Loading...

DIPERTANHUT LAKUKAN GERMAS OPT TIKUS

DIPERTANHUT LAKUKAN GERMAS OPT TIKUS
Lahan swah seluas 2,5 ha perbatasan Desa Blimbing dan Desa Karangtalok Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang menjadi pusat Gerakan Massal (Germas) pengendalian OPT tikus. Jum`at tanggal 29 Mei 2015 berkumpul segenap pejabat dan karyawan dilingkungan Dipertanhut Kabupaten Pemalang , penyuluh, PHP , Kades Karangtalok serta dibantu TNI dari Koramil Kecamatan Ampelgading melakukan Germas OPT Tikus dengan melibatkan 500 orang dari warga desa setempat.Acara germas tersebut menggunakan alat emposan menggunakan belerang serta bahan bakar LPG dan pasukan anjing pemburu. Pada kesempatan tersebut Kepala Dipertanhut Kabupaten Pemalang Suharto SIP. M.Si mengatakan " gerakan ini didukung sepenuhnya oleh TNI dan seluruhmasyarakat karena akan mengurangi resiko kehilangan hasil bahkan gagal penen." Katanya dalam mengawali germas. "Keberhasilan dalam menekan OPT akan sangat membantu perningkatan produksi dan produktivitas tanaman sehingga sudah tepat kalau kegiatan ini perlu terus digalakkkan disemua tempat endemis tikus utamanya. " tambahnya labih lanjut.Sebenarnya lahan sawah 150 ha Desa Karangtalok sudah sejak tahun 2013 yang lalu berhasil menekan hama OPT Tikus dan tebukti sejak itu tidak mengalami gagal panen bahkan sekarang boleh dikata kontribusinya terhadap produksi gabah cukup lumayan karena rata-rata per hekatar sudah lebih dari 6 (enam) ton. Keberhasilan tersebut disamping terus-menerus melakukan gropyokon setiap minggunya , juga adanya pemeliharaan burung hantu Tyto Alba. Karena jumlah burning hantunya masih sedikit belum seimbang dengan luas lahan dan hama tikus perlu dibantu dengan gropyokan. Kades Karangtalok Karnoto saat ditemuai secara terpisah mengatakan" sebenarnya dengan burung hantu Tyto Alba sudah mampu mengatasi OPT tikus, bila hanya tikus berasal disekitar wilayah setempat. Namun yang terjadi migran dari daerah lain seperti lahan tebu dan lahan sekitar yang sudah habis tanamannnya.. Oleh karena itu pengendalian memang perlu serentak dan bersama-sama " jelasnya .Sementara itu Sukardi SP selaku Kabid Tanaman Pangan yang berkepentingan langsung terhadap keberhasilan Peningkatan Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Pangan menjelaskan" kita sudah membentuk Satgas disetiap kecamatan dan bilamana terjadi serangan yang sudah mengancam, maka satgas tersebut siap bergerak untuk mengendalaikan OPT tersebut". Selanjutnya disampaikan bahwa untuk keberhasilan PAJALE kami sekuat tenaga akan menyediakan obat-obatan dan siap setiap waktu" jelasnya dengan mantap. Diyono selaku Pengamat Hama Penyakit (PHP) menyampaikan bahwa pengendalian tikus secara gropyokan dengan alat emposan serta regu anjing pemburu merupakan salah satu cara effektif untuk menekan hama tikus. " hari ini ada 7 kelompok pembawa emposan dan ditambah 1 (satu) regu anjing pemburu dengan 4 orang pawang" jelasnya saat kegiatan gropyokan. Biaya gropyokan merupakan swadaya, tapi untuk regu anjing pemburu menyewa dengan upah 1 orang pawang berkisar 100 ribu rupiah. Kombinasi adanya gropyokan, penggunaan anjing pemburu dan pemanfaatan burung hantu sangat efektif mengurangi resiko kegagalan panen.Tikus merupakan hewan pengerat bergigi seri yang terus tumbuh. Gigi seri ini terus diasah agar pertumbuhannnya terkendali dan tidak menyusahakan. Melihat perilaku tersebut, maka sebenarnya makannya tikus tidak seberapa namun keperluan untuk mengasah giginya yang berakibat banyak tanaman yang rusak. Pengendalian yang terus menerus dengan berbagai kombinasi yang ada akan membantu menekan kerugian petani serta resiko kegagalan panen.Penulis :Nurul Ashar( PP Madya pada Dipertanhut Kabupaten Pemalang).