Pagi itu, saat meluncur menuju Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Cukuh Balak. Perjalanan kami terhenti di Desa/Pekon Tanjung Betuah. Hamparan sawah tepat di pinggir jalan pekon ini mengalami masalah. Tanaman padi yang baru berumur 25 hari daunnya rusak. Tergulung dan patah. Petani yang saat itu lagi melakukan penyemprotan hama menggunakan insektisida mengeluh. "Pak penyakit ini susah diatasi, bermacam obat kami telah semprotkan. Tapi padi tetap rusak." Hasil pengamatan, hama yang menyerang adalah hama putih (Nymphula depunctalis) dan hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) yang menyebabkan daun padi rusak dan menggulung. Petani tersebut saya panggil dan perlihatkan sebuah fenomena alami di sawahnya. Saya perlihatkan banyak sisa-sisa kepompong capung hampir di setiap rumpun padi. "Pak ini kepompong yang sudah ditinggal oleh capung dewasa karena mengalami metamorphosis. Dan ini adalah musuh alami atau pemangsa dari hama-hama tersebut," tegas saya. Capung (Agriocnemis) adalah hewan golongan serangga yang hidupnya tidak jauh dari air, tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak-anaknya. Capung dibedakan menjadi dua. Pertama, Capung biasa (Subordo anisoptera), dengan tubuh realtif besar dan hinggap dengan sayap terbuka atau terbentang. Kedua, Capung Jarum (Subordo zygoptera), bertubuh relatif lebih kecil dan memiliki abdomen atau badan yang kurus ramping mirip jarum dan hinggap dengan sayap tertutup. Capung dengan bahasa latin Orthetrum sabina yang berasal dari benua Amerika merupakan binatang purba yang hidup dari 480 juta tahun lalu. Sehingga terkenal dengan sebutan dragonfly. Capung berevolusi dari masa ke masa hingga menjadi cantik dan menarik. Capung salah satu serangga yang memenuhi planet bumi ini. Bagi dunia pertanian, capung adalah agens hayati atau musuh alami pada hama padi yang paling luar biasa atau berbahaya. Capung memangsa atau memakan hama padi seperti hama putih, putih palsu, ngengat dan wereng. Mengapa Capung dikatakan musuh alami hama yang paling luar biasa? 1. Dari fase nimfa hingga dewas capung merupakan hewan karnivora. Saat fase larva, capung memakan serangga di rumpun padi dan bisa melompat kerumpun lain untuk mengejar mangsanya. Setelah dewasa kelebihan capung bisa mencegat atau memangsa mangsanya di udara. 2. Terlihat sangat cantik dan manis namun capung sebenarnya adalah predator yang ganas dengan rahang yang tajam dan mampu membantai mangsanya di udara tanpa menadarat sama sekali. 3. Capung memiliki penglihatan 360 derajat dan memiliki mata majemuk yang berisi 30.000 segi (pemangsa super akurat). 4. Capung dapat memperhitungkan dengan cermat dan akurat, kecepatan lintasan mangsa sehingga dapat mencegatnya dengan strategis. 5. Capung dapat terbang ke segala arah, ke depan, belakang, samping kanan kiri dan bisa terbang menetap selama beberapa menit. 6. Capung memiliki rekor imigrasi/berpindah tempat terjauh di dunia yaitu 11.000 mil 7. Mampu hidup dalam air dalam waktu yang lamanya. Capung bertahan hidup 7 bulan dan mengalami metamorphosis tidak sempurna. Dari telur lalu nimfa kemudian capung muda dan capung dewasa. Fase nimfa merupakan masa yang sangat optimal sebagai predator hama padi, karena sifat rakus dan keganasanya. Sedangankan pada fase dewasa, capung tetap menjadi pemangsa namun lebih besar menjadi mangsa atau diburu pemangsa lain. Selain pemangsa, penggunaan racun atau pestisida untuk pemberantas hama penyakit juga menyebabkan tingkat kematian yang tinggi untuk hewan ini. Jadi bijaksanalah dalam mengaplikasikan pestisida. Jangan sampai musuh alami si penjaga tanaman padi mati teracun dari mulai telur, nimfa hingga dewasa. Dan sangat disesalkan. Dengan sedikit tulisan ini, kita bersama sama menjaganya. Agar dragonflay tetap lestari dan penjaga yang abadi untuk sawah petani. Oleh Roni Sepriyono, SP. (PPL Cukuh Balak Tanggamus)