Loading...

Kebun Jeruk Sebagai Potensi Agrowisata Di Desa Batok, Kec Gemarang

Kebun Jeruk Sebagai Potensi Agrowisata Di Desa Batok, Kec Gemarang
Kabupaten Madiun yang merupakan salah satu dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah sekitar 1.010,86 km2, memiliki berbagai potensi yang patut dibanggakan. Desa Batok merupakan salah satu Desa di Kecamatan Gemarang yang memiliki potensi penghasil komoditas hortikultura buah – buahan. Terdapat berbagai macam komoditas seperti: mangga, durian, alpukat, dan jeruk. Tercatat produksi jeruk siam di Kecamatan Gemarang berdasar data BPS sebesar 18,40 ton (Madiun Dalam Angka 2018). Namun dari hasil produksi tersebut, ternyata masyarakat Kecamatan Gemarang, khususnya Desa Batok belum ada yang berani membuat gebrakan untuk mengembangkan potensi usaha tani jeruk dalam skala yang lebih komersil ke dalam konsep bisnis pertanian dan wisata (agrowisata).Desa Batok merupakan Desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Gemarang dengan ketinggian daerah 800mdpl. Topografi Desa Batok berbukit – bukit dengan luasan daerah bukit ±700 ha. Curah hujan minimum di Desa Batok berkisar 700 – 1000 mm/th. Desa Batok memiliki luas wilayah 350 Ha. Terdiri dari 1.979 KK dengan jumlah penduduk mencapai 4.373 jiwa. Tanaman jeruk mulai dibudidayakan di Desa Batok sekitar tahun 2009. Pada saat itu, harga bibit di kisaran Rp 6.000,-/batang. Pada awal tanam, jeruk berbuah dan dipetik hasilnya di 3 tahun berikutnya (selama 3 tahun tidak dapat di buahkan). Di awal panen 1 pohon jeruk menghasilkan 13 – 15kg. Populasi jeruk yang ada di Dusun Kambatan ±3200 pohon. Luas areal kebun jeruk ±28,5 ha. Lokasi penanaman jeruk tidak semua tersentra dalam satu hamparan. Jumlah petani yang membudidayakan jeruk di Dusun Kambatan ini ada ±17 petani. Lahan yang digunakan untuk menanam jeruk adalah lahan milik sendiri. Ketersediaan air di Dusun Kambatan untuk irigasi kebun jeruk maupun areal persawahan tercatat cukup, jika jeruk yang ditanam di areal lading, perolehan irigasi dari pipa pipa paralon. Hasil panen jeruk rata – rata sekali panen sebesar 1 ton. Saat ini petani jeruk menanam jeruk varietas keprok siam. Ciri – ciri jeruk keprok siam terdapat pada kulit buah yang tidak terlalu tipis, daging dan bulir buah kecil dan lembut, rasa buah yang manis masam dan segar. Pemilihan varietas ini dikarenakan keprok siam dapat dipanen sepanjang musim. Cara budidaya jeruk yang dilakukan adalah menggunakan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m yang diawali dengan pembuatan lubang tanam berkisar 50 x 50 x 50 cm, kemudian dibiarkan minimal 1 minggu, setelah itu lubang ditutup kembali dengan menggunakan pupuk kandang ± 10 kg lalu ditanami dengan bibit jeruk. Buah jeruk dapat dipanen (masak fisiologis) umut 6-8 bulan sejak bunga mekar dan biasanya buahnya sudah lunak bila ditekan, kulit berwarna hijau kekuningan. Hama penyakit yang sering di temui petani jeruk di lokasi adalah kutu sisik, cabuk dan lalat buah.Panen buah dilakukan secara tradisional dengan memetik langsung dan dikerjakan sendiri oleh para petani. Jeruk di Desa Batok ini dipasarkan di areal lingkup Kecamatan, di beli oleh warga sekitar Desa, di datangi pengepul, dan juga pesanan. Setelah dipanen buah di sortir, buah yang kecil tidak dijual mentahan, namun dijadikan minuman jeruk peras. Buah yang telah di panen disimpan di keranjang.Sampai sekarang usaha tani jeruk masih hanya berkutat pada budidaya tradisional dan penjualan/pemasaran local di wilayah setempat. Dengan adanya pengembangan icon wisata di Kecamatan Gemarang terutama di kawasan penghasil jeruk di Desa Batok, diramalkan akan memberikan kemajuan dari berbagai aspek. Dilihat dari aspek ekonomi, memungkinkan adanya pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, pemasukan perputaran keuangan ke dalam lingkup Kecamatan dan Desa Gemarang. Dari aspek pendidikan, tentunya akan banyak membantu para pelajar di Desa Batok, Kecamatan Gemarang bahkan juga masyarakat Kabupaten Madiun pada umumnya, akan mempunyai sentra pembelajaran berbasis alam. Sehingga para pelajar dapat melakukan field trip tanpa harus mengeluarkan biaya mahal ke luar kota.(By Dhevi Aprilia Marsha, SP)