Loading...

HASIL KAJIAN KEGIATAN DEMPLOT BUDIDAYA JAGUNG VARIETAS BISI 18 DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO 2:1 TAHUN 2018

HASIL KAJIAN KEGIATAN DEMPLOT BUDIDAYA  JAGUNG VARIETAS BISI 18 DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO 2:1 TAHUN 2018
Perlakuan Dem BPP dengan lahan pembanding dilaksanakan pada hamparan yang sama dengan kondisi alam (pengairan), kesuburan tanah dianggap sama, pada kajian ini yang dibedakan adalah pada system tanam, dimana untuk dem BPP menggunakan system tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 20 : 40 : 80, per lubang tanam 1 biji sedangkan lahan pembanding menggunakan system tegel dengan jarak tanam 40 x 70 per lubang tanam 2 biji, untuk perlakuan lainnya disamakan diantaranya : rakitan teknologi, benih, pemupukan (dosis dan waktu), perawatan, penanganan HPT dan panen. Hal tersebut dimaksudkan agar tujuan kajian mampu dicapai dengan baik, yang mana akan diperoleh perbedaan yang signifikan pada tinggi tanaman, jumlah daun, berat tongkol kelupas kelobot, panjang tongkol kelupas kelobot dan capaian produksi jagung.Berdasarkan analisis data pengamatan tinggi tanaman terjadi perbedaan yang signifikan antara penerapan teknologi system tanaman jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 20 : 40 : 80, per lubang tanam 1 biji dan system tegel dengan jarak tanam 40 x 70 per lubang tanam 2 biji, dimana pada puncak fase vegetative yaitu umur 56 HST tinggi tanaman dengan system tanam jajar legowo rata-rata 233,5 cm, sedangkan tanaman dengan system tegel 222,6 cm terdapat selisih tinggi 11 cm atau 4,7%. Artinya dengan perlakuan yang sama (olah lahan, benih, pupuk, pengairan, penanganan HPT) jagung yang ditanam dengan system jajar legowo dipuncak fase vegetative lebih tinggi dibandingkan dengan system tegel.Sementara di fase generative system tanam jagung jajar legowo memiliki tinggi 235,8 cm dan system tegel 225,3 berbeda nyata dengan selisih tinggi 10,5 cm atau 4,5%.Analisis data pada jumlah helai daun tanaman tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara penerapan teknologi system tanaman jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 20 : 40 : 80, per lubang tanam 1 biji dan system tegel dengan jarak tanam 40 x 70 per lubang tanam 2 biji, dimana pada puncak fase vegetative yaitu umur 56 HST jumlah daun/ helai dengan system tanam jajar legowo rata-rata 11 helai, sedangkan tanaman dengan system tegel 11 helai. Artinya dengan perlakuan yang sama (olah lahan, benih, pupuk, pengairan, penanganan HPT) jagung yang ditanam dengan system jajar legowo dipuncak fase vegetative sama dengan system tegel.Sementara di fase generative system tanam jagung jajar legowo memiliki jumlah daun 13 helai dan system tegel 12 helai berbeda nyata dengan selisih jumlah daun 1 helai atau 7,6%.Berat tongkol kelupas kelobot berdasarkan analisis data tanaman terjadi perbedaan yang signifikan antara penerapan teknologi system tanaman jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 20 : 40 : 80, per lubang tanam 1 biji dan system tegel dengan jarak tanam 40 x 70 per lubang tanam 2 biji, dimana pada umur 84 HST system tanam jajar legowo rata-rata memiliki berat 28,8 gram, sedangkan tanaman dengan system tegel 21,6 gram terdapat selisih berat 7,2 gram atau 25%. Artinya dengan perlakuan yang sama (olah lahan, benih, pupuk, pengairan, penanganan HPT) jagung yang ditanam dengan system jajar legowo lebih berat dari sisi berat tongkol kelupas kelobot dibandingkan dengan system tegel.Berdasarkan analisis data tanaman terjadi perbedaan yang signifikan antara penerapan teknologi system tanaman jajar legowo 2:1 dengan system tegel dimana pada umur 84 HST system tanam jajar legowo rata-rata memiliki panjang tongkol 21,5 cm, sedangkan tanaman dengan system tegel 17 cm terdapat selisih panjang tongkol 4,5 cm atau 20,9%. Artinya dengan perlakuan yang sama jagung yang ditanam dengan system jajar legowo tongkol lebih panjang dibandingkan dengan system tegel. Hal tersebut akan mampu mempengaruhi tingkat produksi.Prediksi produksi dalam Ton dari masing-masing system tanam 3 titik ubinan diperoleh data rata-rata untuk tanaman jagung jajar legowo 2 : 1 sejumlah 10,53 Kg dengan perkiraan produksi yang mampu dicapai 9,56 Ton/Ha sedangkan untuk system tanam tegel memperoleh hasil ubinan rata-rata 8,5 Kg dengan produksi 7,72 Ton/Ha. Dari data tersebut dapat diartikan bahwa system tanam jagung jajar legowo memiliki potensi produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan system tanam tegel dimana dari data kajian memperoleh perbedaan produksi mencapai 1,84 Ton/Ha atau 19,24%.Produksi jagung yang ditanam system tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 20:40:80 lebih tinggi dibandingkan dengan system tegel dengan jarak tanam 40 x 70 dengan perbedaan produksi mencapai 1,84 Ton/Ha atau 19,24%, dengan didukung perbedaan jumlah populasi jajar legowo per ha 72.727 sedangkan tegel 71.429.System tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 20:40:80 merupakan perbaikan teknologi budidaya jagung yang efisien dengan luasan yang sama mampu meningkatkan populasi tanaman dan produksi tanaman.System tanam jagung jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 20:40:80 mampu mengatasi permasalahan petani dalam meningkatkan hasil pertaniannya yang berimbas pada peningkatan pendapatan dan kesejahtaraan petani. Penulis : Supandi, SP