Puluhan ton, mungkin ratusan ton jerami padi yang terbuang percuma begitu saja jadi abu di berbagai daerah di Kabupaten Agam (Sumatra Barat). Setelah gabah dirontok dengan bantuan alat perontok (Thresher), limbah padi disulut, api menyala membubung tinggi, padahal jerami merupakan barang berharga dan sangat penting artinya bagi kesuburan lahan agar produksi pertanian, khususnya beras meningkat. Tahun ini produksi harus meningkat 0,3 ton/ha, sebagaimana dituturkan Tim Pengawas Opsus Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) pusat, DR. Ir. Edi Abdurachman, MS, Sc, yang juga Kepala Pusat Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Ciawai Bogor, dan Nang Sriati ketika melakukan pengawasan ke Kabupaten Agam, Kamis, 5 Februari 2015. Mestinya jerami diolah dijadikan kompos, atau ditabur kembali kelahan sawah, agar lahan menjadi subur. Namun entah apa sebabnya, petani tidak melakukan hal tersebut, dengan alasan pekerjaannya terlalu susah. sudah lupa di zaman instan ini bahwa jerami sangat berharga bagi kehidupan di alam ini. Dari berbagai daerah yang dapat dipantau penulis di seantero Sumatra Barat, di kabupaten manapun, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kota Padang, pada umumnya jerami padi dibakar habis seusai panen.Menurut Pedoman Teknis Pengembangan Usaha tani Padi Sawah Metode System of Intensification (SRI) Tahun 2007 , diperkirakan sudah hampir 60 persen lahan sawah yang telah mengalami degradasi kesuburan, baik fisik, kimia, maupun biologi tanah. Malah disebutkan, bahwa keberadaan organic tanah sudah berada dibawah 1 persen. Rendahnya kandungan bahan organic tanah, disebabkan petani sudah serba instan. Petani tidak mau lagi menggunakan pupuk kandang sebagai upaya untuk pengembalian kesuburan tanah.Semenjak dimulainya Revolusi Hijau sekitar tahun 1968, petani sudah diajarkan untuk memakai pupuk buatan (anorganik), tapi upaya besar-besaran penggunaan pupuk anorganik adalah dimulai tahun 1976. Selain itu hembusan pestisida (Tiodan ketika itu) berterbangan diudara membunuh semua makhluk yang terkena gempuran alat semprotan bertekanan tinggi tersebut (Motor Sprayer). Turun kesawah juga begitu instan (cepat), pupuk (Urea, TSP) ketika itu dihambur-hamburkan. Tujuannya program yang disebut Bimas dan Inmas ketika itu, adalah untuk memacu produksi beras agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Ini ditandai dengan diperolehnya penghargaan Badan Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) kepada Indonesia karena berhasil meningkatkan produksi beras yang puncak kesusesan pada tahun 1984.Program Bimas dan Inmas itu ternyata berhasil dan gemilang, tapi satu hal terlupakan, bahwa pemakaian pupuk anorganik terus-menurus, dan penggunaan pestisida pun tidak terkendali, penggenangan air sawah terus-menerus melahirkan bencana yang sebelumnya tidak terprediksikan.Menggunakan pupuk anorganik secara terus-menerus berdampak semakin rendahnya kandungan bahan organic (BO). Akibat dari rendahnya bahan organic, antara lain tanah menjadi keras dan liat, sehingga sulit diolah, respon terhadap pemupukan rendah, dan tidak respon lagi terhadap unsure hara tertentu, tanah menjadi masam, penggunaan air irigasi menjadi tidak efisien, serta produktivitas tanaman cendrung menurun (Levelling-of) dan semakin susah untuk ditingkatkan.Hal ini disebabkan oleh kesuburan tanah semakin menurun, karena cara-cara pengelolaan lahan sawah selama ini yang kurang tepat, sehingga sawah semakin tandus, sementara pemberian pupuk buatan dilakukan terus-menerus. Bahan organic berupa jerami tidak dikembalikan ke lahan, tetapi dibuang/dibakar sehingga mengakibatkan lahan sawah menjadi miskin, lantaran beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman menjadi hilang, serta memburuknya sifat fisik lahan.Semenjak dimulainya program pembangunan ketahanan pangan, khususnya terhadap peningkatan produksi padi, penggunaan pestisida diakui tidak tanggung-tanggung, terutama semenjak berlangsungnya Revolusi Hijau sekitar tahun 1969, tiada hari tanpa hembusan pestisida dengan segala bentuk merek, pertama dikenal adalah tiodan. Dimana-mana terdengar raungan Motor Sprayer memuntahkan pestisida. Tujuannya tidak lain tidak bukan, hanyalah satu tekat, adalah untuk mengejar produksi beras dalam negeri yang saat itu dalam keadaan sulit beras. Begitu juga penggunaan pupuk buapat (Urea, TSP, KCL, dsb), juga tiada batasnya.Akibatnya keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama menjadi punah, sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh dan berkembang, malahan semakin pesat, terkontaminasinya hasil panen oleh residu pestisida. Artinya, beras yang dimakan sudah mengandung residu pestisida, lama-lama jadi menumpuk didalam darah, ujung-ujungnya penyakit berkembang pula dalam tubuh manusia, seperti jantung, strok, kangker, dan penyakit lainnya.Lahan pertanian sawah dimana-mana saat ini sedang sakit, obatnya ada sama petani, adalah jerami padi. Jerami padi jangan dibakar lagi, tapi manfaatkanlah guna untuk pengembalian kesuburan lahan. Pengembalian jerami terhadap lahan, banyak caranya, misalnya saja jerami padi dijadikan kompos. Sulit rasanya untuk menjadikan jerami jadi kompos, haluskan saja dengan mesin kompos. Sulit juga, sebelum jerami basah kena hujan, taburkan segera kepada lahan, tidak berselang lama jerami akan lapuk.Kebutuhan organic yang idealnya di lahan sawah adalah sekitar 5 (lima) parsen, sementara kandungan organic di sawa diberbagai kabupaten/kota di Sumatra Barat diperkirakan dibawah 1 (satu) parsen. Berarti sawah yang ada di Sumatra Barat sudah kekurangan organic, termasuk Kabupaten Agam. Solusinya mengatasi permasalahan ini adalah menambahkan bahan organic/kompos ke lahan-lahan sawah dengan jumlah yang cukup.Menurut Kim dan Dale (2004) yang dikutip melalui internet, potensi jerami padi sekitar 1,4 kali dari produksi padi. Produktivitas padi nasional adalah 48,95 ku/ha atau 4,895 ton/ha, jumlah jerami yang dihasilkan sekitar 68,53 ku/ha atau 6,853 ton/ha. Berarti produksi jerami lebih besar 1,958 ton/ha (28,5%) dibandingkan dengan produksi padi. Bila produksi padi tahun 2009 Kabupaten Agam 300.375 ton, maka produksi jerami tahun 2009 di Kabupaten Agam sekitar 385.981,875 ton.Hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Pewrkebunan Indonesia (BPBPI), kandungan hara kompos jerami, adalah: Rasio C/N 18,88; C-organik 35,11%; Nitrogen 1,86%; P2O5 0,21%; K2O 5,35%; dan kadar air 55%. Dari data analisa BPBPI tersebut, kompos jerami mengandung unsure hara setara dengan 41,3 kg Urea; 5,8 kg SP36; dan 89,17 kg KCL setiap ton kompos jerami atau total 136,27 kg NPK setiap ton kompos. Andaikan jerami tidak dibakar, tetapi dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, maka unsure hara sudah dapat dipenuhi separoh dari kebutuhan pupuk kimia (anorganik).Justru itu penulis mengajak, para pelaku utama (petani) untuk memanfaatkan jerami untuk dikembalikan kelahan sawah, sebagai upah bagi lahan yang setiap saat digarap, karena itu adalah hak dia. Bila hak sawah tidak dikembalikan, maka lahan sawah akan sakit, kurus, gersang, dan akhirnya nanti dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kesuburan lahan sawah merana, dan kita juga merana karena produksi beras menurun. Ayo mari kita suburkan lahan sawah kembali, kembalikan jerami kepadanya, karena itu adalah haknya. (Lukman, SP : Penyuluh Pertanian Ahli Madya Kabupaten Agam)