Gerakan Percepatan Tanam Padi di Desa Adiwarno Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian RI yang mencanangkan peningkatan produksi dengan target 9 juta Ha (Okt – Maret) Pemerintah melaksanakan gerakan percepatan tanam yang dilaksanakan secara serentak pada bulan Okt s/d Des 2015. Tidak ketinggalan para petani di desa Adiwarno, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, turut pula mendukung gerakan tersebut. Namun pelaksanaan tanam padi di tanggal 13 desember 2015, hanya bisa dilaksanakan seluas 1,5 Ha sawah dari total luasan 134 Ha. Sedangkan total luasan tanam untuk bulan Desember minggu ke-2 seluas 8 Ha. Kondisi rata-rata tanaman padi di Desa Adiwarno ini baru berumur 20 – 45 HST, dan beberapa ada yang baru panen.Kabupaten Wonosobo, khususnya di Kecamatan Selomerto musim tanam padi tidak dilakukan secara serempak. Para petani telah terbiasa melaksanakan tanam padi tiga kali dalam setahun, atau dengan pola tanam padi-pari-pantun (padi-padi-padi). Kebiasaan tersebut dikarenakan kondisi alam yang sangat mendukung, yakni sumberdaya air yang terus-menerus tersedia sepanjang tahun. Bahkan saat musim kemarau kemarin, di Desa Adiwarno khususnya tidak terjadi kekeringan, hanya debit air yang turun sehingga diperlukan pengaturan air irigasi agar kebutuhan pengairan terutama sawah bisa terpenuhi secara merata. Padahal rata-rata sawah di Adiwarno hanya menggunakan irigasi ½ teknis. Selain itu, tidak serempaknya tanam padi di desa Adiwarno tersebut adalah jumlah tenaga dan mesin pengolahan tanah yang tersedia tidak sebanding dengan tenaga dan mesin yang dibutuhkan petani Adiwarno khususnya untuk melaksanakan tanam serempak. Dengan total luasan sawah 134 Ha, di desa Adiwarno baru tersedia 3 unit hand traktor dan beberapa pasang kerbau.Varietas padi yang sekarang ini ditanam petani ialah Ciherang, IR dan Situ Bagendit. Ketiga varietas padi tersebut dipilih petani dengan alasan relatif lebih tahan terhadap penyakit terutama yang diakibatkan oleh jamur. Memasuki musim hujan, biasanya wilayah Kecamatan Selomerto memang termasuk endemis penyakit karena jamur. Hal ini disebabkan curah hujan yang cukup tinggi sehingga kelembaban meningkat dan mendukung pertumbuhan jamur patogen. Penulis: Susi Linawati, SP. (THL-TBPP Kecamatan Selomerto) Editor: Zaky Adnany, SP. (PPL Kecamatan Sukoharjo)