Kerugian tanaman ubikayu akibat infeksi penyakit busuk akar/umbi dapat berupa kehilangan hasil umbi akibat busuk, penurunan kualitas hasil/ produk yang berasal dari umbi maupun penurunan jumlah dan kualitas bahan tanam (stek). Di Indonesia data kehilangan hasil ubikayu akibat penyakit busuk akar/umbi tidak terdokumentasi dengan baik. Namun di lapang, pada varietas ubikayu yang rentan (varietas UJ-3), persentase tanaman yang terserang penyakit leles dapat mencapai 70-100% dan semua umbi yang dihasilkan menjadi busuk. Selain secara nyata mengakibatkan pengurangan hasil, penyakit busuk umbi juga berpengaruh terhadap kualitas hasil. Menurut Aigbe and Remison (2010a, b) penyakit busuk umbi secara nyata menurunkan partisi bahan kering ke umbi terutama pada varietas yang rentan. Pada klon TM-I1 yang rentan (kejadian umbi busuk 52,6% dan keparahan 21,3%) mempunyai partisi bahan kering 364 g ke umbi dibanding pada varirietas TMS 4(2) dan TMS 30572 yang tahan (kejadian umbi busuk masing-masing 0% dan 6,4%), mempunyai partisi bahan kering sebesar 804,1 g dan 667,0 g. Selain penurunan kadar pati, serangan penyakit umbi juga mengakibatkan warna, tekstur dan bau gari yang dihasilkan tidak disenangi oleh konsumen. Strategi pengendalian penyakit Cara pengendalian penyakit yang terbaik adalah dengan budidaya tanaman sehat, meliputi penggunaan varietas/klon ubikayu yang tahan atau toleran penyakit, pemilihan lokasi dan pengelolaan tanah dan tanaman yang baik. a. Varietas/klon ubikayu tahan Pemilihan klon tahan penyakit adalah cara pengendalian yang praktis, murah dan mudah diadopsi oleh petani. Beberapa klon ubikayu telah dievaluasi responnya terhadap penyakit busuk umbi Fusarium di Balitkabi Malang. Evaluasi ketahanan klon-klon ubikayu terhadap penyakit Fusarium hanyadilakukan terhadap beberapa klon, dari hasil penelitian di rumah kaca diketahuibahwa klon Darul Hidayah yang merupakan klon unggul berpotensi hasil tinggi,rentan terhadap penyakit layu Fusarium. Varietas UJ-5, Malang-4, Adira-4, Litbang UK-2, dan Darul Hidayah termasuk sangat tahan, sementara varietas Malang-6 bersifat peka dan UJ-3 sangat. Pemilihan lokasi Mengusahakan tanaman ubikayu pada lahan yang tidak/belum pernah terinfestasi oleh penyakit busuk akar/umbi adalah cara yang paling sederhana untuk menghindarkan tanaman ubikayu dari infeksi penyakit busuk umbi. Namun seringkali cara ini karena berbagai alasan sukar diterapkan di lapang. Tidak menanam ubikayu pada lahan yang diketahui sering kebanjiran atau terendam air juga dapat mengurangi kemungkinan terserang penyakit busuk umbi. Pada tanah yang sering terendam air, aerasi tanah menjadi jelek sehingga pertumbuhan dan perkembangan akar kurang sehat dan mudah terserang penyakit. Memberokan atau rotasi tanaman merupakan cara untuk mengendalikan penyakit busuk umbi pada ubikayu. Sistem budidaya tersebut bertujuan untuk menghindari pengulangan tanam ubikayu di lahan yang sama secara berurutan. Cara ini berguna untuk memutus siklus hidup patogen terutama yang endemik muncul pada suatu lokasi. b.Pengelolaan tanah Sisa-sisa tanaman sakit merupakan sumber utama pathogen bagi tanaman berikutnya. Oleh karena itu sanitasi lahan dengan cara mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan membakar setelah panen dapat mengurangi sumber inokulum jamur di lapang. Demikian juga mengusahakan drainase yang baik dapat mengurangi risiko serangan penyakit busuk akar/umbi (Homenauth dan De-Sauza, 2011). Meskipun ubikayu termasuk tanaman yang toleran pada lahan sub-optimal (kurang subur) subur, namun pada lahan demikian pertumbuhan tanaman tidak optimal dan umumnya lemah . Oleh karena itu peningkatan kesuburan lahan menggunakan pupuk an-organik atau pupuk organik diperlukan agar pertumbuhan tanaman tegar dan mempunyai daya tahan terhadap infeksi pathogen. Namun perlu diperhatikan agar tidak memberikan pupuk organik dan N secara berlebihan karena justru tanaman menjadi lebih rentan terhadap infeksi pathogen.Menurut Aigbe dan Remisson (2010) dengan kandungan bahan organik dan N masing-masing 2,3% dan 0,24% mengakibatkan intensitas serangan penyakit busuk akar/umbi 53%, jauh lebih tinggi dibanding pada tanah dengan kandungan bahan organik 0,6% dan 0,1% N. Pemupukan seimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah merupakan salah satu cara pengendalian penyakit busuk akar/umbi. c. Pengelolaan tanaman Menanam bahan tanam (stek) yang sehat, bebas infeksi pathogen merupakan langkah strategis untuk mengendalikan penyakit busuk akar/umbi. Apabila dikhawatirkan terdapat penyakit pada bahan tanam tersebut disarankan untuk memperlakukan stek tersebut dengan air hangat. Pengendalian kimiawi juga dapat diterapkan apabila kesulitan mendapatkan bahan tanam yang betul-betul sehat, misalnya dengan cara pencelupan stek dalam larutan fungisida benomil untuk mencegah serangan jamur-jamur tanah. Penyunting: Yulia Tri S Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: Nasir Saleh dan Muji Rahayu, Penyakit Leles Pada Tanaman Ubi Kayu: Penyebab dan Strategi Pengendaliannya, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI), Malang