Loading...

Jenis Bahan Pengemasan Pengaruhi Lama Penyimpanan Kedelai

Jenis Bahan Pengemasan Pengaruhi Lama Penyimpanan Kedelai
Kedelai (Glycine max L. Merr.) merupakan salah satu komoditas utama kacang-kacangan yang banyak mengandung protein nabati. Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat. Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, produksi perlu ditingkatkan antara lain dengan menggunakan benih bermutu. Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu sarana produksi yang menentukan produktivitas kedelai. Ketersediaan benih yang bermutu tinggi merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha. Untuk memperoleh benih yang baik tidak terlepas dari suatu rangkaian kegiatan teknologi benih yaitu mulai dari produksi benih, pengolahan benih, pengujian benih, sertifikasi benih sampai penyimpanan benih. Benih kedelai relatif tidak tahan disimpan lama, sehingga penyimpanan berpengaruh terhadap mutu fisiologis dari benih kedelai. Penyediaan benih untuk musim tanam berikutnya harus melalui penyimpanan terlebih dahulu, sehingga upaya merekayasa penyimpanan benih untuk memperoleh benih kedelai bermutu sangat diperlukan. Rentang waktu antara masa produksi dengan waktu konsumsi dan penanaman kembali yang cukup lama membuat produk perlu disimpan terlebih dahulu. Penyimpanan benih merupakan salah satu penanganan pascapanen kedelai yang penting dari keseluruhan teknologi benih dalam memelihara kualitas atau mutu. Mutu benih yang mencakup mutu fisik, fisiologis dan genetik dipengaruhi oleh proses penanganannya dari produksi sampai akhir periode simpan. Salah satu masalah yang dihadapi dalam penyediaan benih bermutu adalah penyimpanan. Penyimpanan benih kacang-kacangan di daerah tropis lembab seperti di Indonesia dihadapkan kepada masalah daya simpan yang rendah. Dalam waktu 3 bulan pada suhu kamar 30OC, benih kacang-kacangan tidak dapat mempertahankan viabilitasnya pada kadar air 14%. Benih kedelai cepat mengalami kemunduran di dalam penyimpanan, disebabkan kandungan lemak dan proteinnya relatif tinggi sehingga perlu ditangani secara serius sebelum disimpan karena kadar air benih akan meningkat jika suhu dan kelembaban ruang simpan cukup tinggi. Untuk mencegah peningkatan kadar air selama penyimpanan benih, diperlukan kemasan yang kedap udara dan uap air. Kemunduran benih dapat ditengarai secara biokimia dan fisiologi. Indikasi biokimia kemunduran benih dicirikan antara lain penurunan aktivitas enzim, penurunan cadangan makanan, meningkatnya nilai konduktivitas. Indikasi fisiologi kemunduran benih antara lain penurunan daya berkecambah dan vigor. Hasil penelitian menunjukkan ada interaksi antara kadar air, kemasan dan lama simpan terhadap antara lain daya berkecambah dan vigor. Penyimpanan benih kedelai dengan kadar air 8% di dalam kantong aluminium foil dapat bertahan sampai 6 bulan tetapi untuk kadar air 10% hanya 2 bulan, sedangkan penyimpanan di dalam kantong plastik polietilen dapat bertahan sampai 5 bulan untuk kadar air 8% tetapi hanya 1 bulan untuk kadar air 10%. Penurunan kadar fosfolipid mitokondria secara cepat pada penyimpanan dalam kantong terigu meskipun kadar airnya rendah disebabkan kantong terigu tidak dapat menghalangi laju penyerapan uap air oleh benih. Meningkatnya kadar air benih akan menyebabkan fosfolipid rusak, dicerminkan oleh penurunan kadarnya. Penyimpanan benih kedelai pada kadar air awal 8% di dalam kantong plastik polietilen menurunkan kadar protein membran mitokondria setelah 2 bulan sedangkan pada kadar air 10% dan 12% penurunan kadar protein terjadi sejak 1 bulan. Benih yang disimpan dengan kadar air 8% di dalam kantong aluminium foil mengalami penurunan setelah 4 bulan, dan setelah 3 bulan untuk kadar air 10% dan sejak 1 bulan untuk kadar air 12%.Kadar protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Meningkatnya kadar air dan kelembaban menyebabkan kerusakan protein meningkat. Benih kedelai yang disimpan dengan kadar air 8% dan 10% di dalam kantong plastik polietilen dan kantong aluminium foil dapat mempertahankan mutu yang tetap tinggi selama penyimpanan 6 bulan.Benih kedelai dikemas dengan menggunakan bahan pengemas kedap udara untuk menghambat masuknya uap air dari luar kemasan ke dalam benih . Kemasan yang telah berisi benih harus tertutup rapat dengan cara diikat erat menggunakan tali atau bagian atas kantong dipres dengan kawat nikelin panas/sealer.Benih dalam kemasan dapat disimpan dalam ruangan beralas kayu atau pada rak-rak agar kemasan tidak bersinggungan langsung dengan lantai.Benih dalam penyimpanan harus terhindar dari serangan tikus atau hewan lain yang dapat merusak kantong kemasan maupun benih.Usahakan menyimpan benih dalam ruangan tersendiri dan tidak bercampur dengan bahan bahan lain yang dapat menyebabkan ruangan menjadi lembab.Benih disimpan secara teratur, dipisahkan sesuai dengan varietasnya. Penyimpanan benih perlu ditata sedemikian rupa agar tidak roboh, tidak mengganggu keluar masuknya barang yang lain dan mudah dikontrol. Setiap tumpukan benih sebaiknya dilengkapi dengan kartu pengawasan yang berisi informasi : Nama Varietas, Tanggal Panen, Asal Petak Percobaan, Jumlah/kuantitas benih asal (pada saat awal penyimpanan),Jumlah/kuantitas pada saat pemeriksaan stok terakhir, Hasil uji daya kecambah terakhir (tanggal, persentase daya kecambah)Penanganan benih dengan teknologi pasca panen yang tepat (mulai dari panen hingga ke penyimpanan), diharapkan viabilitas benih dapat bertahan hingga delapan bulan dengan daya tumbuh lebih dari 80 %. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@Yahoo.co.idSumber: 1. Kedelai , 1985 Badan Penelitian nan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1985. Jl Merdeka 99 Bogor 2. file:///C:/Users/BENGKOM/Downloads/12436-36265-1-PB.pdf3. http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/789-teknik-prosesing-penyimpanan-dan-teknologi-pasca-panen-benih-kedelai4. http://image.slidesharecdn.com/penyimpanankemasan-150407101944-conversion-gate01/95/penyimpanan-kemasan-2-638.jpg?cb=1428402060