Loading...

GANYONG SEBAGAI BAHAN PANGAN ALTERNATIF

GANYONG SEBAGAI BAHAN PANGAN ALTERNATIF
Ganyong (Canna edulis Kerr) adalah tanaman herba berumpun dan termasuk kelompok umbi-umbian yang berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini tumbuh liar di tegalan dan toleran pada kondisi tanah yang lembap atau ternaungi, serta dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi sampai 2.500 m di atas permukaan laut. Ganyong biasa ditanam sebagai tanaman sela. Tanaman Ganyong memiliki dua varietas, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah memiliki warna batang, daun dan pelepah yang berwarna merah atau ungu, sedangkan ganyong putih memiliki warna batang, daun dan pelepah yang berwarna hijau, serta sisik umbi berwarna kecoklatan. Ganyong memiliki nilai nutrisi yang tinggi. Umbi tua ganyong dimanfaatkan sebagai sumber pati. Kandungan karbohidrat ganyong cukup tinggi atau setara dengan umbi-umbi yang lain, namun lebih rendah daripada singkong. Karena kaya nutrisi untuk energi, maka ganyong berpotensi menggantikan peran beras sebagai bahan pangan pokok. Selain tinggi nutrisi, ganyong juga kaya manfaat. Umbi muda ganyong dapat dibuat sayur atau dikukus, serta bagian tajuknya dapat digunakan untuk pakan ternak. Umbi ganyong memiliki kandungan mineral kalsium, vitamin C, vitamin B1, fosfor, kalsium dan zat besi, sehingga sangat baik digunakan untuk pertumbuhan anak balita, pertumbuhan tulang, dan mengatasi mimisan gizi buruk. Selain itu, dengan merebus potongan tipis dari ganyong dapat berkhasiat obat untuk radang lambung, radang usus, radang hati, radang ginjal, panas dalam, diare, hepatitis akut, hipertensi, dan radang saluran kencing. Lebih lanjut, umbi ganyong dapat dibuat tepung untuk diolah menjadi aneka makanan tradisional, seperti kue kering, roti, kerupuk, mie, dan makanan olahan lainnya. Tepung ganyong dapat menjadi pengganti terigu untuk membuat aneka pangan olahan, karena rasanya tidak berubah. Kadar pati yang tinggi pada umbi ganyong dapat juga menjadi bahan baku industri, seperti sirup glukosa. Meskipun memiliki nutrisi tinggi dan kaya manfaat, sampai saat ini potensi tanaman ganyong belum dikembangkan dengan baik dan belum diusahakan secara serius dan intensif, karena kurang populer dibandingkan dengan tanaman berumbi lainnya. Teknik Budidaya Ganyong Tanaman ganyong dibiakkan dengan cara vegetatif melalui pemotongan umbi berukuran sedang dengan mata tunas 1-2. Pemotongan umbi lebih disukai untuk menjaga kemurnian genetik klon dibandingkan dengan menggunakan biji. Umbi yang digunakan adalah umbi yang masih muda bukan yang bagian coklat tua. Seluruh umbi dapat ditanam, terpisah pada jarak 50 cm dan kedalaman 15 cm. Bila ditanam terlalu dekat, tanaman terlalu berdesakan, mengakibatkan penampilan jelek. Pada tanah liat dianjurkan menggunakan jarak tanam 90 x 90 cm, dengan jarak barisan 90 cm begitu juga jarak antara barisannya. Pada lahan yang masih banyak ditumbuhi oleh rerumputan atau alang-alang, sebaiknya menggunakan jarak tanam lebih lebar yaitu 135 cm x 180 cm, sedangkan pada tanah liat berat menggunakan jarak tanam 120 cm x 120 cm. Pada tanah pegunungan yang biasanya miring dan sudah dibuat teras, tanaman ganyong sangat menguntungkan karena selain menghasilkan, juga dapat memperkuat lahan teras tersebut. Jarak tanam di lahan berbentuk teras adalah 50 cm urut sepanjang tepi teras. Lebih baik menanam ganyong pada musim hujan, bila tidak, harus diairi. Ganyong ditanam pada bedengan yang telah diolah seluruhnya dan dicampur dengan pupuk dan kompos yang cukup. Pemeliharaan tanaman ganyong sangat penting, sebagai berikut : (a) Penyiangan: menjaga kebersihan bedengan atau areal tanaman dari gangguan gulma, terutama pada masa awal pertumbuhannya. Gulma dapat menghabiskan unsur hara, sehingga pertumbuhan ganyong yang masih muda bisa kekurangan unsur hara. (b) Pembumbunan: menggemburkan tanah. Tanah yang gembur akan membuat umbi yang terbentuk dapat berkembang dengan optimal. Pembumbunan dapat dimulai pada saat ganyong berumur 2 - 2,5 bulan. (c) Penyiraman: bibit yang mulai bertunas banyak sekali memerlukan air, udara dan unsur-unsur hara serta sinar matahari yang cukup untuk menunjang pertumbuhannya terutama untuk memperbanyak akar. (d) Pemupukan: ganyong menyenangi tanah yang gembur (bernutrisi dan sehat). Pupuk yang sangat diperlukan adalah pupuk kandang atau kompos. Pupuk ini dapat diberikan bersamaan dengan pembumbunan. (e) Penyakit dan HamaI: Secara umum ganyong adalah tanaman keras dengan sedikit penyakit dan hama. Beberapa penyakit tanaman seperti Fusarium, Puccinia, dan Rhizoctonia Sp, sementara hamanya antara lain kumbang dan belalang yang memakan daun, serta cacing yang menyerang umbinya. (f) Pemanenan: umbi ganyong dapat dipanen 4-8 bulan setelah tanam, dengan cara dicabut atau digali. Ciri umbi matang adalah apabila potongan segitiga bagian terluar daun umbi berubah menjadi ungu. Panen setelah 8 bulan dapat memberikan hasil yang lebih tinggi, karena umbi ganyong telah mengembang secara maksimum. Hasil umbi bervariasi dari 23 ton per hektar pada 4 bulan menjadi 45-50 ton per hektar pada 8 bulan, atau 85 ton per hektar setelah setahun. Tepung yang dihasilkan adalah 4-10 ton per hektar. Penanganan Setelah Panen; Umbi segar yang baru dipanen harus ditangani secara hati-hati. Bila akan dikonsumsi, harus dilakukan segera setelah panen. Bila dibiarkan lebih dari 10 bulan umbi ganyong akan menjadi keras, kurang dapat dikonsumsi, dan tepung yang dihasilkannya sangat rendah. Umbi yang sudah bersih dapat disimpan beberapa minggu pada kondisi sejuk dan kering. Untuk produksi tepung komersial, umbi diproses segera setelah panen. Untuk memperoleh patinya, umbi diparut, ditambahkan air, dan bubur patinya disaring, dipisahkan melalui pengendapan dan selanjutnya dikeringkan. Penulis : Ricky Feryadi, SP.MP Penyuluh Pertanian Pusat Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan Pustaka Heryanto, R. 2021. Potensi Tanaman Ganyong sebagai Bahan Pangan Alternatif. BPTP Sulawesi Barat. Internet: http://sulbar.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/199-potensi-tanaman-ganyong-sebagai-ahan-pangan-alternatif. Khusniyati, S. 2021. Ganyong sebagai alternative pangan. BPTP Sumsel. Internet: https://sumsel.litbang.pertanian.go.id/berita-ganyong-sebagai-alternatif-pangan.html