Loading...

Kapur Pertanian dan Pengaplikasiannya

Kapur Pertanian dan Pengaplikasiannya
Kegiatan pengapuran merupakan upaya untuk menaikkan pH tanah dengan cara menambahkan kapur ke dalam tanah. Tujuan utama dari pengapuran ini ialah untuk meningkatkan pH tanah dari pH masam menjadi pH netral. Pada pH tanah yang masam, banyak unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg yang tidak tersedia bagi tanaman karena pada pH rendah unsur tersebut akan rusak. Hanya unsur Fe dan Al (unsur mikro) yang tersedia pada tanah masam. Maka diharapkan, dengan pengapuran akan meningkatkan pH menjadi netral, dimana pada pH netral banyak mengandung unsur hara yang dapat tersedia bagi tanaman. Pemberian kapur pertanian atau kaptan pada saat olah tanah penting untuk dilakukan karena sebagian besar kondisi tanah atau lahan pertanian memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih asam atau acid karena berbagai faktor. Adapun faktor yang memicu terjadinya keasaman tanah adalah erosi, penggunaan pupuk-pupuk kimia berlebihan, pencucian dan dekomposisi bahan-bahan organik. Pengaplikasian kapur pertanian yang paling efektif adalah disebarkan secara merata ke seluruh lahan sebelum pengolahan tanah. Ini dimaksudkan agar kapur dapat bereaksi di lapisan dalam tanah hingga kedalaman 20 cm, yakni di seluruh zona perakaran tanaman. Untuk membuat kapur agar bisa segera bereaksi di dalam tanah maka tanah harus diposisikan dalam kondisi lembab. Jika kondisi tanahnya kering dan berharap ingin segera dilakukan penanaman, maka dianjurkan untuk melakukan penyiraman air ke seluruh permukaan tanah setelah selesai pengolahan tanah. Kapur pertanian sendiri adalah kondisioner tanah untuk menurunkan derajat keasaman yang terbuat dari batuan kapur yang telah diolah atau dihancurkan terlebih dahulu menjadi debu atau kadang disebut juga kapur dolomit. Ada tiga bentuk kapur pertanian yang pada umumnya digunakan oleh petani untuk mengatasi masalah tanah asam, yaitu: Kapur Tohor Yaitu jenis kapur yang pembuatannya melaui proses pembakaran. Kapur ini sering disebut dengan kapur pertanian. Secara ilmiah kapur ini disebut calsium oksida (CaO). Kapur Tembok Merupakan jenis kapur hasil pembakaran pada kapur tohor, yang kemudian ditambahkan dengan air yang dalam bahasa kimianya disebut calsium hidroksida. Kapur Karbonat Merupakan kapur yang bukan melaui proses pembakaran tetapi digiling langsung, kapur karbonat ini ada dua macam, yaitu kalsit dan dolomit. Untuk kapur kalsit mengandung kalsium oksida 47%, dan kalsium karbonatnya 85%. Sementara untuk dolomit mengandung kalsium oksida dan magnesium oksida 47% serta kalsium karbonat dan magnesium karbonatnya 85%. Dari ketiga jenis di atas, dolomit dan kalsit lah yang banyak digunakan petani, sehingga keduanya lebih banyak dikenal sebagai kapur pertanian (kaptan) Meskipun penggunaan kapur pertanian dapat meningkatkan kesuburan serta mengurangi keasaman tanah juga efisiensi penggunaan pupuk. Namun sejauh ini masih banyak petani-petani di Indonesia yang masih belum mengetahui serta mengaplikasikan untuk lahan pertaniannya. (Lisra Putri Milda, STP. Penyuluh Pertanian Nagari Batu Palano)