Loading...

KUNJUNGAN BINTEK SALIBU

KUNJUNGAN BINTEK SALIBU
Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertanhut) Kabupaten Pemalang tanggal 23 sampai 24 September 2016 membawa rombongan penyuluh, petani, Mantra Tani, Kepala Desa dan Babinsa sebanyak 50 orang melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (bintek) dan kunjungan studi banding ke Kabupaten Ngawi. Rombongan yang dipimipin langsung oleh kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang Suharto SIP, M.Si dimaksudkan untuk mengetahui dan meyakinkan para pendamping dan pelaksanaan dilapangan bahwa teknologi salibu mampu menjawab peningkatan produksi dan produktifitas tanaman padi.Pada kegiatan kunjungan bintek dan studi banding diterima oleh Ir. Marsudi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhot) Kabupaten Ngawi. Dalam sambutan penerimaan tersebut disampaikan bahwa Kabupaten ngawi dengan luas lahan sawah sekitar 52 ribu ha merupakan lahan dengan pengairan teknis, setengah teknis dan tadah hujan. Sehubungan dengan adanya anomaly ilim saat ini pola tanam yang menjadi padi-padi-poliwijo atau padi-padi-bero menjadi padi-pari-pantun sehingga saat ini dari tarjet luat tanam sekitar 154 ribu hektar sudah tercapai 90% atau sekitar 132 ribu ha. Pencapaian luas areal sebesar itu didukung adanya ketersedian air dan juga sebagaian kecil ditunjang adanya teknologi salibu.Pada kesempatan tersebut disampaikan pula bahwa teknologi salibu pada tahun ini merupakan tahun kedua peberapan teknologi tersebut. Pada tahun pertama teknologi ini diperkenalkan oleh peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatra Barat, langsung diikuti penerapannnya oleh para petani dengan luas 70 an ha. Alhamdulillah nampaknya dirasa cukup baik dan menguntungkan sehingga petani sekarang tidak usah disuruh dan difasiltasi sudah pada menerapkan teknologi tersebut.Setelah kegiatan penerimaan secara resmi dilakukan dan penjelasan mengenai teknologi salibu keesokan harinya melakukan ubinan pada kelompok tani Widodo Desa Randusongo Kecamatan Gerih Kabupaten Ngawi. Varietas pertiwi yang ditanam menghasilkan ubinan sebanyak 4,8 Kg atau 7,68 ton per ha. Sementara itu Harno selaku petani pelaksana mengatakan "ini sebenarnya saya belum optimal dalam merawat tanaman, karena niatan saya semula hanya ingin mengetahui hasilnya dibanding kalau ditanami jagung bagus yang mana. Bisanya disini pada musim kemarau seperti ini tidak ada tanaman atau bero karena sulit air tapi karena saat ini banyak hujan, maka saya gunakan teknologi salibu. Jadi ini saya sudah menggunakan teknologi salibu ke kedua kalinya secara berturutan hasilnya cukup memuaskan dan yang penting saya ada penghematan biaya sehingga dengan hasil sebanyak itu saya sudah bersyukur " jelasnya dengan semangat.Kastam selaku kasi sumber daya alam pada Distanhot Kabupaten Ngawi menjelaskan bahwa keberhasilan Kabupaten Ngawi dalam menerapkan teknologi salibu merupakan hasil dari dukungan dan pendampingan dari semua pihah seperti penyuluh, babinsa dan perangkat desa dan otomatis kebijakan dari pemeintah. Semua stakeholder bekerjasama dan komitmen mendukung upaya peningkatan provitas tanaman padi termasuk salah satunya penerapan teknologi salibu. Selanjutnya disampaikan bahwa teknologi salibu ini sangat mudah dan menguntungkan bagi petani. Coba bayangkan tidak menguntungkan bagaimana, belum panen saja sudah menghemat biaya sekitar 5 juta rupiah. nilai rupiah sebesar itu diperoleh dari penghematan biata pengolahan sawah mulai membajak sampai pembuatan senderan, bibit dan tanam. Kunci keberhasilan untuk melaksankan teknologi ini ada 3 (tiga) yaitu : 1) Panen tidak boleh terlalu tua atau pada saat bobot songgo 2) pemangkasan dari pangkal batang settinggi 3 jari orang dewasa atau antara 3 centi meter dari pangkal batang 3) pada saat memotong bila menggunakan mesin potong harus tajam karena kalau tidak tajambatang padi akan pecah dan terjadi pembusukan.Setelah puas melihat ubinan rombongan melanjutkan kunjungan ke P4S Ratu Agung yang mengelola beras organik beserta pendukungnya. P4S Ratu Agung juga memiliki peternakan sapi dan RMU. Beras organic yang dihasilkan telah dipasarkan dikota Ngawi dan sekitarnya termasuk Surabaya dan Jakarta.Kegiatan Bintek dan kunjungan studi banding memberikan kesan yang mendalam bagi peserta utamanya teknologi salibu yang hemat biaya dan menguntungkan. Teknologi patut ditiru dan diterapkan dalam rangka ikut mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Setelah mendapatkan penjelasan yang panjang lebar, sekitar jam 12.30 WIB rombongan berpamitan dan kembali menuju ke kota Pemalang. Penulis : Nurul Ashar ( PP Madya pada KJF Dipertanhut Kab. Pemalang)