Tikus merupakan salah satu hama yang paling merugikan bagi petani, potensi kerusakan akibat serangan tikus sawah. Tikus sawah menyerang pada semua fase dari fase vegetatif sampai pada fase generatif, juga dapat menyebabkan kerusakan prapanen yang parah pada tanaman pangan yang lain (palawija, umbi-umbian dan kacang-kacangan). Selain itu tikus juga dapat menyebabkan kerusakan hasil panen di gudang penyimpanan (pasca panen). Tikus sawah biasanya berukuran sedang antara 25-40 cm (dari kepala sampai ekor). Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek dari panjang kepala-badan; dan moncongnya berbentuk tumpul. Tikus mempunyai indra penglihatan yang lemah dan buta warna, tetapi indra tubuh yang lain (penciuman, pendengaran, pengecap, dan peraba) sangat tajam. Kemampuan ini dan didukung oleh fisik yang prima menjadikan tikus ahli dalam hal berlari, menggali, memanjat, melompat, mengerat, berenang dan menyelam. Tikus sawah juga berperilaku cerdik dan punya kemampuan belajar/ mengingat sehingga tidak mudah terperangkap umpan. Tikus merupakan hewan omnivora dan menyukai hampir semua makanan yang biasa dimakan manusia. Namun apabila persediaan makanan melimpah, tikus akan memilh memakan makanan yang paling disukai. Tikus punya kemampuan berkembangbiak yang sangat cepat. Hal ini disebabkan karena masa bunting dan menyusui bagi tikus betina sangat singkat. Induk betina mampu kawin lagi dalam waktu hanya 24-48 jam setelah melahirkan. Selain itu tikus juga cepat dewasa dan beranak banyak. Dalam satu musim tanaman padi, satu ekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru. Namun demikian masa bunting tikus betina paling banyak hanya dalam periode waktu tertentu. Periode ini biasanya bersamaan dengan masa bunting dan masak susu dari pertumbuhan tanaman padi. Oleh karena itu apabila waktu tanam padi dapat serempak dalam areal luas maka pengendalian hama tikus lebih mudah dilakukan. Sebaliknya bila pola tanam padi tidak teratur maka pola perkembangan tikus juga tidak teratur sehingga lebih sulit dilakukan upaya pengendalian. Tikus biasa hidup secara berkelompok dalam suatu kawasan yang cukup terlindung dan cukup makanan. Lokasi-lokasi yang paling disukai tikus untuk dijadikan sarang antara lain :• Tempat-tempat yang jarang dikunjungi manusia• Lahan kosong yang tidak terpelihara• Semak belukar• Rumpun bambu• Gudang• Tumpukan sampah• Pematang sawah• Sekitar aliran irigasi, sungai, selokan, got CIRI SERANGAN Tikus biasa menyerang tanaman di sawah pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus di sawah dideteksi dengan jejak kaki, jalur jalan, kotoran/ faeces, lubang aktf, dan gejala serangan. Gejala serangan pada tanaman padi : adanya tanaman yang roboh; dan pada serangan berat, tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah meluas ke arah pinggir dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. Selain menyerang tanaman padi, tikus juga dapat menyerang tanaman jagung, kedelai, umbi-umbian dan kacang-kacangan. STRATEGI PENGENDALIANDalam mengendalikan hama tikus harus dilakukan koordinasi tentang waktu, sasaran, dan teknik pengendalian yang dilakukan. Pelaksanaan pengendalian harus dilakukan secara bersama-sama dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian dalam skala luas. Kegiatan pengendalian sebaiknya ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Cara pengendalian tikus antara lain :a. Pengendalian secara kultur teknis• Tanam serempak• Pergiliran tanaman• Jarak tanam yang ideal (jajar legowo)b. Gropyok massal, sanitasi lingkungan Difokuskan pada habitat-habitat tikus seperti tanggul irigasi, pematang besar, tanggul jalan, batas sawah dengan perkampungan dan tempat-tempat potensial lain seperti seperti semak belukar, rumpun bambuc. Pengendalian secara mekanis dan biologi• Melepas musuh alami (ular, burung hantu)• Pemasangan TBS dan LTBS (dilakukan pada daerah endemik tikus khususnya pada musim kemarau untuk menekan populasi tikus pada awal musim tanam) TBS (Trap Barrier System) merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal 20 x 20 m2 yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya. Tanaman perangkap dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m. Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi di dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang musim tanamLTBS (Linier Trap Barrier System) merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan jalan sawah. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk ke dalam bubu perangkap. d. Pengendalian secara kimiawi• Menggunakan emposan/ fumigasiFumigasi dengan asap belerang paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadium generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk beranak. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubang. • Menggunakan umpan racunRodentisida digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi. Rodentisida bisa digunakan bersama umpan. Umpan dipilih dari bahan makanan yang disukai tikus seperti biji-bijian. Oleh : M. Bushoiri, SPBPP Gampengrejo