Loading...

Kementan Perkuat Penyuluh : Juma AI hingga Drum Seeder Jadi Andalan

Kementan Perkuat Penyuluh : Juma AI hingga Drum Seeder Jadi Andalan

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat peran penyuluh pertanian dalam mengawal program strategis hingga ke tingkat lapangan. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kinerja, pemanfaatan teknologi digital, pengawalan bantuan pemerintah, hingga penerapan teknologi pertanian modern.

Hal tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Apel Pagi Penderasan Informasi yang digelar pada 7 September 2026. Kegiatan diikuti Kelsi lingkup Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan), Kelsi Pengelolaan Penyuluh dari 38 provinsi, Katimker penyuluhan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, serta penyuluh pertanian se-Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, penyuluh diminta meningkatkan kinerja dengan menyusun target secara bertahap, mulai dari bulanan, mingguan hingga harian. Koordinasi antara penyuluh, Koordinator Penyuluh (Korluh), Katimker dan Kelsi juga perlu diperkuat agar pelaksanaan program di lapangan berjalan lebih efektif.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu fokus penguatan penyuluhan. Juma AI terus didorong sebagai sarana pelaporan sekaligus penyedia data dan informasi kondisi pertanian di lapangan.

Penyuluh yang telah terdaftar diharapkan aktif menyampaikan laporan secara rutin dengan memastikan data yang diberikan benar, lengkap dan berkualitas. Data tersebut diharapkan dapat memperkuat informasi pertanian serta mendukung pengambilan kebijakan dan penyelesaian berbagai persoalan di lapangan.

Dorongan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menempatkan penyuluh sebagai salah satu unsur penting dalam keberhasilan pembangunan pertanian. Mentan menegaskan penyuluh memiliki peran langsung dalam mendampingi petani sekaligus memastikan inovasi dan program pemerintah dapat diterapkan secara optimal di lapangan.

Melalui Juma AI, peran tersebut diperkuat dengan data lapangan yang dapat dihimpun secara lebih sistematis. Karena itu, seluruh penyuluh diharapkan memperkuat pelaporan kegiatan dan informasi lapangan agar data yang terkumpul semakin lengkap dan dapat mendukung pengambilan kebijakan secara tepat.

Di sisi lain, penyuluh memiliki peran penting dalam memastikan berbagai program strategis pertanian berjalan hingga tingkat petani. Program tersebut antara lain LTT, LTT OPLAH, Cetak Sawah Rakyat, Brigade Pangan, penguatan kelompok tani, serta pengawalan pupuk bersubsidi.

Setiap permasalahan yang ditemukan di lapangan perlu segera diidentifikasi dan dicarikan solusi. Penyuluh juga didorong untuk memperkuat kelembagaan petani dengan mendorong petani yang belum tergabung dalam kelompok tani agar dapat mengakses program dan bantuan pemerintah secara lebih tertib.

Ketepatan sasaran juga menjadi perhatian dalam penyaluran bantuan pemerintah. Penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi faktual di lapangan. Pemerataan penerima perlu diperhatikan agar bantuan tidak berulang kepada kelompok yang sama, kecuali dalam kondisi tertentu seperti bencana.

Dalam proses tersebut, penyuluh diminta menjaga integritas. Bantuan pemerintah diberikan tanpa pungutan, tips maupun keuntungan pribadi. Pendampingan harus dilakukan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pengawalan pupuk bersubsidi juga menjadi bagian dari tugas penyuluh. Kesesuaian data petani, RDKK, luas lahan, komoditas dan identitas penerima harus dipastikan. Penyuluh juga berperan memantau ketersediaan dan ketepatan penyaluran pupuk di lapangan.

Sementara itu, penerapan PM-AAS (Pertanian Modern-Advanced Agricultural System) terus didorong sebagai bagian dari modernisasi pertanian. Penyuluh perlu memastikan penerapannya sesuai dengan kondisi wilayah, termasuk dalam pengolahan lahan, pengaturan air, penggunaan benih, jarak tanam, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Mentan Amran sebelumnya menegaskan PM-AAS menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. Hasil pengujian di sejumlah lokasi menunjukkan produktivitas yang sebelumnya berada di kisaran 5–5,5 ton per hektare dapat meningkat menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan 13 ton per hektare.

“Hasilnya sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan ada 13 ton per hektare,” ujar Mentan Amran.

Penerapan PM-AAS juga didukung penggunaan teknologi seperti Drum Seeder yang dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan mempercepat proses tanam. Praktik yang telah berhasil di suatu daerah perlu didokumentasikan dan direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan kondisi setempat.

Selain penguatan kinerja dan teknologi pertanian, penyuluh juga diminta meningkatkan kewaspadaan dalam penggunaan perangkat digital. Penggunaan telepon seluler, media sosial, tautan, aplikasi maupun rekening perlu dilakukan secara hati-hati untuk mencegah penyalahgunaan yang berkaitan dengan judi online.

Dengan penguatan penyuluh, pemanfaatan Juma AI, serta penerapan PM-AAS dan teknologi pertanian modern, Kementan mendorong penyuluhan pertanian semakin berbasis data dan teknologi. Langkah ini diharapkan mempercepat respons terhadap persoalan petani, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.