Loading...

GEJALA PENYAKIT FISIOLOGIS KARENA KAHAT ATAU KERACUNAN UNSUR HARA PADA TANAMAN KEDELAI

GEJALA PENYAKIT FISIOLOGIS KARENA KAHAT ATAU KERACUNAN UNSUR HARA PADA TANAMAN KEDELAI
Tanaman kedelai disebut sehat atau normal apabila semua fungsi fisiologisnya berjalan sesuai dengan potensi genetisnya. Apabila tanaman terganggu oleh patogen atau lingkungan tertentu sehingga satu atau lebih fungsi fisiologisnya terganggu, maka tanaman tersebut sakit. Yang dimaksud fungsi fisiologis tanaman adalah: pembelahan sel, diferensiasi sel, absorbsi air atau mineral dari dalam tanah dan translokasinya ke seluruh bagian tanaman, fotosintesis dan translokasinya ke seluruh produk fotosintetis, kegiatan metabolisme, dan reproduksi. Gejala penyakit fisiologis pada tanaman kedelai yang disebabkan oleh kahat atau keracunan unsur hara dapat dideteksi dari warna, bentuk, atau ukuran dari daun, batang, maupun akar. Beberapa gejala yang menunjukkan adanya kahat atau keracunan unsur hara pada tanaman kedelai seperti berikut:Kahat Nitrogen (N). Nitrogen merupakan komponen utama penyusun protein, klorofil, enzim, hormon dan vitamin. Nitrogen diserap dalam bentuk ion NO3- dan NH4+, dan merupakan unsur yang mobile atau sangat mudah di translokasikan didalam tanaman. Gejala kahat N pada daun muda, menyebabkan daun berwarna hijau pucat, dan pada kondisi kahat yang sangat berat daun berwarna kuning pucat, batangnya lemah dan memanjang. Pada tanaman tua, daun-daun bagian bawah menunjukkan gejala paling parah dan akhirnya gugur. Secara umum kahat N menyebabkan tanaman kerdil, batang berwarna kemerahan, perkembangan polong terhambat, daun mengecil dan berdinding tebal, sehingga daun menjadi kasar atau keras dan berserat. Kahat N umumnya terjadi pada tanah bertekstur pasir, tanah-tanah bereaksi masam (pH rendah) di mana aktivitas mikroorganisme tanah terganggu. Tanaman kedelai mampu memfiksasi N setara 46 kg N/ha. Secara umum, sekitar 50% dari N yang dibutuhkan tanaman berasal dari penambatan oleh rhizobium. Lahan yang pernah ditanami kedelai umumnya mempunyai populasi Rhizobium alami yang tinggi. Tanah dengan kandungan N-total Kahat Fospor (P). Fospor merupakan komponen utama penyusun nukleoprotein, asam nukleotida, fosfolipida, dan penyusun emzim yang berperan aktif dalam pengangkutan energi. Fospor berperan penting dalam proses fosforilasi, fotosintesis, respirasi, sintesis dan dekomposisi karbohidrat, protein, dan lemak. Unsur P sangat diperlukan untuk pembentukan biji. Fospor diserap dalam bentuk ion H2PO4- dan bersifat mobile di dalam tanaman. Kekahatan P menurunkan aktivitas nodulasi dan fiksasi N, meningkatkan karbohidrat, menurunkan kadar air tanaman, pembentukan bintil akar, perkembangan akar, polong dan biji. Kahat P biasanya muncul pada 28 HST dengan gejala: tanaman terlihat kerdil, ukuran daun kecil, daun tua berwarna hijau gelap kemudian cepat berubah warna menjadi kuning dan gugur sebelum waktunya. Batang berubah menjadi ungu karena adanya akumulasi antosianin. Kahat P umumnya terjadi pada tanah Oxisol, Ultisol dan Inceptisol. Pada tanah masam yang mempunyai kandunan Fe, Al tinggi, sering terjadi kekahatan P akibat adanya fiksasi P oleh Fe dan Al. Tanah yang mengandung P tersedia (Bray-1) 6-10 ppm, P tergolong rendah untuk tanaman kedelai dan perlu pemupukan P 22,5-36 kg P2O5/ha. Kandungan P sebesar 0,25-0,50% dalam daun muda yang terbuka sempurna pada fase pembentukan polong diangap cukup.Kahat Kalium (K). Kalium merupakan unsur penting dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Kalium juga penting dalm transportasi karbohidrat dari daun ke akar. Kalium diserap dalam bentuk ion K+ dan bersifat mobile dalam tanaman. Gejala kahat K mulai nampak pada daun tua, yaitu timbulnya klorosis yaitu daun berubah warna menjadi kuning di antara tulang daun atau tepi daun. Pada kekahatan yang parah, klorosis meluas hingga mendekati pangkal daun dan hanya meninggalkan warna hijau pada tulang daun. Selanjutnya timbul gejala nekrosis, yaitu(tepi daun tua menguning, menggulung ke atas dan pada akhirnya mengering. Kahat K umumnya terjadi pada tanah Oxisol, Ultisol dengan kejenuhan basa rendah atau pada tanah bertekstur pasir. Kahat unsur S, Ca, P menurunkan kandungan K dalam tanaman; dan sebaliknya kahat N meningkatkan kandungan K dalam tanaman. Tanah yang mengandung unsur K dapat ditukar (K-dd) 0,2-0,3 me/100 g perlu pemupukan K sebesar 22,5-45 kg K2O/ha. Pada fase pembentukan polong, kandungan K sebesar 1,71-2,50% dalam daun muda yang terbuka sempurna dianggap cukup. Kahat Kalsium (Ca). Kalsium berperan penting dalam pengaturan air di dalam tanaman. Kalsium diserap dalam bentuk ion Ca2+ dan mempunyai mobilitas rendah dalam tanaman, sehingga gejala kahat muncul pada daun muda atau titik tumbuh baik pada batang maupun akar. Kahat Ca ditandai dengan adanya bintik-bintik coklat atau hitam pada permukaan bawah daun. Bila kekahatan berlanjut, terjadi nekrosis pada permukaan bawah daun maupun atas daun, sehingga daun berwarna coklat dan kadang daun nampak keriting mirip gejala serangan virus. Pada kondisi kekahatan yang akut akan menyebabkan ujung akar dan pucuk tanaman mati.Kahat Ca umumnya terjadi pada tanah bertekstur pasir, tanah Oxisol, Ultisol dengan pH masam, kejenuhan basa rendah dan Aluminium dapat ditukar (Al-dd) tinggi. Kandungan Ca dapat ditukar (Ca-dd) sebesar 10 me/100 g termasuk rendah dan perlu pemupukan Ca. Sumber pupuk Ca dapat berupa dolomit dan kapur. Pada fase pembentukan polong, kandungan Ca sebesar 0,36-2,00% dalam daun muda yang terbuka sempurna dianggap cukup. Pada tanah mineral masam, dosis pemupukan Ca untuk kedelai yang bersumber dari dolomit adalah setara dengan 0,25-0,50 kali Al-dd.Kahat Magnesium (Mg). Magnesium adalah komponen penyusun klorofil daun sehingga sangat penting dalam proses fotosintesis. Dalam tanaman, Mg termasuk unsur yang mobile sehingga mudah ditranslokaikan dari daun tua. Gejala awal kahat Mg akan nampak pada daun-daun tua, ditandai dengan adanya klorosis yang berawal dari tepi daun, kemudian menjalar ke bagian tengah diantara tulang daun. Kekahatan yang meningkat menyebabkan perubahan warna tepi daun menjadi merah kekuningan, daun gugur, pertumbuhan terhambat dan hasil rendah. Kahat Mg umumnya terjadi pada tanah bertekstur pasir, tanah Oxisol, Ultisol dengan pH masam dengan kejenuhan basa rendah. Batas kritis kandungan Mg dalam tanah adalah 50 ppm Mg. Kisaran Mg 0,26-1,0% pada daun muda kedelai dianggap cukup. Kahat Mg pada tanah masam dapat diatasi dengan pemupukan melalui daun dan tanah dengan pupuk yang mengandung Mg, seperti kiserit (MgSO4) dan dolomit [CaMg(CO3)] dengan dosis setara 11-22 kg MgO/ha, atau dapat juga dengan pemberian pupuk kandang 2-2,5 t/ha.Keracunan Aluminium (Al). Kandungan Al yang berlebihan di dalam tanah masam menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai terganggu dan mengakibatkan hasilnya redah. Gejala awal keracunan akan nampak pada sistem perakaran, dimana akar tumbuh tidak normal, percabangan akar tidak normal. Gejala pada daun adalah adanya bercak-bercak nekrosis diantara tulang daun pada daun muda, tetapi tulang daun tetap hijau. Dalam kondisi parah, tanaman menjadi kerdil dan daun berbentuk seperti mangkuk. Keracunan Al sering terjadi pada tanah masam dengan kejenuhan basa yang rendah. Batas toleransi tanaman kedelai terhadap kejenuhan Al adalah 20%. Kandungan Aluminium yang dapat ditukar (Al-dd) dalam tanah sebesar 22 ppm atau sekitar 0,24 me Al/100 g tanah termasuk tinggi. Beberapa varietas kedelai yang ada di Indonesia saat ini mempunyai batas kritis keracunan Al sekitar 1,33 me Al/100 g. Dampak negatif akibat keracunan Al dapat diatasi dengan pemberian kapur. Pada tanah masam di Lampung, pemberian dolomit dengan dosis setara 0,25-0,50 x Al-dd dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil kedelai. Pemberian kapur akan lebih efisien jika kejenuhan kemasaman (Al+H) > 100% dan ph Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Marwoti, dkk. 2014. Hama, Penyakit, dan Masalah Hara pada Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendalian. 2) Sumber bacaan lainnya. Sumber Gambar: http://8villages.com/full/petani/article/id/59ca2ba0536469d27e7b7feb