Jagung merupakan salah satu tanaman pangan terpenting selain padi yang berperan sebagai sumber karbohidrat utama di Indonesia dan banyak digemari masyarakat. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak dan sebagai bahan baku industri. Dalam rangka melaksanakan program pembangunan di bidang pertanian yaitu swasembada berkelanjutan yang menitik beratkan pada peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai, maka perlu dilakukan kegiatan kaji terap tanaman jagung sebagai wahana pembelajaran bagi petani dan penyuluh pertanian. Pengelolaan Tanaman dan Sumber daya secara Terpadu yang sering diringkas Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan holistik yang semakin populer dewasa ini. Pendekatan ini bersifat partisipatif yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi sehingga bukan merupakan paket teknologi yang harus diterapkan petani di semua lokasi. Tujuan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil produksi jagung.Penerapan pengelolaan tanaman terpadu terdiri dari komponen teknologi dasar dan pilihan yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi setempat. Komponen teknologi dasar terdiri dari (1) Varietas Unggul; (2) Benih bermutu dan berlabel; (3) Bahan organik; (4) Pengaturan populasi tanam; (5) Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman; (6) Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Komponen teknologi pilihan terdiri dari (1) Pengolahan tanah; (2) Panen tepat waktu.Salah satu varietas unggul jagung yang direkomendasikan adalah NK 212 yang merupakan varietas spesifik lokasi yang cocok dibudidayakan di daerah Rukti Basuki, Kecamatan Rumbia.Kegiatan Kaji terap ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Kelompok Tani Sumber Rejeki, Desa Rukti Basuki, Kecamatan Rumbia, dengan luasan lahan 0,25 Ha, pada bulan Maret sampai dengan Juni 2018.Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman jagung pada kegiatan kaji terap, diantaranya sebagai berikut :1. Pengolahan TanahPengolahan tanah di lahan percobaan ini dilakukan menggunakan hand tractor guna menciptakan kondisi tanah yang gembur pada kedalam yang cukup, aerasi dan drainasi tanah menjadi lebih baik sehingga tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah ini dilakukan 2 minggu sebelum tanam. 2. Pemupukan Dasar Pemupukan dasar dilakukan 3 hari sebelum tanam menggunakan pupuk organik dengan dosis 750 kg. Pemukunan dasar juga dilakukan menggunakan pupuk SP-36 dengan dosis 35 kg, urea 25 kg dan NPK 12,5 kg pada 7 hari setelah tanam.3. Seed TreatmentSeed treatment ini bertujuan untuk mencegah terjadinya serangan penyakit bulai (downey mildew). Seed treatment dilakukan dengan cara merendam benih jagung varietas NK 212 kedalam larutan fungisida Ridomil dengan dosis 4 cc/lt air dengan waktu perendaman selama 12 - 24 jam. Setelah dilakukan perendaman, benih jagung ditiriskan dan dikering anginkan. Benih yang sudah kering selanjutnya dapat dilakukan proses penanaman.4. Penanaman Penanaman diawali dengan pembuatan lubang tanam, dengan cara ditugal sedalam 3-5 cm, kemudian diisi 1 (satu) benih jagung untuk setiap lubang tanam, dengan jarak tanam 75 cm x 25 cm. Kebutuhan bibit jagung untuk penanaman menghabiskan sebanyak ± 3 kg atau sekitar 13.340 butir benih jagung. Jumlah ini merupakan populasi tanaman jagung dalam kegiatan kaji terap ini.5. PenyulamanKegiatan penyulaman dilakukan 7-10 hari setelah tanam, dengan cara mengganti benih yang tidak tumbuh atau mati. Setiap lubang tanam di masukkan 2 (dua) benih tanaman jagung. Populasi tanaman yang mati dan tidak tumbuh ± 500 lubang dari total populasi sebanyak 13.340 pohon.6. Pengendalian GulmaPengendalian gulma dilakukan 21 hari setelah penananam bersamaan dengan perlakuan pembumbunan tanah di sekitar diperakaran tanaman jagung. Pengendalian gulma dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan herbisida Gramaxone sebanyak 0,5 liter dengan tujuan untuk mencegah terjadinya persaingan penyerapan unsur hara antara gulma dan tanaman jagung.7. Pemupukan Pemupukan pertama dilakukan menggunakan campuran Urea dan NPK dengan dosis masing-masing 25 kg dan 12,5 kg. Pemupukan dilakukan dengan cara menugal sejauh 7 - 10 cm di kiri dan kanan tanaman jagung kemudian campuran Urea dan NPK tersebut dimasukkan ke dalam setiap lubang kemudian ditutup kembali dengan tanah untuk mengurangi proses penguapan. Pemupukan pertama ini dilakukan pada 24 Hari Setelah Tanam (HST).Pemupukan kedua dilakukan 45 hari setelah tanam pada saat tanaman jagung akan berbunga. Pemupukan kedua dilakukan menggunakan campuran Urea dan NPK dengan dosis masing-masing 25 kg dan 12,5 kg. 8. Panen Panen dilakukan pada 72 - 75 hari setelah tanam yang ditandai dengan telah menguningnya butir jagung pada tongkol serta kulit buah terluar mulai berwarna kecoklatan. Panen dilakukan dengan mematahkan tangkai buah pada batang kemudian dikumpulkan untuk dilakukan perlakuan pasca panen. Panen yang telah dilakukan mengasilkan produktivitas jagung sebesar 3 ton/Ha.Dengan budidaya seperti diatas tersebut maka, hasil yang dicapai dalam kegiatan Kaji Terap Pengelolaan Tanaman Terpadu Jagung di Desa Rukti Basuki Kecamtan Rumbia dengan lahan seluas 0,25 Ha, jarak tanam 75 cm x 25 cm dan populasi sebanyak 13.340 batang adalah sebagai berikut :Jumlah Populasi Tanaman = Luas Lahan : Jarak Tanam 2500 m2 : (0,75 m x 0,25 m ) = 2500/0,1875 = 13,333. Satu lubang tanam hanya ditanami 1 benih tanaman jagung, jadi populasi tanaman sebanyak 13.333 (dibulatkan menjadi 13.340) tanaman. Hasil Ubinan : Petak Ubinan (25 m x 25 m), hasil 0,9375 Kg dengan Produktivitas 1,5 ton/Ha.Sehingga analisis usaha tani dapat dihitung sebagai berikut :Tanaman : JagungJarak Tanam : 75 cm x 25 cmLuas lahan : 0,25 HaHasil Panen : 3000 KgModal Usaha Tani dihitung berdasarkan biaya produksi :1. Pengolahan lahan 1 HOK @ Rp. 100.000 = Rp. 100.0002. Penanaman 4 HOK @ Rp. 100.000 = Rp. 400.0003. Pemupukan 2 HOK @ Rp. 100.000 = Rp. 200.0004. Pengendalian HPT 1 HOK @ Rp. 100.000 = Rp. 100.0005. Pemanenan 4 HOK @ 100.000 = Rp. 400.0006. Benih jagung 3 kg x @ Rp 30.000 = Rp. 90.0007. Pupuk organik 35 krg x @ Rp 17.000 = Rp. 595.0008. Pupuk Urea 75 Kg x @Rp 1800 = Rp. 135.0009. Pupuk SP-36 35 Kg x @ Rp 2.000 = Rp. 75.00010. Pupuk NPK 50 Kg x @ Rp 2.300 = Rp. 115.00011. Fungisida 1 sachet (@ 25 gr) x @ Rp 10.000 = Rp. 10.00012. Herbisida 1 ltr @ 50000 = Rp. 50.00013. Biaya tak terduga = Rp. 300.000Total TMUT = Rp. 2.570.000,-Bruto = 3000 kg x Rp. 2400 = Rp. 7.200.000,- Netto = Bruto - TMUT ( modal usaha tani ) = Rp. 7.200.000 – Rp.2.570.000 = Rp. 4.630.000,- BEP ( Break Even Poin ) / Titik Impas BEP Harga = TMUT : Jumlah produksi (kg) = Rp. 2.570.000 : 3000 kg = Rp.856,67,- / kg.BEP Produksi = TMUT : Harga Kering Panen Rp. 2.400,-/kg = Rp. 2.570.000 : Rp. 2.400/kg = 1.070,83 kg RoI ( Ratio of Investmen )Perbandingan antara modal dengan pendapatan:ROI = TMUT : Netto = Rp. 2.570.000 : Rp. 1.030.000 = Rp. 0,5 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan teknologi yang cocok untuk diterapkan di Desa Rukti Basuki yang dapat meningkatkan hasil dan mutu jagung. Mega Silvia Fitrianti, SP Penyuluh Pertanian Dinas pertanian TPH Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah.