Setiap wilayah memiliki kondisi yang spesifik, karena itu model yang terbentuk juga spesifik. Inilah Model Kawasan Rumah Pangan Lestari pada pekarangan Rumah Panggung Di Atas Perairan Danau Sentani di Kampung Ifale di Kabupaten Jayapura Papua. Semoga dapat memperkaya khasanah Kawasan Rumah Pangan Lestari Indonesia. Hal ini juga membuktikan bahwa bagaimanapun kondisi wilayah Kampung, Kawasan Rumah Pangan Lestari dapat tetap dapat ada untuk menyediakan pangan bergizi bagi keluarga Indonesia sebagaimana tujuan yang diharapkan.Kondisi wilayah yang spesifik tersebut, justru merupakan tantangan bagi BPTP Papua untuk mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kampung Ifale Pulau Ajau ini. Melalui pendekatan perdesaan partisipatif sebelum melaksanakan pendampingan, disimpulkan bahwa untuk membangun Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kampung Ifale Danau, perlu mempertimbangkan beberapa hal- hal yang menyangkut berbagai aspek, antara lain : Aspek biofisik kampung yaitu : (1) Ekologi kampung yang merupakan kawasan danau, berarti juga merupakan ekologi bagi ikan dan biota danau lainnya, danau juga digunakan penduduk untuk mandi dan tempat anak – anak bermain; (2) Pemukiman penduduk berada di sepanjang tepian danau dengan model rumah panggung. Dengan demikian “lahan pekarangan “ lantai papan; (3) Adapun lahan kering di sekitar rumah panggung kurang kondusif untuk pertanaman yaitu berbatu dan sebagian bertopografi miring; (4) Demi kesehatan masyarakat Kepala Kampung tidak memperkenankan ternak berkeliaran di sekitar Danau; (5) Terdapat potensial bahan organik berupa tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang danau) dan limbah panen sagu dari dusun sagu berupa ampas sagu dan pelepah pohon sagu. Strategi yang ditempuh dalam membantu masyarakat membangun Kawasan Rumah Pangan Lestari sesuai kondisi biofisik dan sosial adalah : Melibatkan tokoh – tokoh masyarakat dalam kegiatan membangun Kawasan Rumah Pangan Lestari Tim Penggerak PKK Kabupaten, Distrik dan Kampung, Kepala Kampung, Tokoh Adat dan Agama, Kepala Kampung dan Penyuluh Pendamping. Mereka sudah berpartisipasi sejak pelaksanaan PRA, sosialisasi program KRPL, mendisain Kawasan Rumah Pangan Lestari, hingga membantu kaum Ibu dalam menyediakan bahan – bahan lokal yang diperlukan seperti tanah yang subur dan pupuk kandang dari Kampung di wilayah darat, tumbuhan danau, ampas pemerasan sagu dan pelepah sagu.Mengintroduksi hanya teknologi yang dibutuhkan dan dapat dikembangkan petani merupakan strategi berikutnya, sebab masyarakat kurang antusias terhadap teknologi yang kurang dibutuhkan. Maka dikembangkanlah Teknologi : 1) Pembuatan Bokhasi dengan menggunakan Mikro organisme Efektif; 2) Pembuatan disain wadah yang sesuai; 3)Teknologi Produksi Benih Sayuran. Strategi lainnya adalah menawarkan solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi, namun memberi kebebasan kepada mayarakat untuk mengambil keputusan, misalnya : 1) Memfasilitasi pengangkutan media secara bertahap mengingat lokasi Kampung di seberang Danau Sentani dengan truk, angkutan perdesaan dan speed boat; 2) Memberdayakan anggota masyarakat yang mempunyai keahlian pertukangan dan memfasilitasi alat – alat yang belum dimiliki; Setiap tahapan kegiatan masyarakatlah yang melakukannya namun dengan pendampingan yang meliputi : 1). Pembuatan tempat pembibitan dan pesemaian dilakukan dengan membuat pesemaian berbentuk pondok semai sederhana dari kayu berukuran tinggi 2 meter, berbentuk kotak, beratap daun kelapa sebanyak 3 Unit. Tempat pesemaian menggunakan halaman gereja, atas kesepakatan warga Kampung dan dikerjakan bersama oleh masyarakat didampingi Tim KRPL; 2) Media pesemaian terdiri dari pupuk kandang bercampur serbuk gergaji dari kandang ternak dan tanah dengan perbandingan 1 : 1; 3) Cara pembibitan : Bibit dicampur dengan abu dapur. Media disiram terlebih dahulu, tabur bibit kemudian tutup dengan media yang halus. Siram media bila perlu; 4) Benih yang disemai : terong, tomat, cabai, seledri, sawi; 5) Pembuatan tempat penanaman dalam bentuk rak kayu dan bak kayu dari baik kayu matoa maupun batang sagu dan pelepah sagu. Tempat penanaman juga menggunakan polybag dan wadah bekas dan pot pelastik serta gantungan dari tali pelastik kreasi Ibu- Ibu PKK Kampung Ifale. Penataan disesuaikan dengan fungsi dan kondisi pekarangan. Penataan dilakukan di sekitar rumah warga dan di Pendopo Adat sebagai fasilitas umum yang digunakan seluruh penduduk Kampung. Penanaman bibit buncis dan mentimun langsung dalam polybag besar.Pendampingan dilakukan degan pendekataan berdasarkan sub kelompok tempat tinggal (dasa - wisma) sebagaimana yang dilakukan PKK Kampung. Strategi yang tak kalah pentingnya adalah menggugah masyarakat tanpa kata tapi dengan keragaan hasil yang nyata. Dalam filosofi penyuluhan dikenal : seeing is believing dan belajar dengan mengerjakan sendiri tepat dilakukan pada pendampingan terhadap masyarakat lokal Papua. Menerapkan filosofi tersebut dengan cara : beberapa ‘orang kunci’ yang berpengaruh dalam masyarakat terlebih dulu menerapkan anjuran sehingga keragaannya dapat diamati oleh anggota kelompok bahkan anggota masyarakat lainnya. Cara ini cukup efektif untuk menggugah minat dan kesadaran sehingga akhirnya seluruh keluarga berperan dalam mengembangkan kawasan rumah pangan lestari.Hasilnya sebagian besar keluarga telah menjadikan Kampung Ifale sebagai kawasan penghasil sayuran, terutama untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau menjual kepada anggota mayarakat di Kampung yang bukan anggota kelompok. Ekologi danau menjadi bersih karena eceng gondok digunakan sebagai pupuk organik. Penerapan budidaya sayuran organik mencegah pencemaran ekologi danau. Sekarang ibu – ibu tak perlu lagi menyebarangi Danau untuk sekedar memperoleh seikat sayur bagi kebutuhan keluarga sehari-hari, karena sudah tersedia di sekitar rumah, di atas rumah panggung air, di lereng-lereng, bahkan pada lahan berbatu di Kampung. Pemandangan Kampung menjadi asri dan hijau karena setiap rumah berupaya membuat hal yang sama. Kini keluarga di Kampung Ifale Danau dapat menikmati menu lengkap papeda, kuah ikan danau dan sayuran segar setiap hari.Terbukti, kondisi lingkungan yang kurang mendukung untuk mengusahakan tanaman bukanlah menjadi penghalang untuk mewujudkan kawasan rumah pangan lestari. Yang diperlukan adalah kerja keras, kemauan dan kerjasama dalam kelompok serta tidak serta merta meninggalkan anggota yang belum mau berpartisipasi atau menerapkan. Berilah contoh tanpa kata akan lebih efektif, sejalan dengan filosofi Penyuluhan : Seeing is believing Penulis : Sri Rahayu D. Sihombing (Penyuluh Pertanian BPTP)