KOMPOS DARI LIMBAH JERAMI PADI Tingkat kesuburan dan sifat fisik tanah mengalami penurunan, hal ini disebabkan kandungan bahan organik di dalam tanah yang sedikit demi sedikit mengalami penurunan baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Dampak dari hal tersebut sebaik apapun varietas padi yang ditanam, apabila tidak ditunjang oleh lingkungan tumbuh perakaran yang baik pertumbuhan tanaman tidak akan optimal. Hal ini disebabkan oleh eksploitasi lahan sawah secara intensif dan terus menerus dan telah berlangsung selama bertahun-tahunKeadaan struktur tanah semakin hari semakin berkurang, hal ini disebabkan karena pemakaian pupuk anorganik yang melebihi aturan. Pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan 2 cara : Ditumpuk dan dibalikkan atau ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan. Kemudian untuk mempercepat proses dekomposisinya dapat digunakan dekomposer. Pengomposan Jerami dengan Metode Tumpukan dan Pembalikkan. Bahan yang berupa jerami ( lebih yang masih segar atau jika sudah kering dilembabkan sampai kadar air 60 % ) ditaruh dalam bedengan secara berlapis, tiap lapis dengan ketinggian +30 cm, kemudian ditaburi dengan atau disiram larutan dekomposer. Tumpukan jerami dibuat berlapis-lapis dengan ketinggian 1-1,5 m. Jerami dalam bedengan ditutup rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikkan. Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air. Jika memungkinkan lebih baik pembuatan kompos dilakukan di tempat yang teduh. Setelah 3 minggu, kompos biasanya sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan 40-50 0C, remah,warna coklat kehitaman. Pengomposan Jerami dengan Metode Ventilasi tanpa Pembalikan Jerami segar digiling hingga berukuran 1-3 cm. Hasil gilingan jerami ditumpuk dalam lapisan setinggi 20 cm lebar 1 m dan panjang 1 m untuk volume bahan kompos sekitar 1m3 ( 500 kg ). Untuk menghindari jatuhnya tumpukan maka dibuatkan pagar bambu berukuran 1x1x1 m. Teknik aerasi pengomposan dengan cara ventilasi dibuat dengan cara menempatkan sarang bambu di dasar tumpukan jerami ( kurang lebih 30 cm di atas permukaan tanah ) agar aerasi bisa terjadi dari bawah menuju ke atas tumpukan. Teknik aerasi lain dapat dilakukan dengan cara membuat lubang – lubang pada tumpukan jerami secara horizontal menggunakan bambu atau paralon yang diberi lubang-lubang ke berbagai arah tumpukan jerami. Jerami ditumpuk secara longgar (jangan dipadatkan) untuk memperoleh aerasi yang baik. Kemudian ditambahkan dekomposer secara merata di atas tumpukan tersebut. Setelah itu tumpukkan lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan tersebut setinggi 20 cm, dan basahi dengan air secara merata serta diinokulasi dengan mikroba yang berasal dari dekomposer. Demikian seterusnya sampai hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m. Kompos ditutup dengan lembaran terpal/plastik untuk mempertahankan kelembaban dan meminimalkan evaporasi maupun kehilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya dalam waktu 24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada suhu sekitar 500C atau lebih dan tidak dilakukan pembalikan. Kompos yang sudah matang ditandai dengan temperatur yang sudah konstan 40-500C, remah dan berwarna coklat kehitaman. Kompos yang didapat sejumlah + 500 kg, dengan kualitas sebagai berikut : C-organik >12 %, C/N ratio 15-25 %, kadar air 40-50%, warna coklat muda kehitaman. Suhu semakin menurun mengikuti lamanya waktu pengomposan , dari sekitar 57,20C pada minggu pertama menjadi sekitar 39,10C setelah minggu keempat. Suhu yang dicapai selama proses pengomposan dipengaruhi oleh penyiapan bahan dan macam dekomposer yang digunakan. Sampai minggu kedua jerami yang dicacah ternyata menghasilkan suhu kompos lebih tinggi. Rendahnya suhu kompos dengan bahan dasar jerami yang dicacah ini mengindikasikan kematangan kompos yang dihasilkan. Di lain pihak, tingginya suhu pada awal pengomposan merupakan kondisi yang diharapkan untuk memacu segera berlangsungnya proses pengomposan. Cara pengomposan nyata mempengaruhi suhu jerami pada minggu ketiga, dimana dengan metode penumpukan dan pembalikan suhu masih lebih tinggi dibanding metode ventilasi tanpa pembalikan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pengomposan dapat dipercepat dengan memberikan cukup udara ke dalam tumpukan kompos jerami melalui ventilasi. Hasil pengamatan perubahan fisik jerami setelah pengomposan dipengaruhi oleh kondisi bahan kompos dan penggunaan bahan pelapuk (dekomposer) yang digunakan. Perubahan fisik jerami meskipun sudah mulai tampak sejak 1 minggu, tetapi baru pada 2 minggu berikutnya perubahan fisik tersebut terjadi. Selain karena penggunaan dekomposer, perubahan fisik jerami secara visual selama proses pengomposan juga dipengaruhi oleh cara pengomposan. Pemberian aerasi selama proses pengomposan diikuti oleh percepatan perubahan fisik menjadi lebih cepat melapuk. Jerami segar pada umumnya mempunyai nilai C/N rasio yang cukup tinggi, kemudian menurun seiring dengan tingkat pelapukannya. Oleh sebab itu tingkat C/N ratio sering dipergunakan untuk penilaian kematangan kompos yang dihasilkan selama proses pelapukan. Hasil pengomposan jerami menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengomposan C/N rasio semakin rendah. Jerami segar yang mula-mula mempunyai C/N rasio sekitar 51 setelah seminggu dikomposkan C/N rasio turun, dengan penurunan tingkat C/N rasio terendah sekitar 30. Namun demikian , pada kondisi ini kompos belum dapat dikatakan matang , sebab C/N rasio nya belum mencapai < 25 (Permentan No.02/2006). Ternyata kematangan kompos juga dapat dipercepat dengan membuat ventilasi tempat pengomposan. Udara bagian dalam dan di luar tumpukan kompos dihubungkan dengan paralon atau dibuat panggung . Melalui cara ini pada hari ke-19 kompos jerami sudah matang, terutama yang jeraminya dicacah dan diberikan dekomposer. Pengaruh kedua metode ini nyata terlihat dengan nilai C/N ratio yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Disusun Oleh : Dini Dwirestina, SP Penyuluh UPTD Pertanian Kuningan Sumber : Sinar Tani Edisi 22-28 Mei 2013 No 3508 Tahun XLIII