Rendemen secara umum didefinisikan sebagai persen jumlah yang dapat dimanfaatkan dari jumlah keseluruhan. Rendemen kelapa sawit menunjukkan berapa kandungan minyak sawit yang berada didalam buah sawit atau TBS. Agar jumlah rendemen dalam kelapa sawit tidak berkurang maka harus dilakukan usaha untuk menjaga agar kualitas rendemen tetap tinggi dengan memperhatikan saat TBS sebelum dipanen, pengangkutan TBS ke pabrik, penimbangan TBS dan Pabrikasi (pengolahan TBS di pabrik). Proses pemanenan kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan dan mengangkut buah ke tempat penampungan hasil (TPH) serta ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan tidak dilakukan secara sembarang. Perlu memperhatikam beberapa kriteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas minyak yang baik. Kriteria panen yang harus diperhatikan adalah matang panen, cara panen, alat panen, rotasi panen, sistem panen serta mutu panen. Matang Panen Matang Panen kelapa sawit dapat dilihat secara visual dan secara fisiologi. Secara visual dapat dilihat dari perubahan warna kulit buah menjadi merah jingga, sedangkan secara fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang maksimal dan kandungan asam lemak bebas yang minimal. Pada saat matang tersebut dicirikan pula oleh membrondolnya buah. Jumlah brondolan buah inilah yang dijadikan dasar untuk memanen tandan buah. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Cara Panen Pekebun melakukan pemanenan kelapa sawit dengan 2 cara yaitu untuk tanaman yang berumur < 7 tahun cara panen menggunakan alat dodos dengan lebar 10-12,5 cm dengan gagang pipa besi atau tongkat kayu. Sedangkan tanaman yang berumur 7 tahun atau lebih pemanenan menggunakan egrek yang disambung dengan pipa alumunium atau batang bambu. Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan. Tandan buah yang matang dipotong sedekat mungkin dengan pangkalnya, maksimal 2 cm. Tandan buah yang telah dipotong diletakkan teratur dipiringan dan brondolan dikumpulkan terpisah dari tandan. Brondolan harus bersih dan tidak tercampur tanah atau kotoran lain. Selanjutnya tandan dan brondolan dikumpulkan di TPH. Rotasi Panen Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya pada tempat yang sama. Perkebuanan kelapa sawit pada umumnya menggunakan rotasi panen 7 hari, artinya satu areal panen harus dimasuki oleh pemanen tiap 7 hari. Rotasi panen diangap baik bila buah tidak terlalu matang, yaitu menggunakan sistem 5/7. artinya dalam satu minggu terdapat 5 hari panen dan masing-masing ancak panen diulang 7 hari berikutnya. Pemanenan dilakukan terus menerus sepanjang tahun. Sistem Panen Dikenal dua sistem ancak panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap. Sistem Giring dilakukan apabila suatu ancak telah selesai dipanen kemudian pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor, dan begitu seterusnya. Sistem ini memudahkan pengawasan pekerjaan pemanenan dan hasil panen lebih cepat sampai ke TPH dan pabrik. Namun ada kecenderungan pemanen akan memilih buah yang mudah dipanen sehingga ada tandan buah atau brondolan yang tertingal karena pemanenannya menggunakan sistem borongan. Sistem Tetap sangat baik diterapakan pada areal perkebunan yang sempit, topografi terbuka atau curam, dan dengan tahun tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanenan dilakukan pada ancak dengan luas tertentu dan tidak berpindah-pindah. Sistem ini menjamin diperolehnya TBS dengan kematangan yang optimal sehingga rendemen minyak yang dihasilkan tinggi. Namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar sehingga lambat pula sampai ke pabrik. Kerapatan Panen Kerapatan panen adalah kerapatan pohon matang panen di dalam suatu areal untuk mendapatkan satu tandan yang matang panen. Sebagai contoh, kerapatan panen 1:5, artinya setiap 5 pohon akan ditemukan minimal 1 tandan yang matang panen. Agar lebih akurat di dalam penentuan kerapatan panen, dapat ditentukan 1 hari sebelum panen buah. Perhitungan dilakukan khususnya pada areal yang keesokanya akan dipanen. Mutu Panen Mutu panen sangat ditentukan oleh kematangan buah dan tingkat kecepatan pengangkutan buah ke pabrik. Kematangan buah akan mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) dan mempengaruhi kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Sebisa mungkin pemanenan dilakukan pada kematangan yang optimal. Hal ini dikarenakan apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung ALB dalam presentase tinggi (lebih dari 5%) yang akan mengurangi kualitas minyak yang dihasilkan. Tetapi apabila pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, selain kadar ALB-nya rendah rendemen minyak yang diperoleh juga rendah. Hal lain yang mempengaruhi mutu panen dan kualitas minyak kelapa sawit adalah adanya fraksi TBS. Fraksi TBS adalah prosentase buah sawit luar yang memberondol yang menentukan tingkat kematangan TBS. Berdasarkan fraksi TBS tersebut, derajat kematangan yang baik adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada pada fraksi 1,2, dan 3. Secara ideal, dengan mengikuti ketentuan dan kriteria matang panen dan terkumpulnya brondolan, serta pengangkutan yang lancar maka dalam suatu pemanenan akan diperoleh komposisi fraksi tandan yang terdiri atas jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya, tandan yang terdiri dari fraksi 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan, tandan yang terdiri dari fraksi 1 maksimal 20% dari jumlah tandan dan tandan yang terdiri dari fraksi 4 dan 5 maksimal 15% dari jumlah tandan. Untuk menjaga mutu panen tetap terjamin, pengangkutan TBS ke pabrik harus segera dilakukan. Hal ini karena TBS yang telah di panen tersebut harus di olah maksimal 8 jam setelah panen untuk menghindari kerusakan buah. Sedangkan untuk pengangkutan, pemilihan alat angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah. Alat angkut yang dapat di antaranya lori, traktor gandengan, atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkutan lain. Guncangan selama perjalanan lebih banyak terjadi jika menggunakan truk atau traktor gandengan sehingga pelukaan pada buah lebih banyak. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : dari berbagai sumber referensi