sebut Anizar, bibit yang ditanamnya itu berasal dari tanaman markisa yang tumbuh liar di lereng Gunung Merapi Nagari Bukik Batabuah tersebut.Perakaran anakan ketika memungut bibit di hutan, tidak dalam dan mudah dalam pengambilan. Dari 8 anakan yang ia ambil dan ditanam dipekarangan rumahnya, 6 batang hidup, itulah yang saat ini ia pelihara dan belum berbuah tersebut. Sebenarnya, tanaman markisa itu dapat diperbanyak dengan cara stek, guna untuk mempertahankan keunggulannya, tetapi hal itu belum dicoba di Nagari Bukik Batabuah, karena diperlukan adanya bimbingan khusus terhadap petani yang menekuni usaha untuk budidaya markisa di Nagari Bukik Batabuah. (Lukman SP, Penyuluh Pertanian Ahli Madya)