Loading...

KEBUTUHAN AIR TANAMAN

KEBUTUHAN AIR TANAMAN
Pada dasarnya kebutuhan air untuk tanaman merupakan kebutuhan untuk evaporasi dari tempat tumbuhnya tanaman dan kebutuhan air untuk transpirasi bagi tanaman itu sendiri.Kebutuhan air tanaman dipengaruhi oleh jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman, kondisi iklim setempat (penyinaran matahari, suhu, kecepatan angin, kelembaban udara); status kelembaban tanah; untuk suatu luasan tertentu, dipengaruhi pula oleh kerapatan tanaman. Angka kebutuhan air tanaman tersebut dapat diperoleh melalui cara langsung (dengan percobaan) dan cara tidak langsung (cara empiris). Angka kebutuhan air tanaman yang diperoleh dari suatu hasil percobaan (dengan lisimeter) sebenarnya merupakan resultante dari interaksi antara watak spesifik tanaman dan keadaan lingkungan yang terjadi selama pertumbuhan.Oleh karena itu bila angka kebutuhan air tanaman yang berasal dari hasil percobaaan akan dipakai langsung untuk perancangan jaringan irigasi di suatu tempat, maka percobaan di tempat tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang. Tentu saja cara ini tidak praktis, karena terlalu banyak memakan waktu dan biaya. Kalau hasil percobaan kebutuhan air tanaman akan dipakai di tempat lain, maka ditempat tersebut harus mempunyai keadan cuaca yang sama dengan tempat percobaan tersebut dilakukan.Untuk mendapatkan angka kebutuhan air tanaman yang bersifat lebih umum, praktis, murah, cepat dan luwes dalam suatu wilayah tertentu dapat digunakan cara empiris yang didasarkan pada kondisi iklim setempat selama kurun waktu yang panjang. Dengan menggunakan cara empiris melalui analisa data iklim ini akan didapatkan nilai evapotranspirasi acuan ETo. Untuk mendapatkan nilai evapotranspirasi tanaman Etc, maka ETo ini harus dikalikan dengan factor tanaman (kc).Cara perhitungan ETo dengan menggunakan data iklim yang umum dilakukan antara lain cara Blaney Criddle, Jansen Heise, Hrgreaves dan Samani, Makkink, Penman Monteith dan sebagainya. Nilai ETo ini bisa juga dihitung dengan angka penguapan terukur dari panic klas A yang dikalikan dengan factor/konversi tertentu (kp).Untuk menentukan metoda yang harus dipilih sangat tergantung dari ketersediaan/ kelengkapan data yang ada. Berdasarkan ketelitiannya motoda Penman Monteith dapat memberikan hasil yang terbaik. Hasil perhitungan kebutuhan air tanaman secara empiris di Indonesia.Perhitungan dilakukan dengan mengumpulkan data iklim berupa suhu, kecepatan angin, penyinaran matahari, dan kelembaban selama kurun waktu 10 tahun. Dengan menggunakan metoda Penman Montheith yang dikemas dalam Program Cropwat telah dilakukan perhitungan evapotranspirasi acuan (Eto) di seluruh propinsi di Indonesia (rata-rata 3 lokasi per propinsi). Hasil perhitungan evapotranspirasi dengan menggunakan program Cropwat ini berupa nilai rata-rata evapotranspirasi harian pada setiap bulan. Dari angka hasil perhitungan rata-rata harian untuk setiap bulan tersebut di rata-ratakan menjadi rata-rata harian dalam setahun. Untuk menghitung kebutuhan air dari berbagai jenis tanaman, nilai Eto tersebut dikalikan dengan faktor tanaman kc. Hasil perhitungan kebutuhan air khusus untuk tanaman Padi,Jagung, dan Kedele sebagai contoh pada tingkat pertumbuhan dengan menggunakan metoda Penman Monteith di Indonesia untuk, pase awal pertengahan dan akhir, bertuturut turut 4,4; 5,0; 4,2 (Padi); 2,9. 5,0; 1,5 – 2,5; (Jagung); 2,1; 4,8, 2,1 (Kedele). Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Pengelolaan Air Irigasi. 2014. Modul Pelatihan Pengelolaan Air Tingkat Usaha Tani, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta 43 halaman Hal 5-7. Sumber Gambar : www.pu.go.id/main/view/1782