Cara memilih telur yang baik Hasil produksi pertanian khususnya telur sangat mudah dan cepat rusak/busuk serta mudah pecah. Salah satu masalah penting yang dihadapi adalah menjaga kwalita telur tetap baik agar dapat diterima oleh konsumen. Di tinjau dari segi pemasaran hal ini merupakan usaha menekan biaya produksi bagi peternak. Syarat utama untuk memudahkan pemasaran adalah menghasilkan telur yang berkwalitas tinggi. Selanjutnya mulai dari telur dibawa dari peternak sampai kepada konsumen, kwalitas telur tersebut harus dijaga sebaik mungkin agar keadaanya tidak jauh berubah dari keadaan semula. Untuk itu diperlukan ketrampilan dalam memilih telur yang baik.Ada beberapa cara untuk dapat mengetahui mana telur yang masih baik yaitu (1) menggunakan sinar matahari atau lampu pijar (candling), (2) merendam telur dalam air, (3) memecahkan telur.Menggunakan sinar matahari atau lampu pijar Dengan cara ini telur yang akan diperiksa dikepal dalam tangan, kemudian diarahkan pada lampu atau sinar matahari. Dengan memutar-mutarkan telur dalam kepalan tangan, akan terlihat bahwa telur yang baik akan kelihatan terang di bagian dalam dan kuning telur berada diengah-tengah. Dengan menggunakan lampu pijar ini, akan dapat diamati letak dan besarnya kning telur, besarnya rongga udara, kemulusan kulit telur , adanya noda pada isi telur yang berwarna merah atau kehitam hitaman yang menunjukkan adanya bintik darah atau benda asing lainnya. Lebih baik lagi bila lampu pijar (40 watt )tersebut diletakkan dalam sebuah kantong atau kaleng yang berbentuk kerucut Telur yang masih baru (segar) mempunyai tanda-tanda atau cirri-ciri yaitu kulitnya mulus, rongga udaranya masih kecil, letak kkuning telur berada ditengah tidak bergerak bebas, tidak ada noda merah atau hitam (bintik darah atau benda-benda asing) pada isi telur.a. Kulit telur, Pemeriksaan dengan menggunakan lampu (candling) dapat mengungkapkan keadaan kulit telur, apakah baik atau retak. Kulit yang tipis juga dapat diketahui, karena bagian yang tipis tersebut kelihatan lebih terang daripada bagian kulit telur lainnya. Kulit telur yang terlalu tupis atau lunak tidak baik, karena mudah retak atau pecah dan penguapan air dari dalam telur lebih cepat. Pori-pori akan semakin banyak terdapat , bila telur semakin lama disimpan.b. Ruang udara, dengan candling ini dapat dilihat pula mengenal ukuran ruang udara pada telur. Pada telur segar, yaitu telur yang baru keluar dari induknya, belum terdapat ruang udara. Dalam waktu yang singkat mulai kelihatan ruang udara setebal 3mm. Pada suhu udara yang hangat dan kering, ukuran ruang udara ini bertambah. Pada peneropongan telur konsumsi di pasar, tebalnya ruang udara ini dipakai sebagai pedoman untuk menentukan sampai berapa jauh mutu kuning dan putih telur telah merosot.c. Putih telur, dengan penerangan dapat diamati kekentalannya, ada tidaknya noda seperti bintik darah, daging atau lemak. Semakin jelek mutu telur, semakin encer putih telurnya.d. Kuning telur, disini diamati gelap atau tidaknya bayangan kuning telur, semakin jelas bayangan tersebut, berarti semakin jelek dan semakin datar bentuknya, menunjukkan semakin rendah mutuhnya. Juga dapat dilihat ada tidaknya noda dan pembulu darah sebagai suatu tanda adnya tunas yang sedang tumbuh, kuning telur seharusnya terletak di tengah-tengah dan stabil jika telur digerakkan.Merendam telur dalam air, Dengan merendam telur akan terlihat bahwa telur yang baik akan tenggellam, sedangkan telur yang busuk (kurang baik) akan terlihat melayang dalam air.Memecahkan telur, membeda-bedakan kwalitas isi telur dlam rumah tangga dapat dilakukan dengan memecah telur dan isinya dan ditempatkan pada piring atau kuali penggorengan. Bila isi telur segar dan normal ditumpahkan, maka kuning dan putih telur tebal akan berdiri membukit, sedang bagian putih telur yang tipis akan menyebar sedikit keluar. Sedang pada telur yang telah basi, kuning telur dan bagian putih telur yang tebal akan Nampak mengempis. Semakin jelek mutu telur, putih telur semakin encer dan meniois dan kuning telur semakin melebar dan mendatar. Penyusun :Sad Hutomo PribadiSumber bacaan : Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta