Loading...

DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN PESTISIDA PADA HAMA WERENG BATANG COKLAT (WBC) PADI SAWAH

DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN PESTISIDA PADA HAMA WERENG BATANG COKLAT (WBC) PADI SAWAH
Nilaparvata lugens (Wereng Batang Coklat) merupakan hama utama yang menyebabkan kerugian hasil yang tinggi jika tidak segera ditangani (dikendalikan). Kerugian yang disebabkan bisa sampai terjadi puso (gagal panen). Pada awalnya WBC bukanlah hama penting padi. Salah satu hal yang menyebabkan WBC menjadi salah satu hama penting padi adalah penggunaan pestisida secara serampangan. Dalam bahasan teoritis, WBC merupakan hasil dari peledakan hama sekunder atau dikenal dengan istilah resurjensi hama. Penggunaan pestisida yang tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis/konsentrasi, dan tepat cara penggunaan) menyebabkan resurjensi hama terjadi. Resurjensi adalah timbulnya ledakan populasi suatu hama tertentu setelah mendapat perlakuan pestisida (Untung et al., 1986). Terjadinya peningkatan populasi hama setelah aplikasi insektisida telah banyak dilaporkan, diantaranya yang paling populer adalah aplikasi dikloro difenol trikloroetan (DDT) pada pohon pear di California menyebabkan populasi tungau meningkat. Peristiwa yang sama juga terjadi pada Panonychus ulmi Koc. setelah penyemprotan insektisida pada pohon apel. Peningkatan populasi hama tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan pada proses fisiologis atau hormon pada serangga baik seraca langsung maupun tidak langsung. Resurjensi pada tungau bukan hanya disebabkan oleh penyemprotan DDT, tetapi juga karena penyemprotan Nia-10242, diasation, etion, karbofenotion, GS-13005, dan karbaril. Resurjensi juga ditemui pada serangga dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, dan Homoptera. Aplikasi DDT pada dosis yang lebih rendah dari anjuran pada tepung gandum yang menyebabkan meningkatnya populasi Sitophilus granasius. Hasil penelitian lainnya menyatakan bahwa keperidian kumbang betina Diabotica virgivera meningkat dan umur imagonya lebih panjang setelah mendapat perlakuan karbofuran. Resurjensi juga terjadi pada Heliothis spp.dan Pseudoplusia includens Walker yang disebabkan oleh metil paration.Insektisida permetrin, dekametrin, isoprokarb, karbaril, dan diazinon dengan dosis dibawah anjuran (sublethal) meningkatkan keperidian Spodoptera litura F. pada tanaman kedelai. Residu insektisida fenvalerat menyebabkan serangga dewasa S. Litura betina lebih lama serta jumlah telur yang menetas lebih banyak.Di Indonesia paling banyak terjadi peristiwa resurjensi hama pada hama padi khususnya wereng coklat. Hal ini salah satu menjadi alasan keluarnya Intruksi Presiden No. 3 tahun 1986. secara umum untuk menghindari terjadinya resurjensi hama. Kondisi inilah yang mengharuskan kita sebagai penyuluh pertanian bersiap siaga melakukan upaya untuk melakukan tindakan preventif agar tidak terjadi kasus serupa di wilayah binaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman penggunaan pestisida yang memenuhi kaidah 6 tepat.