Loading...

EFISIENSIAIR IRIGASI

EFISIENSIAIR IRIGASI
Berhubung kebutuhan air untuk tanaman padi cukup besar, maka dalam pemberiannya diperlukan efisiensi. Efisiensi irigasi dapat ditafsirkan dengan berbagai definisi, tergantung dari sudut mana memandangnya. Dari sudut pandang pertanian, efisiensi irigasi didefinisikan sebagai keluaran produksi pertanian per satuan air sebagai masukan. Dari sudut pandang keteknikan, pengertian efisiensi irigasi ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak seluruh air yang diberikan atau disadap dan masuk ke saluran dapat dialirkan ke bangunan penyadapan berikutnya/ petak lahan yang diairi, tetapi ada bagian yang hilang/ tidak dapat dimanfaatkan. Kehilangan ini antara lain disebabkan oleh adanya evaporasi, seepage, perkolasi, bocoran, aliran permukaan, pencurian dan juga akibat pengelolaan yang kurang baik. Secara teknis, pengertian efisiensi ini lebih dipersempit dengan mencari perbandingan antara volume air yang keluar dan yang masuk pada setiap sub sistem. Pada umumnya efisiensi irigasi dibagi menjadi 3 macam: (1). Efisiensi penyaluran (conveyance efficiency) pada jaringan utama (primer dan sekunder), (2). Efisiensi distribusi (distribution efficiency) pada jaringan distribusi/ tersier dan (3). Efisiensi pemakaian (application efficiency) di tingkat lahan. Nilai dari efisiensi penyaluran dan distribusi dipengaruhi oleh kualitas perancangan, konstruksi, dan pengelolaannya. Sedangkan nilai efisiensi penggunaan air umumnya dipengaruhi oleh kondisi lahan dan cara pengelolaannya. Efisiensi irigasi secara keseluruhan/ efisiensi proyek (overall efficiency, project efficiency) merupakan hasil perkalian dari ketiga efisiensi tersebut. Nilai efisiensi penyaluran dan efisiensi distribusi dapat diukur melalui berbagai cara antara lain dengan cara pembendungan (ponding method), pengukuran aliran masuk-aliran keluar (inflow-outflow method), dsb.Menurut Ditjen Pengairan (1997), efisiensi irigasi di Indonesia masih relatip rendah yaitu berkisar antara 35 - 45 %, dan masih lebih rendah dari yang diharapkan dalam perancangannya yaitu 59 - 73 %. Berdasarkan perancangan, kehilangan air irigasi pada jaringan primer dan sekunder masing-masing berkisar 7,5 - 12,5 %, dan pada jaringan distribusi 15 %.Penelitian tentang efisiensi penggunaan air maupun efisiensi irigasi telah banyak dilakukan termasuk juga di Indonesia. Dalam penelitian efisiensi penggunaan air umumnya para ahli agronomi menggunakan konsep secara agronomis (hasil per satuan air yang dikonsumsi) sedangkan para ahli teknik pertanian/ irigasi menggunakan konsep secara teknis (nisbah jumlah air yang dimanfaatkan dengan yang diberikan di lahan). Penelitian efisiensi penggunaan air di Indonesia pada umumnya baru terbatas pada padi sawah, yang diairi dari sistem irigasi permukaan. Dari beberapa hasil penelitian efisiensi agronomis ynag dilakukan oleh Didiek Setiobudi dari Balai Penelitian Padi di Sukamandi Jawa Barat menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan air tertinggi didapat pada perlakuan pemberian air dengan interval 4 hari (8,79 kg/ha.mm dan 8,90 kg/ha.mm); digenangi (7-35 HST dan 51-85 HST), macak-macak (36-50 HST) sebesar 7,8 kg/ha.mm; tanpa olah tanah (TOT) selang 3 hari (4,31 kg/ha.mm); pemberian air pada padi TABELA secara macak-macak terus (8,41 kg/ha.mm). Sedangkan perlakuan cara petani masih relatip rendah 6,68 kg/ha.mm (di Indramayu).Sedangkan penelitian efisiensi irigasi secara teknis yang dilakukan oleh Fakultas Teknologi Pertanian bekerja sama dengan Ditjen Pengairan, antara lain telah dilakukan oleh Deddy Kusnadi (1996), Sukirno, et al (1986), Suprojo (1997), Haryanto (1991), Partowiyoto et al (1989). Dari hasil penelitian Deddy Kusnadi (1996) menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi irigasi di Indonesia 19 % pada MH dan 57 % pada MK. Sedangkan menurut hasil penelitian dari Suprojo (1997), Haryanto (1991) dan Partowiyoto, et al (1989) setelah diolah didapatkan efisiensi irigasi sebesar 55,3 % pada MH dan 41,4 % pada MK. Adapun rata-rata efisiensi irigasi dari penelitian-penelitian tersebut, pada MH 37,2 % dan pada MK 49,2 % atau rata-rata 43,2 %. Untuk penelitian efisiensi penggunaan air berdasarkan cara pemberian air yang dilakukan di petak percobaan di DI Jurangsate (Sukirno, et al, 1986), menunjukkan bahwa: efisiensi penggunaan air dengan pemberian air secara intermiten pada MH 33,7 % dan MK 56 %; secara terus menerus MH 26,3 % dan MK 15,3 %; dan secara petani MH 17 % dan MK 13,3 %. Rendahnya nilai efisiensi penggunaan air ini mungkin disebabkan karena daerah irigasi yang bersangkutan masih baru sehingga para petani belum terbiasa berusaha tani di lahan irigasi, serta belum stabilnya kondisi sawah yang ada.Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yaho.co.idSumber : Direktorat Pengelolaan Air Irigasi. 2014. Modul Pelatihan Pengelolaan Air Tingkat Usaha Tani, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta 43 halaman Hal 8-9.Sumber Gambar : http://cukubalak.16mb.com/