Tanah yang bagus untuk pertumbuhan adalah tanah yang mengandung banyak unsur hara yang dibutuhkan sebagai bahan makanan bagi tanaman. Unsur hara yang terdapat dalam tanah akan terus berkurang, karena setiap harinya di isap oleh tanaman yang berada di atasnya. Apabila tidak di imbangi dengan penambahan unsur hara maka unsur hara dalam tanah akan terus berkurang, sehingga tanah menjadi miskin hara. Untuk menjaga unsur hara tersebut biasanya dilakukan pemupukan. Pemupukan untuk memperkaya unsur hara dalam tanah terbagi menjadi dua macam jika ditinjau dari bahan baku pembuatannya. Yaitu pupuk organik dan pupuk non organik. Pupuk organik atau sering disebut dengan kompos adalah pupuk yang bahan baku pembuatannya berasal dari bahan-bahan organik seperti daun-daunan, batang, ranting yang melapuk, kulit buah-buahan dan/atau kotoran ternak. Adapun pupuk non-organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti Urea, ZA, TSP, SP-36, KCL. Beberapa keunggulan menggunakan kompos sebagai pupuk adalah: 1) Mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap; 2) Dapat memperbaiki struktur tanah; dan 3) Menggemburkan dan meningkatkan ketersediaan bahan organik di dalam tanahSalah satu cara untuk mengembalikan kesuburan tanah adalah dengan penggunaan pupuk organik. Unsur hara yang terserap oleh tanaman dari tahah melalui akar dapat dikembalikan lagi ke tanah melalui proses dekomposisi. Sebagai contoh pupuk organik yang dibuat dengan memanfaatkan kulit buah kakao. Teknologi proses kompos dari bahan dasar kulit buah kakao hampir sama dengan proses pembuatan kompos pada umumnya. Proses pembuatan kompos dengan bahan dasar kulit buah kakao dimulai dengan pencacahan bahan baku yang akan digunakan. Pencacahan dimaksudkan untuk memperkecil ukuran bahan. Cara pembuatan kompos tersebut pertama adalah:Kulit buah kakao yang sudah dicacah 60 bagian dicampur dengan daun-daunan seperti daun gamal/sisa pangkasan tanaman kakao 10 bagian, pulp (lendir kakao) 20 bagian, Sekam padi 5 bagian. Komposisi dan jenis bahan baku bisa disesuaikan tergantung dari ketersediaan bahan. Proses pengomposan dapat dilakukan didalam boks yang terbuat dari papan, bahan ditumpuk dengan tinggi tumpukan bahan sekitar 50-75 cm. Permukaan ditutup dengan terpal/plastik. Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap suhu, jika suhu terlalu tinggi dilakukan pembalikan, biasanya pembalikan dilakukan setiap hari selama 5 hari pertama proses pengomposan. Setelah proses pengomposan selesai, dilakukan pengeringan dengan cara diangin-anginkan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan proses pengomposan adalah ukuran partikel bahan baku yang digunakan semakin halus cacahan kulit kakao akan semakin cepat proses pengomposan berlangsung. Cara pembuatan kompos kedua adalahKulit buah kakao yang sudah dicacah dicampur dengan daun-daunan seperti daun gamal/sisa pangkasan tanaman kakao, ditambah air secukupnya lalu dicampur merata. Tambahkan Pupuk kandang dan dedak dicampur merata. Kemudian campuran pupuk kandang disiram oleh larutan EM4 secara perlahan hingga merata. Kandungan air yang terdapat didalam campuran tersebut berkisar antara 30-40%, hal ini bisa di ketahui jika campuran kompos tersebut tidak meneteskan air ketika kita gengam dan akan mekar apabila genggaman dilepaskan. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat juga dimasukkan ke dalam ember atau karung. Bila diletakkan dilantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya setinggi 15-20 cm, tetapi dapat juga hingga 1,5 m. Setelah itu tumpukan bahan ditutup dengan karung goni atau terpal.Suhu tumpukan dipertahankan antara 40-50 derajat celcius. Untuk mengontrolnya, setiap 5 jam sekali (minimal sehari sekali) suhunya di ukur. Apabila suhunya tinggi maka bahan tersebut dibalik, didiamkan sebentar agar suhu turun, lalu ditutup kembali, demikian seterusnya. Proses fermentasi ini berlangsung sekitar 4-7 hari. Setelah bahan menjadi kompos, karung goni dapat dibuka. Kompos ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas, dan tidak berbau. Dalam kondisi ini, kompos sudah bisa dipergunakan. Kompos dapat dipergunakan seperti pupuk kandang. Dosis yang umum digunakan yaitu 3-4 genggam kompos untuk satu meter persegi lahan. Selain itu, bisa juga kompos digunakan sebagai media tanam ketika melakukan pembibitan tanaman yang masih kecil. Sumber: Program Pemberdayaan dan Pengembangan Pertanian. (Program READ), Pusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP, 2014. (Shalimar Andaya nia)