Loading...

GEJALA PENYAKIT ANTRAKS PADA HEWAN DAN CARA PENANGGULANGANNYA

GEJALA PENYAKIT ANTRAKS PADA HEWAN DAN CARA PENANGGULANGANNYA
Gejala Penyakit Antraks pada Hewan, sebagai berikut : 1) Gejala yang bersifat perakut (sangat cepat) terjadi sangat mendadak dan segera diikuti kematian; 2) Gejala yang bersifat akut (cepat) pada sapi, kambing, domba dan kuda antara lain demam (suhu tubuh dapat mencapai 41, 5°C), gelisah, sesak nafas, kejang dan ikuti dengan kematian. Antraks (anthrax) adalah penyakit infeksi dan menular pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Penyakit yang di Indonesia pertama kali ditemukan di Teluk Betung pada tahun 1984, ini dapat ditularkan dari hewan penderita ke manusia, sehingga digolongkan sebagai penyakit zoonosa atau zoonosis. Bakteri Bacillus anthracis dapat menginfeksi atau menyerang kulit, paru-paru, saluran pencernaan, dan otak. Bakteri ini hidup di tanah berbentuk spora dan berkembang biak dari kotoran ternak. Spora bakteri Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun dalam tanah. Antraks biasanya dapat menyebar ke manusia melalui hewan, terutama sapi, kambing dan domba.Penyakit Antraks digolongkan sebagai zoonosis yang strategis karena beberapa hal yaitu: 1) Berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan ketenteraman bathin masyarakat; 2) Berpengaruh terhadap Sosio-Politik dan keamanan Negara; 3) Berdampak negatif terhadap perekonomian dan perdagangan Nasional/Internasional. Hewan yang terserang Antraks bisanya hewan yang berdarah panas, seperti pemamah biak atau ruminansia (kambing, domba, sapi, kerbau), rusa, kuda, babi hutan, burung onta dan satwa liar. Adapun Gejala Penyakit Antraks pada Hewan seperti berikut.Gejala Penyakit Antraks pada Hewan, sebagai berikut : 1) Gejala yang bersifat perakut (sangat cepat) terjadi sangat mendadak dan segera diikuti kematian. Gejala berupa sesak nafas, gemetar kemudian hewan rebah. Kadang terdapat gejala kejang. Pada sapi, kambing dan domba mungkin terjadi kematian yang mendadak tanpa menunjukkan gejala penyakit terlebih dahulu; 2) Gejala yang bersifat akut (cepat) pada sapi, kambing, domba dan kuda antara lain demam (suhu tubuh dapat mencapai 41, 5°C), gelisah, sesak nafas, kejang dan ikuti dengan kematian. Terkadang sesaat sebelum kematian keluar darah berwarna kehitaman yang tidak membeku dari lubang-lubang kumlah (lubang hidung, mulut, telinga, anus dan alat kelamin). Pada kuda dapat terjadi nyeri perut (kolik), diare berdarah, bengkak daerah leher, dada, perut bagian bawah dan alat kelamin bagian luar. Adapun Cara Penanggulangan Antraks seperti berikut.Cara Penanggulangan Antraks, sebagai berikut: 1) Penyembelihan hewan dilaksanakan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) resmi dibawah pengawasan Pemerintah; 2) Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan atau pemeriksaan kesehatan daging/karkas, jerohan dan kepala setelah penyembelihan atau pemeriksaan postmortem oleh dokter hewan atau para medis kesehatan hewan dibawah pengawasan dokter hewan pada proses penyembelihan hewan; 3) Hewan yang demam tinggi dan sakit jangan disembelih. Hanya hewan yang sehat (berdasarkan pemeriksaan antemortem) yang boleh disembelih terutama di daerah endemis Antraks; 4) Hewan penderita Antraks harus diisolasi, tidak kontak dengan hewan sehat lainnya, ditangani dan diawasi oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan atau petugas yang berwenang. Peralatan dan kandang yang kontak dengan hewan sakit harus didesinfeksi; 5) Hewan penderita Antraks dilarang disembelih; 6) Hewan yang mati karena Antraks harus segera dimusnahkan dengan cara membakar atau dikubur dalam-dalam. Seluruh peralatan dan kandang dimusnahkan (dibakar) atau didesinfeksi; 7) Orang yang kontak dengan hewan sakit dan hewan yang mati akibat Antraks harus benar-benar memperhatikan hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan.Agar tidak terjadi penularan penyakit Antraks, maka diperlukan ada peran dan kepedulian masyarakat. Peran dan kepedulian masyarakat dalam pengendalian dan penanggulangan Antraks sangat penting. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat, antara lain : 1) Peternak mengawasi kondisi kesehatan hewannya. Di daerah endemis, ternak perlu divaksinasi secara rutin; 2) Masyarakat melaporkan kepada petugas Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) apabila mengetahui di wilayahnya terdapat hewan penderita Antraks dan pemotongan hewan di luar RPH, terutama jika diketahui adanya penyembelihan hewan sakit atau demam tinggi; 3) Pembentukan kader masyarakat untuk berpartisipasi dan melaksanakan pengawasan penyembelihan hewan (Inang Sariati)Sumber : 1) Folder/leflet "Apa Yang Kita Ketahui Tentang : ANTRAKS", Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2007.2) http://www.enajwa.com/wp-content/uploads/2013/10/penyakit-antraks.jpg