Loading...

Inovasi Petani Dalam Pengendalian Gulma Pada Tanaman Jagung dengan Aplikasi Herbisida Kontak

Inovasi Petani Dalam Pengendalian Gulma Pada Tanaman Jagung  dengan Aplikasi Herbisida Kontak
Dalam proses budidaya tanaman jagung, hal yang masuk dalam perhatian utama adalah pertumbuhan gulma yang sering lebih tumbuh subur lebih dulu dibanding tanaman utama. Bila tidak cepat dikendalikan maka tanaman utama akan terancam pertumbuhannya.Gulma merupakan tumbuhan atau berupa tanaman yang tidak dikehendaki, tidak diinginkan, tumbuhan pengganggu, tanaman yang tumbuh salah tempat, tanaman pesaing, dan tumbuhan merugikan tanaman utama dalam lahan budidaya tanaman pertanian.Segala jenis tanaman yang bukan tanaman utama yang dibudidayakan dapat disebut sebagai gulma. Akan tetapi, yang banyak dimengerti oleh petani gulma adalah tumbuhan pengganggu dan merugikan serta pesaing tanaman utama. Gulma sendiri dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok diantaranya gulma daun sempit, gulma daun lebar, dan kelompok paku-pakuan serta jenis tumbuhan air dan teki-tekian.Pemilihan jenis herbisida harus berdasaran pertimbangan yang tepat seperti jenis herbisidanya kontak atau sistemik dan waktu aplikasinya. Karena seperti tanaman jagung merupakan tumbuhan yang masuk dalam kelompok daun sempit. Bila aplikasi tidak benar dan tepat maka kemungkinan akan mati juga tinggi. Tujuan pemilihan jenis herbisida adalah untuk mengendalikan jenis gulma sesuai dominansi gulma yang ada di lahan pertanian tersebut. Juga secara prinsip, penggunaan herbisida ditujukan untuk menghambat atau mematikan pusat titik tumbuh gulma yang dituju. Contohnya, bila gulma daun sempit akan lebih cocok memakai herbisida sistemik, bila banyak daun lebar maka memakai herbisida kontak, serta bila dominansinya keduanya maka memakai herbisida kombinasi kontak dan sistemik. Akan tetapi, harus dipertimbangkan efek/kemungkinan terkena atau berdampak pada jenis tanaman yang kita budidayakan. Tanaman jagung merupakan jenis tanaman daun sempit. Artinya titik tumbuh tanaman berada di dalam ujung batang yang terbungkus pelepah daun, serta batang jagung tertutup oleh pelepah daun yang bertingkat/beruas-ruas. Ada kemungkinan aman jika memakai herbisida kontak, karena batang dan titik tumbuh tidak terkena langsung semprotan herbisida tersebut. Akan tetapi, proses fotosintesis tanaman akan sangat kacau bila daun terkena herbisida kontak.Berikut cara penggunaan herbisida kontak berbahan aktif paraquat 276 SL Berdasarkan pengalaman petani di Kecamatan Abung Selatan, pemakaian herbisida kontak pada tanaman jagung sangat membutuhkan keahlian dalam teknik aplikasi penyemprotan di lahan antara lain:1. Pemakaian corong/sungkup pada ujung nozle tangki seprot. Tujuannya adalah untuk meminimalisir semburan semprotan mengenai batang atau daun tanaman jagung.2. Ketinggian nozle dari tanah tidak boleh terlalu tinggi karena akan mengenai tanaman utama, jadi harus stabil diatas gulma saja. 3. Pemakaian dosis aplikasi. Dosis yang biasa digunakan petani adalah tidak lebih dari 50-60ml/10—12 lt air atau 1 tangki. Pemakaian dosis rendah sangat ditekankan karena meminimalisir kerusakan tanaman oleh efek herbisida yang diaplikasi.4. Jenis herbisida yang digunakan adalah herbisida kontak berbahan aktif paraquat 260 atau 276 SL. 5. Harus memakai air bening, buka air yang pekat atau berwarna tanah (butek), karena akan menurunkan reaksi kimia herbisida paraquat tersebut. (jadi kurang manjur) 6. Umur tanaman jagung harus sudah berumur diatas 60 HST atau 2 bulan. 7. Jangan memakai herbisida sistemik, karena berdasarkan pengalaman petani akan menyebabkan tanaman jagung kuning dan stress atau ngadat pertumbuhannya. Bahkan dilain kasus dapat membunuh tanaman jagung itu sendiri dengan perlahan-lahan. Bila ingin memakai herbisida sistemik maka harus memakai herbisida sintemik selektif . bahan aktif berupa Atrazin 380 g/L . Jenis seektif ini tidak mematikan tanaman jagung. Demikian, berbagi ilmu dari pengalaman petani di lapangan , semoga bermanfaat. (Penulis: Khoirul Anwar, SP/PPL Abung Selatan Lampung Utara)