Pelaksanaan FFD di Kelompok Tani "Olat Sare" dilaksanakan pada demplot jagung MT April-September 2015. Dalam kesempatan itu dihadiri Oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K), Kepala Camat Poto Tano, Babinsa, Koordinator Penyuluh Kabupaten, Kepala Dusun Tambak Sari, Ketua Kelompok Tani se Kecamatan Poto Tano, Penyuluh, THL-TB dan Penyuluh Swadaya. Sebelum Melakukan Pertemuan dan tanya jawab, kegiatan dimulai dengan melakukan panen jagung oleh Pelaksanaan FFD di Kelompok Tani "Olat Sare" dilaksanakan pada demplot jagung MT April-September 2015. Dalam kesempatan itu dihadiri Oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K), Kepala Camat Poto Tano, Babinsa, Koordinator Penyuluh Kabupaten, Kepala Dusun Tambak Sari, Ketua Kelompok Tani se Kecamatan Poto Tano, Penyuluh, THL-TB dan Penyuluh Swadaya. Kepala BKP5K, Camat Poto Tano, Kepala BP3K Pototano, Babinsa, Kepala Dusun Tambak Sari secara simbolis di lokasi yang telah disediakan. Setelah melakukan panen secara simbolis maka dilakukanlah pertemuan yang telah disediakan. hal ini bertujuan untuk saling tukar informasi baik dari badan maupun dari petani itu sendiri. kendala yang dihadapi oleh petani pada MT 2 ini adalah masalah kebutuhan air yang paling besar dikarenakan musim panas yang sangat panjang. hal ini yang menakuti produksi hasil jagung menurun dikarenakan kandungan air yang ada pada tongkol berkurang. Selain itu juga Kebutuhan pupuk yang diterima oleh petani tidak sesuai dengan waktu melakukan pemupukan hal ini mempengaruhi jadwal pemupukan dan meningkatkan produksi, harga benih yang sangat tinggi tidak sesuai dengan harga jual hasil pertanian, Pemasaran yang masih terbatas, Harga dipasaran saat panen sangat dibawah harga standar pemerintah. Selain itu juga petani mengeluhkan akses jalan menuju area persawahan petani yang mengakibatkan harga semakin dibawah harga yang telah ditentukan. seperti yang dikeluhkan oleh petani Tua Nanga "Akses jalan berbatu dan tanah yang membuat para pembeli menjadikan alasan sehingga hasil pertanian dibeli dengan harga yang sangat rendah sehingga petani mengalami kerugian yang sangat besar. adapun petani dari Tua Nanga juga menyatakan "Ratusan Juta Rupiah uang tidur" hal ini dikarenakan lokasi di kecamatan tano pada umumnya tidak dimanfaatkan dengan sangat untuk usaha pertanian pada umumnya. oleh karena itu petani lebih mengarah kepada lokasi penjualan hasil pertanian yang membuat petani semakin sengat dalam melakukan budidaya pertanian baik tanaman padi, palawija dan lainnya.